Gotrade News - Rupiah melemah hingga menembus kisaran Rp 17.668 per dollar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026). Level tersebut menjadi salah satu rekor terendah mata uang Garuda dan memicu kekhawatiran luas di pasar keuangan domestik.
Pelemahan ini mendorong spekulasi Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5 persen. Tekanan rupiah turut menguatkan permintaan aset safe-haven global seperti dollar AS dan Treasury jangka panjang.
Key Takeaways
- Rupiah menyentuh Rp 17.668 per dollar AS, level terendah yang menambah persepsi risiko pasar Indonesia.
- Pasar berspekulasi BI akan menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5 persen di RDG 19-20 Mei 2026.
- Pelemahan kurs meningkatkan biaya impor, risk premium investor, dan potensi tekanan PHK di sektor manufaktur.
Menurut Kompas, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai depresiasi rupiah menandai naiknya persepsi risiko terhadap aset Indonesia. Pelemahan tersebut juga memberi tekanan ke pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang masih dalam tren volatil.
Nafan menyebut pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin di Rapat Dewan Gubernur 19-20 Mei 2026. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas mata uang sekaligus meredam gejolak pasar.
Tekanan Ke Sektor Riil Dan Investor
Dilansir Kompas, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menyebut pelemahan rupiah memicu kenaikan biaya impor bahan baku, mesin industri, dan logistik. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha menahan ekspansi dan membuka risiko pemutusan hubungan kerja.
Bhima menambahkan investor jangka panjang menjadi lebih berhati-hati karena risk premium dan biaya pinjaman meningkat. Aliran modal asing berpotensi keluar dari pasar obligasi maupun saham, memperkuat permintaan aset dollar seperti Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP).
Tekanan rupiah berbarengan dengan rotasi global menuju aset defensif berdenominasi dollar. Imbal hasil Treasury AS jangka panjang kembali menjadi acuan investor lewat instrumen seperti iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT).
Respons Bank Indonesia Dan Pasar AS
Melansir Kabar Bursa, Bank Indonesia menegaskan fundamental ekonomi domestik masih kuat untuk menopang rupiah. BI optimistis rupiah akan menguat seiring berakhirnya musim tingginya permintaan dollar AS pada Mei-Juni 2026.
Otoritas moneter menyatakan akan menggunakan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ekspektasi pasar. Sinyal ini menjadi krusial menjelang keputusan RDG yang dinanti pelaku pasar domestik dan global.
Pelemahan mata uang emerging markets juga menekan minat investor terhadap aset berisiko di kawasan. Eksposur ke pasar berkembang melalui Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) biasanya menjadi indikator awal arah arus modal lintas negara.
Bagi investor saham AS, episode pelemahan rupiah kerap memperkuat narasi dollar yang lebih tinggi lebih lama. Rotasi menuju Treasury dan dollar index berpotensi menahan apetit risiko terhadap saham pertumbuhan dalam jangka pendek.
Keputusan BI pada 19-20 Mei 2026 akan menjadi penentu arah jangka pendek rupiah dan IHSG. Pasar global juga akan memantau implikasinya terhadap aliran dana ke aset emerging markets dan instrumen dollar AS.












