Apa Itu Commodity Supercycle dan Dampaknya ke Investor

Apa Itu Commodity Supercycle dan Dampaknya ke Investor

Share this article

Commodity supercycle adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan periode panjang kenaikan harga komoditas secara luas, biasanya berlangsung bertahun-tahun hingga satu dekade atau lebih. Dalam fase ini, berbagai komoditas seperti minyak, tembaga, emas, dan logam industri mengalami tren naik yang kuat karena faktor struktural, bukan hanya siklus jangka pendek.

Memahami siklus komoditas membantu investor membaca apakah kenaikan harga bersifat sementara atau bagian dari perubahan besar dalam ekonomi global.

Jika kamu aktif berinvestasi di saham energi, tambang, atau ETF komoditas, memahami supercycle menjadi sangat relevan.

Pengertian Commodity Supercycle

Commodity supercycle adalah fase dalam siklus komoditas di mana permintaan global tumbuh jauh lebih cepat daripada kapasitas suplai.

Fase ini biasanya dipicu oleh:

  • Urbanisasi besar-besaran

  • Pembangunan infrastruktur skala besar

  • Perubahan teknologi

  • Transisi energi

Supercycle berbeda dengan rally biasa. Rally jangka pendek bisa dipicu oleh gangguan suplai atau sentimen sementara. Melansir Capital, supercycle biasanya didorong oleh perubahan struktural jangka panjang.

Dalam supercycle, harga komoditas bisa naik selama bertahun-tahun meskipun mengalami koreksi periodik.

Ciri-Ciri Commodity Supercycle

Tidak semua kenaikan harga komoditas berarti supercycle. Berikut beberapa ciri umum:

1. Durasi panjang

Supercycle berlangsung dalam periode bertahun-tahun, bahkan bisa lebih dari satu dekade. Kenaikan harga tidak hanya terjadi dalam satu fase ekspansi ekonomi, tetapi melintasi beberapa siklus bisnis.

Dalam periode ini, harga komoditas bisa mengalami koreksi sementara, tetapi tren besarnya tetap naik. Investor biasanya melihat pola higher high dan higher low dalam jangka panjang, yang mencerminkan permintaan struktural yang konsisten.

2. Permintaan struktural kuat

Permintaan dalam supercycle bukan sekadar akibat lonjakan konsumsi sementara, tetapi didorong oleh perubahan besar dalam ekonomi global.

Contohnya adalah industrialisasi China pada awal 2000-an, yang meningkatkan kebutuhan baja, tembaga, dan energi dalam skala masif.

Saat ini, narasi transisi energi dan elektrifikasi global sering disebut sebagai pendorong potensial permintaan jangka panjang untuk tembaga, lithium, dan nikel.

Karena sifatnya struktural, permintaan ini tidak mudah turun hanya karena perlambatan ekonomi jangka pendek.

3. Keterbatasan suplai

Sektor komoditas memiliki karakteristik unik: meningkatkan produksi membutuhkan waktu lama dan modal besar.

Membangun tambang baru atau fasilitas produksi energi bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan lebih dari satu dekade. Ketika permintaan meningkat cepat, suplai tidak bisa langsung menyesuaikan.

Kesenjangan antara permintaan dan suplai inilah yang mendorong harga naik dalam waktu lama. Dalam supercycle, bottleneck produksi sering menjadi katalis lanjutan bagi kenaikan harga.

4. Lonjakan investasi di sektor terkait

Saat harga komoditas naik secara konsisten, perusahaan di sektor tersebut mulai meningkatkan belanja modal atau capital expenditure.

Perusahaan tambang memperluas kapasitas, perusahaan energi meningkatkan eksplorasi, dan proyek infrastruktur baru bermunculan. Investor juga mulai mengalirkan dana besar ke saham sektor energi dan material.

Fenomena ini biasanya terlihat dari kenaikan laba perusahaan, ekspansi proyek, dan meningkatnya aktivitas merger atau akuisisi di sektor terkait.

5. Inflasi komoditas luas

Supercycle jarang terjadi hanya pada satu komoditas saja. Biasanya kenaikan meluas ke berbagai kategori seperti energi, logam industri, dan kadang komoditas pertanian.

Misalnya, saat harga minyak naik tajam, biaya produksi dan distribusi global juga meningkat, yang kemudian memengaruhi harga komoditas lain. Efek berantai ini membuat tekanan inflasi lebih luas dan berkelanjutan.

Ketika inflasi komoditas terjadi secara menyeluruh, dampaknya tidak hanya terasa pada sektor tambang atau energi, tetapi juga pada kebijakan moneter dan pasar keuangan global.

Contoh Historis Supercycle Komoditas

Supercycle 2000-an

Salah satu contoh paling terkenal adalah periode awal 2000-an ketika China mengalami pertumbuhan ekonomi sangat cepat. Urbanisasi dan pembangunan infrastruktur besar-besaran mendorong permintaan:

  • Tembaga

  • Bijih besi

  • Minyak

  • Batu bara

Harga komoditas melonjak selama bertahun-tahun sebelum akhirnya melemah ketika pertumbuhan melambat.

Era pasca Perang Dunia II

Pembangunan kembali Eropa dan Jepang setelah perang juga memicu lonjakan permintaan bahan baku. Periode ini sering dianggap sebagai supercycle awal dalam sejarah modern komoditas.

Dampak Commodity Supercycle ke Investor

Supercycle komoditas dapat menciptakan peluang sekaligus risiko besar.

1. Saham sektor komoditas menguat

Perusahaan tambang dan energi biasanya mengalami kenaikan laba signifikan saat harga komoditas tinggi. Saham cyclical sering outperform dalam fase ini.

2. Inflasi meningkat

Lonjakan harga komoditas dapat mendorong inflasi, yang berdampak pada kebijakan suku bunga dan pasar obligasi.

3. Rotasi sektor

Investor sering beralih dari saham defensif ke saham energi dan material saat supercycle berlangsung.

4. Volatilitas tinggi

Meskipun tren naik jangka panjang, koreksi tajam tetap bisa terjadi. Investor perlu membedakan antara koreksi sehat dan akhir siklus.

Jika kamu ingin memanfaatkan potensi rotasi sektor saat komoditas menguat, kamu bisa mengakses saham mining, energi, dan ETF komoditas global melalui aplikasi Gotrade Indonesia.

Apakah Saat Ini Terjadi Supercycle?

Pertanyaan ini sering muncul saat harga energi dan logam naik. Beberapa faktor yang sering dibahas:

  • Transisi energi global

  • Keterbatasan investasi di sektor tambang

  • Kebijakan stimulus besar

  • Permintaan dari negara berkembang

Namun memastikan adanya supercycle membutuhkan waktu dan data jangka panjang. Investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan narasi, tetapi tetap melihat data fundamental dan tren makro.

Kesimpulan

Commodity supercycle adalah fase panjang kenaikan harga komoditas yang didorong oleh perubahan struktural dalam ekonomi global. Ciri utamanya adalah durasi panjang, permintaan kuat, dan keterbatasan suplai.

Bagi investor, supercycle bisa membuka peluang besar di saham energi dan tambang, tetapi juga membawa volatilitas tinggi dan risiko siklus berbalik.

Memahami siklus komoditas membantu kamu tidak sekadar ikut tren, tetapi membuat keputusan berdasarkan konteks yang lebih luas.

Jika kamu ingin membangun portofolio global dengan eksposur ke sektor komoditas, kamu bisa memulainya melalui aplikasi Gotrade Indonesia dan menyesuaikan strategi sesuai profil risiko.

FAQ

Apa itu commodity supercycle?
Commodity supercycle adalah periode panjang kenaikan harga komoditas yang didorong oleh faktor struktural global.

Berapa lama supercycle biasanya berlangsung?
Bisa bertahun-tahun hingga lebih dari satu dekade.

Apa dampaknya ke saham?
Saham sektor energi dan material biasanya diuntungkan dalam fase supercycle.

Apakah supercycle selalu berakhir dengan penurunan tajam?
Tidak selalu, tetapi setiap siklus pada akhirnya akan melambat seiring perubahan permintaan dan suplai.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade