Gotrade News - SpaceX dilaporkan mendekati IPO dengan valuasi sekitar US$1,75 triliun yang diperkirakan terbuka pekan ini. Elon Musk turut mempromosikan rencana satelit AI yang ambisius menjelang penawaran perdana tersebut.
IPO ini menjadi salah satu yang paling dinanti tahun ini karena ukuran valuasinya yang sangat besar bagi pasar global. Investor ritel kini sibuk memetakan jalur akses lewat broker dan eksposur Nasdaq yang dinilai paling relevan.
Key Takeaways
SpaceX dikabarkan IPO dengan valuasi sekitar US$1,75 triliun pekan ini.
Musk menyebut satelit AI memakai teknologi yang sebagian besar sudah ada.
Beberapa broker menerapkan penalti bagi investor yang menjual saham IPO terlalu cepat.
Menurut Investing.com, Musk menilai pengembangan satelit AI bukan masalah yang terlalu sulit untuk diselesaikan perusahaan. Ia menegaskan sebagian besar teknologinya sudah dibuat untuk armada satelit Starlink V3.
Satelit AI pertama disebut memiliki kapasitas komputasi puncak 150 kilowatt dan sekitar 120 kilowatt secara berkelanjutan. Angka itu setara dengan satu rak server Nvidia GB300 yang menyerap daya sekitar 140 kilowatt.
Pabrik SpaceX di Bastrop, Texas, diperkirakan baru mencapai volume produksi yang berarti pada akhir tahun 2027 mendatang. Skala ini menunjukkan ambisi besar perusahaan di segmen komputasi berbasis orbit yang sejauh ini masih sangat baru.
Pernyataan Musk muncul tepat saat minat investor terhadap infrastruktur AI sedang berada pada titik tertinggi sepanjang masa. Kombinasi narasi luar angkasa dan komputasi AI menjadikan IPO ini sorotan utama bagi investor di pasar global.
SpaceX masih berstatus perusahaan privat, sehingga investor ritel mengaksesnya lewat broker dan instrumen turunan yang relevan. Salah satu broker yang disebut menyediakan akses IPO tanpa minimum adalah SoFi Technologies.
Dilansir The Motley Fool, IPO diperkirakan berlangsung sekitar tanggal 12 Juni 2026. Alokasi untuk investor ritel disebut bisa mencapai 30 persen dari total penawaran yang tersedia.
Sejumlah broker menerapkan penalti tegas bagi investor yang menjual saham IPO terlalu cepat setelah pencatatan. Robinhood disebut memblokir akses IPO selama 60 hari jika sahamnya dijual dalam 30 hari pertama.
E*TRADE dapat mengecualikan investor dari IPO mendatang, sedangkan SoFi menerapkan pembatasan 180 hari untuk pelanggaran pertama. Penalti SoFi meningkat menjadi 365 hari pada pelanggaran kedua dan larangan permanen pada pelanggaran ketiga.
SoFi juga mengenakan biaya tambahan sebesar US$50 untuk penjualan yang dilakukan setelah melewati masa 120 hari. Aturan berlapis semacam ini menegaskan pentingnya membaca syarat broker secara teliti sebelum ikut serta dalam penawaran.
Bagi investor yang mengincar eksposur kustodian yang lebih mapan, broker seperti Charles Schwab menjadi salah satu rujukan utama. Pilihan broker pada akhirnya memengaruhi aturan akses dan fleksibilitas menjual saham IPO.
Untuk eksposur indeks yang lebih luas, Invesco QQQ Trust melacak Nasdaq-100 tempat SpaceX berpotensi masuk dengan cepat. Instrumen ini menjadi opsi bagi yang ingin eksposur tematik tanpa membeli saham IPO secara langsung.
Investor disarankan memahami aturan masing-masing broker secara menyeluruh sebelum memutuskan berpartisipasi dalam penawaran perdana ini. Disiplin terhadap masa tahan saham pada akhirnya membantu menghindari penalti yang dapat menggerus potensi keuntungan investor.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.