Gotrade News - Sinyal de-eskalasi konflik Iran-AS muncul jelang kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing. Pasar Asia bersiap menyambut perubahan arah geopolitik dengan harga minyak masih tertekan tinggi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu China Wang Yi di Beijing pada Rabu (06/05). Pertemuan itu berlangsung beberapa hari sebelum pertemuan puncak Trump-Xi pada 14-15 Mei 2026.
Key Takeaways:
- Inflasi Filipina lompat ke 7,2% pada April, dipicu lonjakan harga minyak global
- Ekspor minyak AS pecahkan rekor 5,2 juta barel per hari, naik lebih dari 30%
- Pertemuan Iran-China di Beijing perkuat sinyal de-eskalasi sebelum Trump-Xi summit
China kini menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran, menjadikan Beijing kunci kalkulasi geopolitik. Bloomberg melaporkan kedua menteri sudah melakukan minimal tiga panggilan telepon selama sembilan minggu konflik berlangsung.
Tekanan minyak global belum mereda meski sinyal damai mulai muncul. Harga minyak mentah selama April 2026 bergerak di kisaran US$101,06 hingga US$114,01 per barel menurut Bloomberg Technoz.
Inflasi di kawasan Asia langsung terdampak lonjakan harga energi. Filipina mencatat inflasi April 7,2% secara tahunan, naik tajam dari 4,1% pada Maret.
Angka itu jauh di atas perkiraan ekonom yang sebesar 5,5%. Harga pangan Filipina melompat ke 6,1% dari 2,7% pada bulan sebelumnya.
Inflasi beras bahkan menembus 13,7% tahunan, sementara biaya transportasi terbang ke 21% dari 9,9%. Inflasi inti ikut melebar ke 3,9%, menandakan tekanan harga sudah merata.
"Kawasan Asia, yang sebagian besar masih bergantung pada impor energi, jadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap guncangan harga minyak," tulis redaksi Bloomberg Technoz. Tekanan ini berpotensi memaksa bank sentral kawasan menahan pelonggaran moneter lebih lama.
Di sisi pasokan, ekspor minyak Amerika Serikat memecahkan rekor karena Asia mengalihkan pembelian. Data Liputan6 menunjukkan ekspor AS April 2026 menyentuh 5,2 juta barel per hari, naik dari 3,9 juta bpd pada Februari.
Pelabuhan Corpus Christi mencatat lebih dari 240 kapal tanker pada Maret. Angka itu jauh di atas rata-rata bulanan 200 kapal sebelum konflik pecah.
Kepala Pelabuhan Corpus Christi Kent Britton menyatakan ekspor minyak telah meningkat sekitar 2,5 juta barel per hari sejak perang dimulai. Lonjakan itu sebagian besar didorong permintaan dari pembeli Asia yang mencari alternatif pasokan.
Namun Kpler memperingatkan minyak AS bukan substitusi sempurna untuk minyak Timur Tengah. "Ini adalah lubang yang tidak dapat ditutup," kata Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith merujuk celah pasokan struktural.
Bagi pasar Asia termasuk Indonesia, kombinasi de-eskalasi dan inflasi tinggi menciptakan ketidakpastian arah harga. Pelaku pasar menunggu konfirmasi lanjutan dari pertemuan Trump-Xi sebelum mengambil posisi besar.





