Gotrade News - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen dalam Nota Keuangan APBN 2027 di DPR. Pemerintah memasang asumsi nilai tukar rupiah pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS sepanjang tahun.
Target dipasang di tengah rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah Rp17.733 per dolar AS pada 19 Mei 2026. Pidato ini langsung menggoyang pasar obligasi domestik dan instrumen safe-haven seperti US Treasury.
Key Takeaways
- Pertumbuhan ekonomi 2027 dipatok 6,5 persen, lebih tinggi dari proyeksi BI untuk 2026 sebesar 5,7 persen.
- Asumsi rupiah APBN 2027 berada di Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, mencerminkan tekanan kurs yang masih berlanjut.
- Inflasi dijaga di rentang 1,5-3,5 persen, tanpa tambahan jenis pajak baru menurut Menkeu Purbaya.
Target APBN 2027
Menurut Kompas, APBN 2027 dirancang untuk mendorong ekonomi tumbuh lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Target 6,5 persen menjadi salah satu yang paling ambisius dalam satu dekade terakhir.
Dilansir Bloomberg Technoz, asumsi makro dirancang di tengah tekanan rupiah yang menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Pemerintah juga memproyeksikan inflasi terjaga di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan target 6,5 persen realistis melalui akselerasi belanja produktif dan reformasi penerimaan. Pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi dan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama.
Purbaya juga memastikan tidak ada tambahan jenis pajak baru pada 2027 untuk menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah lebih memilih memperluas basis pajak ketimbang menaikkan tarif yang menekan konsumsi.
Implikasi ke Rupiah dan Pasar Saham AS
Melansir Bloomberg Technoz, pidato Prabowo memicu kalkulasi ulang yield obligasi negara di tengah selisih yield yang menipis dengan US Treasury. Investor mencermati ruang Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,25 persen.
Tekanan rupiah yang masih berlanjut membuat investor mempertimbangkan rotasi ke instrumen safe-haven berbasis dolar. iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT) kerap menjadi pilihan ketika yield obligasi global bergerak turun.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik 2026 mencapai 5,7 persen, jauh di bawah target Prabowo untuk 2027. Selisih ini menunjukkan beban pembuktian besar bagi kabinet ekonomi tahun depan.
Sektor jasa keuangan AS biasanya merespons positif kebijakan fiskal ekspansif emerging market. Saham seperti JPMorgan Chase (JPM) dan Goldman Sachs (GS) memiliki eksposur signifikan terhadap arus modal emerging market.
Penguatan dolar AS akibat tekanan rupiah secara historis menguntungkan bank investasi global. Aliran dana ke aset dolar mendorong volume perdagangan obligasi dan transaksi valuta asing di Wall Street.
Namun risiko volatilitas tetap tinggi jika target pertumbuhan 6,5 persen dianggap pasar terlalu agresif. Investor obligasi global akan memantau realisasi defisit dan postur utang Indonesia menjelang lelang SBN berikutnya.
Pelaku pasar juga menanti respons The Fed terhadap data inflasi AS bulan ini. Arah suku bunga AS akan menentukan ruang gerak rupiah dan ETF obligasi seperti TLT dalam jangka pendek.
Sumber
- APBN 2027 Fokus Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Ditargetkan Tembus 6,5 Persen (Kompas)
- Purbaya Yakin Ekonomi Tumbuh 6,5%, Ini Caranya (Liputan6)
- Purbaya Pastikan Belum Ada Tambahan Jenis Pajak Baru Tahun Depan (Liputan6)
- RI Patok Nilai Tukar Rupiah Rp16.800-Rp17.500/US$ pada 2027 (Bloomberg Technoz)
- Nasib Rupiah dan Obligasi Usai Pidato Prabowo Hari Ini (Bloomberg Technoz)
- Bos BI Pede Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh hingga 5,7% di Sepanjang 2026 (MetroTV)












