Optimism bias sering muncul paling kuat saat market bullish. Harga aset naik konsisten, berita dipenuhi narasi positif, dan banyak investor merasa masa depan terlihat jelas. Dalam kondisi seperti ini, rasa optimis terasa masuk akal. Masalahnya, optimism bias membuat investor menilai risiko lebih kecil dari kenyataan dan melebih-lebihkan peluang hasil positif.
Dalam konteks psikologi investasi, bias ini bukan soal salah analisis, melainkan cara otak memproses informasi saat semuanya tampak berjalan baik.
Artikel ini membahas apa itu bias optimisme, contoh konkretnya saat market bullish, serta dampaknya terhadap keputusan investasi dan portofolio.
Apa Itu Bias Optimisme?
Bias optimisme adalah kecenderungan mental untuk meyakini bahwa hasil positif lebih mungkin terjadi pada diri sendiri dibanding kemungkinan negatif.
Saat investor mengalami rangkaian hasil positif, otak mulai menggeneralisasi keberhasilan tersebut. Risiko dianggap sebagai sesuatu yang “tidak akan terjadi sekarang”. Akibatnya, persepsi risiko menjadi tumpul.
Perbedaan optimisme sehat dan bias optimisme
Optimisme yang sehat pasti berbasis data dan probabilitas. Bias optimisme mengabaikan skenario negatif meski datanya ada. Dengan singkat, yang satu realistis, yang lain selektif.
Penyebab Munculnya Bias Optimisme di Market Bullish
Market bullish menyediakan banyak konfirmasi positif. Kenaikan harga, testimoni keuntungan, dan narasi media memperkuat keyakinan bahwa tren akan berlanjut. Lingkungan ini mempercepat bias.
Saat banyak orang optimis, tekanan sosial ikut mendorong keyakinan yang sama. Investor merasa aman karena “semua orang juga berpikir begitu”. Faktanya, konsensus sering menggantikan analisis.
Dilansir dari The Globe and Mail, optimism bias membuat individu cenderung meremehkan risiko negatif, terutama saat berada dalam fase keberhasilan berulang.
Contoh Bias Optimisme saat Market Bullish
Bias ini terlihat jelas dalam pola perilaku tertentu selama market naik.
Terlalu optimis terhadap kelanjutan tren
Investor mulai percaya bahwa tren bullish akan terus berlanjut tanpa koreksi berarti. Setiap penurunan kecil dianggap peluang beli tanpa evaluasi ulang. Asumsi ini jarang diuji secara objektif.
Mengabaikan risiko dan sinyal peringatan
Valuasi tinggi, pengetatan likuiditas, atau penurunan kualitas earnings sering diabaikan. Investor fokus pada narasi pertumbuhan, bukan ketahanan. Risiko struktural tertutup euforia.
Kesalahan di fase late cycle
Di fase akhir market bullish, optimism bias paling berbahaya. Investor masuk agresif saat upside terbatas dan downside membesar. Timing keputusan menjadi tidak seimbang.
Menaikkan ukuran posisi tanpa penyesuaian risiko
Kepercayaan diri berlebih mendorong peningkatan size posisi. Risiko portofolio naik lebih cepat daripada kapasitas menanggung drawdown. Ini sering tidak disadari.
Menganggap pengalaman profit sebagai bukti skill permanen
Profit di market bullish dianggap sebagai hasil keahlian murni. Faktor kondisi pasar dan likuiditas diabaikan. Kesalahan atribusi memperkuat bias.
Mengendurkan aturan manajemen risiko
Stop loss diperlebar, diversifikasi dikurangi, dan rebalancing ditunda. Semua dilakukan karena “market sedang bagus”. Akhirnya, disiplin melemah perlahan.
Melansir Modern Money, euforia pasar dapat mendorong investor mengabaikan prinsip kehati-hatian dan meningkatkan eksposur risiko secara tidak proporsional.
Dampak Bias Optimisme terhadap Keputusan Investasi
Bias optimisme tidak selalu langsung merugikan, tetapi dampaknya sering muncul saat kondisi berubah.
Risiko drawdown yang lebih dalam
Portofolio yang dibangun dengan asumsi optimis cenderung rapuh saat koreksi datang. Drawdown terasa lebih besar karena risiko sudah terakumulasi. Kerugian psikologis ikut meningkat.
Keputusan reaktif saat market berbalik
Investor yang terlalu optimis jarang menyiapkan skenario negatif. Saat market turun, reaksi menjadi panik dan tidak terstruktur. Keputusan sering diambil di waktu terburuk.
Penurunan kualitas return jangka panjang
Masuk agresif di fase late cycle sering menghasilkan return risk-adjusted yang buruk. Profit sebelumnya tergerus oleh koreksi berikutnya. Pada akhirnya, konsistensi jadi terganggu.
Mengganggu proses evaluasi objektif
Bias optimisme membuat investor sulit mengakui kesalahan. Evaluasi portofolio menjadi defensif, bukan reflektif. Kemudian, pembelajaran pun terhambat.
Meningkatkan kesalahan investasi berulang
Tanpa koreksi mental, investor cenderung mengulangi pola yang sama di siklus berikutnya. Bias menjadi kebiasaan. Risiko sistemik meningkat.
Tekanan terhadap struktur keuangan pribadi
Optimisme berlebihan sering diikuti peningkatan gaya hidup atau penggunaan leverage. Saat market berubah, tekanan keuangan ikut muncul. Dampaknya meluas ke luar portofolio.
Kesimpulan
Bias optimisme saat market bullish adalah jebakan psikologis yang sering dianggap sebagai kepercayaan diri. Padahal, optimism bias membuat investor meremehkan risiko, mengabaikan sinyal peringatan, dan mengambil keputusan agresif di fase yang tidak ideal.
Dampaknya sering baru terasa saat market berbalik, ketika disiplin dan kesiapan mental diuji. Investor yang mampu bertahan jangka panjang adalah mereka yang menjaga keseimbangan antara optimisme dan kehati-hatian, serta tetap menghormati risiko meski pasar terlihat ramah.
Jika kamu ingin membangun investasi global dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan disiplin di berbagai fase market, kamu bisa memanfaatkan Gotrade Indonesia untuk mengakses saham dan ETF Amerika sesuai strategi jangka panjangmu.
FAQ
Apa itu bias optimisme dalam investasi?
Bias optimisme adalah kecenderungan investor melebih-lebihkan peluang hasil positif dan meremehkan risiko, terutama saat market bullish.
Kenapa bias optimisme berbahaya di market bullish?
Karena membuat investor masuk agresif di fase akhir tren dan mengabaikan risiko koreksi.
Bagaimana cara mengurangi bias optimisme?
Dengan tetap mengikuti aturan risiko, melakukan rebalancing, dan mengevaluasi portofolio berdasarkan data, bukan euforia.











