Gotrade News - Presiden Prabowo Subianto menyoroti tiga masalah struktural ekonomi Indonesia dalam pidato RAPBN 2027 di DPR pada 20 Mei 2026. Ia menyebut rasio penerimaan negara terhadap PDB sebagai yang terendah di antara anggota G20.
Sinyal pelemahan fiskal ini muncul bersamaan dengan perintah ke Himbara untuk memangkas bunga kredit rakyat miskin. Pasar mencerna kombinasi tekanan penerimaan dan intervensi suku bunga sektor perbankan negara.
Key Takeaways
- Rasio penerimaan Indonesia terhadap PDB sekitar 11 persen, jauh di bawah Meksiko 25 persen dan India 20 persen.
- Pertumbuhan PDB 35 persen sejak 2017 tidak menurunkan kemiskinan, justru naik 3,4 poin persentase.
- Himbara diperintah memangkas bunga kredit rakyat miskin, menambah tekanan margin bank pelat merah.
Penerimaan Terendah Di G20
Menurut Kumparan, Prabowo menyebut rasio belanja negara Indonesia terhadap PDB paling rendah di antara negara G20. Ia mempertanyakan kesenjangan ini dibandingkan Malaysia dan Kamboja.
Data IMF yang dikutip menunjukkan rasio pajak Meksiko 25 persen, India 20 persen, dan Filipina 21 persen. Indonesia berada di kisaran 11 persen, sementara Kamboja saja mencapai 15 persen.
Prabowo menegaskan Indonesia menghasilkan lebih dari 65 miliar dolar AS per tahun dari batu bara, paduan besi, dan komoditas terkait. Namun penerimaan fiskal tetap rendah meski PDB tumbuh 5 persen per tahun selama tujuh tahun.
Bagi investor yang memegang iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO), sinyal struktural ini berarti ruang stimulus fiskal tetap terbatas. Tekanan penerimaan juga menambah risiko premi mata uang dan beban utang luar negeri pemerintah.
Kemiskinan Naik, Himbara Diperintah Pangkas Bunga
Dilansir Kumparan, Prabowo mempertanyakan bagaimana pertumbuhan 35 persen sejak 2017 bisa berbarengan dengan kenaikan kemiskinan. Angka kemiskinan naik dari 46,1 juta menjadi 49,5 juta jiwa.
Kelas menengah turun dari 22,1 juta menjadi 17,4 juta jiwa pada periode sama. Prabowo menyebut sistem ekonomi berada di lintasan yang tidak tepat.
Melansir Bloomberg Technoz, Prabowo memerintahkan BRI, Mandiri, BNI, dan BTN memangkas bunga kredit untuk rakyat miskin. Ia menyebut bank selama ini memberi kredit kepada yang sudah kaya.
Perintah ini menantang model profitabilitas bank pelat merah yang bergantung pada margin bunga. Sektor keuangan global seperti SPDR Financial Sector ETF (XLF) menjadi pembanding bagaimana intervensi suku bunga ditanggapi pasar.
Skema KUR 5 persen sebelumnya menjadi acuan potensial untuk implementasi pemangkasan bunga ini. Margin bank pelat merah berisiko tertekan jika realokasi kredit ke segmen berisiko tinggi diperluas.
Kombinasi penerimaan rendah, kemiskinan naik, dan intervensi suku bunga membentuk profil risiko yang kompleks bagi pasar saham Indonesia. Sentimen jangka pendek cenderung berhati-hati terhadap sektor perbankan dan rupiah.
Investor pasar negara berkembang akan memantau ruang fiskal terbatas dan respons Bank Indonesia terhadap arahan kredit Himbara. Tekanan ganda pada penerimaan negara dan margin bank menambah lapisan kompleksitas baru bagi asumsi pertumbuhan anggaran 2027.
Dolar AS yang dipantau lewat Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP) menjadi penanda arus modal keluar pasar negara berkembang. Penguatan dolar biasanya menambah tekanan pada rupiah saat sinyal fiskal melemah.












