Apa Itu Algorithmic Trading? Jenis, Cara Kerja, Limitasi

Ringkasan

  • Algo trading mengeksekusi order otomatis berdasarkan algoritma, menghilangkan faktor emosi dari trading.
  • Retail dibatasi oleh latency, modal, dan risiko overfitting meski tools semakin accessible.
  • Pendekatan realistis: automasi DCA, alert-based trading, trailing stop, dan backtesting.
Apa Itu Algorithmic Trading? Jenis, Cara Kerja, Limitasi

Share this article

Algorithmic trading dulu identik dengan hedge fund dan bank investasi besar yang punya server cepat dan tim quant engineer. Tapi seiring berkembangnya teknologi, akses ke algo trading semakin terbuka untuk investor retail.

Pertanyaannya bukan lagi "apakah retail bisa pakai algo trading?", tapi "apakah realistis dan layak untuk dicoba?". Artikel ini membahas konsep dasar algorithmic trading, tools yang tersedia untuk retail, serta limitasi yang perlu dipahami sebelum terjun.

Apa Itu Algorithmic Trading?

Algorithmic trading adalah metode eksekusi order menggunakan program komputer yang mengikuti instruksi (algoritma) tertentu. Instruksi ini bisa berdasarkan harga, waktu, volume, atau kombinasi kondisi teknikal lainnya.

Contoh sederhana: sebuah algoritma bisa diprogram untuk membeli saham tertentu ketika harga turun 5% dari moving average 20 hari, dan menjualnya ketika RSI melewati level 70. Semua eksekusi terjadi otomatis tanpa intervensi manual.

Menurut Investopedia, algorithmic trading menyumbang lebih dari 60-70% volume perdagangan di bursa saham AS. Mayoritas dilakukan oleh institusi besar, tapi porsi retail terus bertumbuh seiring munculnya platform yang lebih accessible.

Perbedaan utama dengan trading manual: algo trading menghilangkan faktor emosi. Tidak ada keraguan saat harus entry, tidak ada keserakahan saat harus exit. Algoritma mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, apapun kondisi pasar. Ini sejalan dengan prinsip strategi kuantitatif yang mengandalkan data dan model, bukan intuisi.

Jenis Algoritma yang Umum Digunakan

Tidak semua algo trading sama. Berikut beberapa jenis yang paling umum, dari yang paling accessible untuk retail hingga yang membutuhkan infrastruktur besar:

Trend Following

Algoritma mengikuti arah tren menggunakan indikator seperti moving average crossover, MACD, atau breakout dari range tertentu. Ini jenis paling populer untuk retail karena logikanya sederhana dan mudah di-backtest. Konsepnya mirip dengan swing trading berbasis tren, tapi eksekusinya otomatis.

Mean Reversion

Algoritma mengasumsikan harga akan kembali ke rata-ratanya setelah deviasi ekstrem. Ketika harga turun jauh di bawah rata-rata, sistem membeli. Ketika naik terlalu jauh, sistem menjual. Strategi ini butuh pemahaman statistik yang baik tentang distribusi harga.

Execution-Based

Algoritma yang fokus pada efisiensi eksekusi order besar tanpa menggerakkan pasar. Biasanya digunakan institusi untuk memecah order besar menjadi banyak order kecil. Tidak terlalu relevan untuk retail karena volume trading retail jarang cukup besar untuk mempengaruhi harga.

Tools Algo Trading yang Bisa Diakses Retail

Kabar baiknya, retail sekarang punya akses ke berbagai tools yang dulu hanya tersedia untuk profesional:

  • Platform backtesting (TradingView, QuantConnect, Backtrader). Memungkinkan kamu menguji strategi pada data historis sebelum menggunakan uang sungguhan. Backtesting adalah langkah wajib sebelum menjalankan algoritma apapun di pasar live.
  • Bahasa pemrograman (Python, Pine Script). Python dengan library seperti pandas, numpy, dan zipline adalah standar industri untuk membangun algoritma. Pine Script di TradingView lebih mudah dipelajari untuk pemula yang ingin membuat indikator custom dan alert otomatis.
  • API broker. Beberapa broker menyediakan API yang memungkinkan algoritma terhubung langsung ke pasar untuk eksekusi otomatis. Fitur ini menjembatani antara strategi yang sudah di-backtest dengan eksekusi real-time.
  • No-code platforms (Composer, Alpaca). Untuk yang tidak bisa coding, platform ini menyediakan antarmuka visual untuk membangun dan menjalankan strategi otomatis tanpa menulis satu baris kode pun.

Yang perlu diingat: tools canggih tidak menjamin profit. Kualitas strategi dan manajemen risiko tetap jauh lebih penting dari kecanggihan platform.

Limitasi dan Realita untuk Retail

Di balik daya tariknya, algo trading punya limitasi serius yang perlu dipahami retail sebelum terlalu antusias:

Latency dan infrastruktur

Institusi menggunakan server co-located di dekat bursa untuk eksekusi dalam milidetik. Retail menggunakan koneksi internet rumahan. Untuk strategi yang bergantung pada kecepatan (seperti high-frequency trading), perbedaan ini membuat retail tidak bisa bersaing. Fenomena stop hunting oleh algoritma institusional adalah contoh nyata betapa cepatnya mereka bergerak.

Overfitting dan curve fitting

Kesalahan paling umum algo trader pemula: membuat strategi yang sempurna di data historis tapi gagal total di pasar live. Ini terjadi karena algoritma terlalu "dilatih" untuk mengenali pola masa lalu yang tidak berulang. Semakin kompleks model, semakin besar risiko overfitting.

Biaya tersembunyi

Slippage (perbedaan harga eksekusi vs harga yang diharapkan), komisi per transaksi, dan biaya data feed bisa menggerus profit tipis dari strategi algo.

Strategi yang terlihat profitable di backtest sering berubah menjadi rugi setelah memasukkan biaya-biaya ini.

Kebutuhan maintenance

Algoritma bukan "set and forget". Kondisi pasar berubah, dan strategi yang bekerja di 2024 belum tentu efektif di 2026.

Monitoring, adjustment, dan re-optimization adalah pekerjaan berkelanjutan yang membutuhkan waktu dan skill.

Keterbatasan modal

Banyak strategi algo yang profitable secara persentase tapi menghasilkan nominal kecil jika modalnya terbatas. Strategi mean reversion yang menghasilkan 0,3% per trade butuh volume trading besar agar hasilnya signifikan.

Pendekatan Realistis untuk Retail

Alih-alih mencoba bersaing dengan institusi di high-frequency trading, retail sebaiknya fokus pada area di mana algo memberikan keunggulan nyata:

  • Automasi DCA. Salah satu bentuk algo paling sederhana dan efektif: investasi rutin otomatis di jadwal dan nominal yang sudah ditentukan. Tidak glamor, tapi proven.
  • Alert dan semi-automated trading. Gunakan algoritma untuk memantau kondisi pasar dan memberi alert, tapi eksekusi tetap manual. Ini menggabungkan keunggulan AI dan analisis otomatis dengan kontrol manusia.
  • Backtesting untuk validasi strategi. Bahkan jika kamu tidak menjalankan algo secara otomatis, backtesting tetap berguna untuk menguji apakah strategi trading manual kamu punya edge secara historis.
  • Trailing stop dan conditional orders. Fitur trailing stop yang tersedia di banyak broker adalah bentuk algo trading sederhana yang sangat berguna untuk mengunci profit secara otomatis.

Kesimpulan

Algorithmic trading bukan lagi eksklusif milik institusi besar. Retail punya akses ke tools, platform, dan educational resources yang memadai untuk memulai.

Tapi realistis saja: keunggulan retail bukan di kecepatan atau infrastruktur, melainkan di fleksibilitas dan kemampuan fokus pada strategi jangka menengah hingga panjang.

Mulai dari yang sederhana, backtest sebelum live, dan jangan pernah skip manajemen risiko.

Mulai eksplorasi strategi investasimu dengan beli fractional shares saham dan ETF AS di Gotrade mulai dari $1.

FAQ

Apakah algo trading menjamin profit?

Tidak. Overfitting, perubahan kondisi pasar, dan biaya tersembunyi bisa membuat strategi yang profitable di backtest menjadi rugi di pasar live.

Apakah perlu bisa coding untuk algo trading?

Tidak harus. Ada platform no-code, tapi memahami dasar Python atau Pine Script memberi fleksibilitas lebih besar.

Apa bentuk algo trading paling realistis untuk retail?

Automasi DCA, trailing stop, alert-based trading, dan backtesting strategi manual.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade