Gotrade News - Harga emas spot bangkit dari level terendah sejak Maret, terdorong harapan gencatan senjata Israel-Iran. Logam mulia naik 0,33% ke USD4.343,03 per ons pada Senin (8/6/2026) setelah sempat tertekan.
Pemulihan ini menandai pergeseran sentimen safe-haven setelah Presiden Donald Trump menyebut kedua negara mengupayakan perdamaian. Namun data tenaga kerja AS yang kuat menahan laju kenaikan karena ekspektasi suku bunga The Fed ikut naik.
Key Takeaways
Emas spot naik 0,33% ke USD4.343,03 per ons setelah sentuh terendah USD4.268,39 sejak 23 Maret.
Harapan gencatan senjata Israel-Iran menjadi pendorong utama pemulihan harga emas.
Data tenaga kerja AS yang kuat dan agenda inflasi CPI menahan potensi kenaikan lanjutan.
Menurut Liputan6, emas spot ditutup naik 0,33% ke USD4.343,03 per ons pada Senin. Sebelumnya harga sempat menyentuh titik terendah sejak 23 Maret di USD4.268,39 per ons.
Kontrak berjangka emas Agustus naik tipis 0,05% ke USD4.367,30 per ons pada perdagangan yang sama. Perak spot menguat 1% ke USD68,52 per ons, sementara platinum dan paladium masing-masing turun 1,3%.
Pendorong utama pemulihan datang dari pernyataan Presiden Donald Trump soal upaya gencatan senjata Israel-Iran. Pergeseran sentimen geopolitik ini mengangkat emas dari titik terendahnya pada awal sesi perdagangan.
Faktor Penahan Kenaikan
Kenaikan emas tertahan oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Kondisi ini mendorong ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga lebih lama, menekan daya tarik emas tanpa imbal hasil.
Pelaku pasar kini menanti data inflasi konsumen AS (CPI) Mei yang rilis Rabu pekan ini. Data produsen (PPI) menyusul pada Kamis, keduanya menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga ke depan.
Menurut IDX Channel, emas spot ditutup nyaris datar di USD4.330,06 per ons pada Senin. Prospek gencatan senjata menopang harga meski data ketenagakerjaan AS membatasi penguatan.
Trump menyebut Israel dan Iran sama-sama menginginkan gencatan senjata segera. Negosiasi damai final disebut tengah berjalan, memberikan optimisme baru bagi pasar komoditas.
Peter Grant, Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menilai emas pulih dari level terendah semata karena kabar potensi gencatan senjata Iran-Israel. Sentimen geopolitik tetap menjadi penggerak harga jangka pendek.
Bagi investor yang ingin eksposur ke logam mulia, instrumen seperti VanEck Gold Miners ETF (GDX) menjadi pilihan menarik. ETF ini memberikan akses ke kinerja sekeranjang perusahaan tambang emas global sekaligus.
Saham penambang besar seperti Newmont (NEM) turut mencerminkan pergerakan harga emas secara langsung. Kinerja perusahaan tambang biasanya bergerak lebih volatil dibanding harga emas fisik itu sendiri.
Mending Jual atau Beli
Melansir Bloomberg Technoz, emas spot ditutup di USD4.317,90 per ons pada 8 Juni, level termurah sepanjang 2026. Koreksi selama dua hari beruntun mencapai 3,51%.
Harga minyak Brent naik 1,21% ke USD94,22 per barel sehingga biaya energi tetap tinggi. Kondisi ini menjaga fokus bank sentral pada inflasi dan membuat pemangkasan suku bunga jangka pendek kurang mungkin.
Han Tan, Chief Market Analyst di Bybit, menilai emas berpotensi menguji support psikologis USD4.000. Skenario itu mungkin terjadi jika data inflasi AS mengejutkan dengan angka lebih tinggi dari perkiraan.
Investor yang ingin alternatif logam mulia dapat melirik perak melalui iShares Silver Trust (SLV). Perak menjadi satu-satunya logam yang menguat 1% di tengah koreksi emas pada sesi Senin.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.