Tema Investasi AI: Nvidia, Jepang, dan Saham Pilihan

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Tema Investasi AI: Nvidia, Jepang, dan Saham Pilihan

Share this article

Gotrade News - Tema investasi AI kembali memanas saat Nvidia berniat mengubah PC lewat superchip RTX Spark. Pendapatan data center Nvidia mencapai $75,2 miliar pada kuartal terakhir.

Pergeseran ke AI agen di perangkat membuka peluang baru bagi rantai pasok chip dan cloud. Dampaknya merembet ke pemain PC, cloud, sampai pasar Jepang yang lama terabaikan.

Key Takeaways

  • Superchip RTX Spark Nvidia menggabungkan CPU Arm 20 inti dan GPU Blackwell dengan memori hingga 128GB.
  • Barclays menilai saham teknologi Jepang murah, hanya 12-13x forward versus Taiwan 18x.
  • AWS dan Google Cloud tumbuh pesat sebagai pilihan jangka panjang di tema AI.

Nvidia Ingin Mengubah PC

Menurut Motley Fool, superchip RTX Spark memadukan CPU Arm 20 inti dan GPU Blackwell. Memori terpadunya mencapai 128GB dan dijadwalkan meluncur pada musim gugur 2026.

Baca juga: Gotrade Daily: AS-Iran Berdamai, Nasdaq Dibuka Lonjakan

CEO Jensen Huang menyebut pergeseran ke AI agen yang berjalan langsung di perangkat. Mitra peluncuran mencakup Microsoft, MediaTek, Dell, HP, dan Lenovo.

Langkah ini menekan pemain PC tradisional yang selama ini mendominasi pasar klien. Pendapatan klien Intel sebesar $7,7 miliar, lebih dari setengah total $13,6 miliar miliknya.

Pendapatan klien AMD tercatat $2,9 miliar pada periode yang sama, menurut Motley Fool. Qualcomm justru menghadapi ancaman langsung dari kombinasi Arm dan Windows.

Baca juga: Outlook Pasar Saham AS: FOMC Warsh Jadi Sorotan

Di tengah pergeseran ini, investor bisa mencermati posisi Nvidia (NVDA) yang memimpin transisi. Dominasinya di pusat data memberi bantalan kuat untuk ekspansi ke segmen PC.

Total pendapatan Nvidia mencapai $81,6 miliar pada kuartal fiskal pertama tahun 2027. Angka data center $75,2 miliar menegaskan dominasinya di infrastruktur AI.

Jepang dan Pilihan Cloud Jangka Panjang

Melansir TechBuzz, Barclays menilai teknologi Jepang terlalu murah. Valuasinya hanya 12-13x forward, jauh di bawah Taiwan 18x dan Korea Selatan 16x.

Barclays menyebut SoftBank, Sony, Fanuc, dan Keyence sebagai nama menarik. Tesisnya bersandar pada robotika, otomasi pabrik, dan yen yang melemah.

Tenaga kerja Jepang yang menua mendorong permintaan produktivitas berbasis AI. Penerapan nyata di lapangan memberi imbal hasil yang lebih konkret bagi investor.

Untuk tema cloud, Motley Fool memilih Amazon (AMZN) dan Alphabet (GOOGL). AWS membukukan $37,6 miliar pada kuartal pertama 2026, naik 28% secara tahunan.

Google Cloud tumbuh lebih cepat dengan pendapatan $20 miliar, melonjak 63% secara tahunan. Backlog-nya menembus $460 miliar, menandakan permintaan AI yang kuat dan berkelanjutan.

Total pendapatan Alphabet mencapai $109,9 miliar, naik 22% secara tahunan. Amazon diperdagangkan sekitar 30x laba, sedikit di atas Alphabet pada 27x.

Inisiatif chip PC Nvidia lebih dari satu dekade lalu gagal mendapat traksi, menurut Motley Fool. Riwayat itu menyiratkan adanya risiko eksekusi pada ambisi RTX Spark di pasar klien.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade