Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak ke atas USD 112 per barel pada perdagangan Senin, 19 Mei 2026. Lonjakan dipicu krisis pasokan Eropa dan ketegangan Trump-Iran yang menekan sentimen pasar energi global.
Kombinasi dua katalis ini memperkuat ekspektasi defisit pasokan menjelang akhir Mei. Pasar saham energi global ikut terangkat, dengan investor memburu emiten produsen minyak besar.
Key Takeaways
- Harga minyak bertahan di atas USD 112 per barel pada perdagangan 19 Mei 2026.
- Eropa diprediksi menghadapi krisis pasokan minyak menjelang akhir Mei.
- Penundaan serangan Trump ke Iran tidak menahan laju kenaikan harga energi.
Menurut Liputan6, harga minyak Brent stabil di kisaran USD 112 per barel. Patokan West Texas Intermediate juga bergerak di level tinggi mengikuti tren global.
Reli ini memperpanjang penguatan beruntun sejak awal pekan lalu. Investor merespons kombinasi risiko geopolitik dan gangguan pasokan yang belum mereda.
Krisis Pasokan Eropa Membayangi Pasar
Dilansir Kompas, Eropa diprediksi menghadapi krisis minyak pada akhir Mei. Stok cadangan strategis benua biru menipis akibat gangguan distribusi dari Laut Hitam.
Sejumlah kilang utama di Jerman dan Belanda melaporkan penurunan utilisasi sejak awal bulan. Kondisi ini memicu kekhawatiran lonjakan harga bahan bakar di musim panas.
Analis menilai cadangan strategis Uni Eropa kini berada di level terendah sejak 2022. Pemerintah negara anggota mempertimbangkan koordinasi pelepasan cadangan darurat.
Permintaan industri yang menguat memperburuk ketidakseimbangan pasokan regional. Importir terpaksa mencari pasokan alternatif dari Timur Tengah dengan biaya logistik lebih tinggi.
Ketegangan Trump-Iran Menjaga Premi Risiko
Melansir Kabar Bursa, Presiden Donald Trump menunda rencana serangan ke fasilitas nuklir Iran. Namun harga minyak tetap melonjak karena pasar belum yakin de-eskalasi akan bertahan.
Trader memperhitungkan kemungkinan gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya.
Saham produsen minyak besar AS ikut terdorong oleh sentimen ini. Investor memburu Exxon Mobil (XOM) sebagai eksposur utama terhadap kenaikan harga energi.
Emiten lain seperti Chevron (CVX) juga mencatat penguatan signifikan dalam sepekan terakhir. Margin kilang yang membaik menjadi pendorong utama optimisme analis.
Sementara ConocoPhillips (COP) diuntungkan oleh eksposur produksi shale domestik yang fleksibel. Perusahaan dinilai mampu meningkatkan produksi jika harga bertahan di atas USD 100 per barel.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent rata-rata kuartal kedua menjadi USD 108 per barel. Revisi ini mencerminkan ekspektasi defisit pasokan yang berlanjut hingga akhir musim panas.
OPEC+ belum mengindikasikan perubahan kebijakan produksi pada pertemuan berikutnya. Sikap menahan diri ini turut memperkuat ekspektasi harga tinggi dalam jangka pendek.












