JARR Bantah Terlibat Akuisisi 30% Saham BYAN Haji Isam

Key Takeaways
JARR menyatakan tidak terlibat dan tidak mendanai akuisisi 30% saham BYAN oleh Jhonlin Baratama.
Low Tuck Kwong dan Elaine Low meneken perjanjian jual beli bersyarat atas 10.000.000.500 saham BYAN pada 16 September 2026.
Nilai transaksi belum diungkapkan dan penyelesaiannya masih bergantung pada pemenuhan persyaratan pendahuluan.
Gotrade News - PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menegaskan tidak terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam rencana akuisisi 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh PT Jhonlin Baratama. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 24 September 2026, seperti dilaporkan Katadata, JARR juga menyatakan tidak menyediakan pendanaan, pinjaman, maupun fasilitas pembiayaan untuk transaksi tersebut.
Penegasan ini penting karena JARR dan Jhonlin Baratama berada di bawah pengendali akhir yang sama, yaitu Samsudin Andi Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam. Hubungan kepemilikan itu membuat nama JARR sempat dikaitkan dengan aksi korporasi di emiten batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong tersebut.
JARR Tegaskan Tak Danai Akuisisi BYAN
Direktur Utama JARR Indra Irawan menjelaskan bahwa perseroan dan Jhonlin Baratama merupakan entitas yang berada di bawah pengendalian pemegang manfaat akhir (UBO) yang sama. Meski demikian, dilansir Katadata, manajemen JARR menegaskan rencana akuisisi tersebut tidak akan berdampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, maupun arus kas perseroan.
Indra juga menyebut seluruh jajaran manajemen JARR menjalankan perseroan secara independen dengan mengacu pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Artinya, menurut penjelasan manajemen, transaksi BYAN sepenuhnya berjalan di level Jhonlin Baratama, bukan di tubuh emiten agribisnis tersebut.
Detail Transaksi 30% Saham BYAN
Rencana akuisisi 30% saham Bayan (BYAN) oleh Haji Isam berawal dari Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat yang diteken pada 16 September 2026. Melansir CNBC Indonesia, perjanjian itu mencakup pengalihan 10.000.000.500 saham biasa BYAN dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low kepada Jhonlin Baratama, setara sekitar 30% dari total saham beredar. Penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan.
Sebelum transaksi, Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, secara kolektif menggenggam sekitar 62,25% saham BYAN, masing-masing 40,25% dan 22%, menurut Katadata. Manajemen BYAN tidak mengungkapkan nilai transaksi maupun harga per saham dalam keterbukaan informasinya.
Sebagai gambaran, saham BYAN ditutup di level Rp11.525 pada 17 September 2026, naik 1,54%, sehingga nilai pasar 10 miliar saham tersebut sekitar Rp115,25 triliun. CNBC Indonesia menegaskan angka itu merupakan perhitungan berdasarkan harga pasar, bukan nilai transaksi yang telah diumumkan para pihak.
Keterangan | Detail |
|---|---|
Penjual | Low Tuck Kwong dan Elaine Low |
Pembeli | PT Jhonlin Baratama |
Jumlah saham | 10.000.000.500 saham (sekitar 30%) |
Tanggal perjanjian | 16 September 2026 (bersyarat) |
Nilai transaksi | Tidak diungkapkan |
Harga penutupan BYAN (17 September 2026) | Rp11.525 per saham |
Analis: Dampak ke JARR dan PGUN Tidak Langsung
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai dampak akuisisi terhadap emiten Haji Isam di BEI, seperti JARR dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), tidak bisa langsung dihitung sebagai kenaikan pendapatan atau laba. Menurut Katadata, Nafan melihat dampaknya lebih bersifat tidak langsung, melalui penguatan ekosistem usaha, diversifikasi sumber pendapatan grup, serta potensi sinergi logistik, energi, dan komoditas.
"Saham BYAN dibeli melalui Jhonlin Baratama dan tidak berarti operasional BYAN otomatis dikonsolidasikan ke JARR," ujar Nafan, dikutip dari Katadata.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














