Gotrade News - IHSG anjlok 3,76 persen ke level 6.470,348 pada penutupan sesi I perdagangan Senin (18/5/2026). Indeks lolos dari ambang trading halt meski tekanan jual menyapu hampir seluruh sektor.
Pemicunya adalah keputusan MSCI dan FTSE Russell yang mencoret sederet saham Indonesia dari indeks global mereka. Investor asing tercatat melakukan net sell senilai Rp 1,35 triliun sepanjang sesi I.
Key Takeaways
- IHSG turun 252,97 poin atau 3,76 persen ke 6.470,348 pada sesi I, lolos trading halt.
- MSCI menghapus enam saham Indonesia termasuk TPIA, AMMN, dan BREN dari Global Standard Indexes.
- Saham komoditas TPIA anjlok 14,88 persen, INCO turun 10,64 persen, dan ANTM melemah 10 persen.
Menurut Kompas, indeks turun 252,971 poin dari penutupan sebelumnya. Sektor barang baku menjadi pemberat terdalam dengan koreksi 8,14 persen.
LQ45 turut melemah 3,06 persen, Jakarta Islamic Index merosot 4,21 persen, dan KOMPAS100 turun 3,88 persen. Sektor transportasi dan logistik anjlok 6,11 persen mengikuti pelemahan basic materials.
Efek Penghapusan dari Indeks Global
Dilansir Kompas, MSCI menghapus enam saham dari Global Standard Indexes. Saham tersebut adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT efektif 1 Juni 2026.
Selain itu, 13 saham Indonesia juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes pada periode rebalancing yang sama. FTSE Russell turut menyoroti saham dengan high shareholding concentration sebagai risiko tambahan.
Penghapusan ini memaksa dana indeks pasif melakukan force selling pada saham terdampak. Tekanan jual pasif inilah yang menjelaskan kedalaman koreksi saham komoditas dan konglomerat.
Komoditas dan Konglomerat Tertekan
Melansir Katadata, TPIA anjlok 14,88 persen dan menjadi pemberat utama. INCO terkoreksi 10,64 persen sementara ANTM melemah 10 persen pada sesi I.
DSSA tercatat turun 14,98 persen menyusul keputusan MSCI yang mengeluarkannya dari Global Standard Indexes. Saham GIAA di sektor transportasi ikut melemah 3,12 persen mengikuti sentimen sektoral.
Total 682 saham terkoreksi melawan hanya 84 saham menguat pada sesi I. Nilai transaksi mencapai Rp 11,96 triliun dengan 21,55 miliar saham berpindah tangan.
Analis Mirae Asset Securities menyebut tekanan jual asing dan ketegangan geopolitik global memperberat sentimen. IHSG kini terkoreksi 25,17 persen sepanjang tahun dan menjadi indeks terburuk di Asia.
Bagi investor global, dampaknya terasa di ETF Indonesia seperti iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO). Penghapusan saham besar dari MSCI memicu rebalancing pada produk ETF pasif yang menjejak indeks tersebut.
ETF emerging markets berbasis FTSE seperti Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) juga terdampak melalui pengurangan bobot Indonesia. Dana pasif yang menjejak FTSE wajib menjual saham terdampak sesuai metodologi indeks.
Pasar Asia lain ikut melemah dengan iShares China Large-Cap ETF (FXI) menjadi acuan sentimen regional. Nikkei turun 0,62 persen dan Hang Seng melemah 1,35 persen pada sesi yang sama.
Investor jangka panjang dapat memantau periode rebalancing efektif 1 Juni 2026 sebagai titik balik utama tekanan jual pasif. Setelah eksekusi rebalancing tuntas, beban force selling berkurang signifikan dan pemulihan teknikal jangka pendek berpotensi muncul.












