Tentang Brian Overby
Brian Overby adalah otoritas dan edukator trading options yang berpengalaman, dengan lebih dari tiga dekade kiprah di industri jasa keuangan sejak 1992. Dia pernah memegang posisi senior dan peran edukasi di berbagai institusi terkemuka dalam ekosistem options: sebagai senior staff instructor di Chicago Board Options Exchange (CBOE), Director of Training di Knight Trading Group (salah satu market maker terbesar di dunia), serta spesialis trading options di Charles Schwab. Pengalamannya juga diperkuat oleh perannya sebagai senior options analyst dan strategist di Ally Invest.
Sebagai pendiri Options Playbook Inc. dan penulis buku best-seller The Options Playbook (Expanded 2nd Edition), Brian dikenal luas sebagai rujukan utama dalam menjelaskan strategi options yang kompleks agar lebih mudah dipahami, baik untuk investor mandiri maupun profesional. Dia telah membawakan ribuan seminar di berbagai negara, menulis ratusan artikel, serta kerap menjadi narasumber di media keuangan ternama seperti The Wall Street Journal, Barron’s, Reuters, Bloomberg, CNBC Fast Money, dan Fox Business. Melalui edukasinya, dia membantu banyak investor menggunakan options secara lebih presisi, baik untuk meningkatkan potensi imbal hasil maupun membantu melindungi portofolio dalam berbagai kondisi pasar.
Dengan rekam jejak institusional yang kuat dan komitmen pada edukasi yang jelas tanpa jargon, Brian dipercaya karena kemampuannya menjembatani teori yang “advanced” menjadi praktik yang realistis dan dapat diterapkan.
Cara Dapat Income dari Saham dengan Covered Call
Memegang saham untuk jangka panjang sering butuh banyak kesabaran. Tapi alih-alih cuma menunggu harga naik, ada cara untuk “mempekerjakan” saham yang kamu miliki agar bisa menghasilkan pemasukan tambahan.
Strategi covered call memungkinkan kamu dapat income sambil tetap memegang saham.
Strategi ini membantu kamu menghasilkan income dari saham yang sudah kamu punya, dengan cara menjual opsi call di atas saham tersebut. Ini juga termasuk salah satu cara paling praktis untuk mulai mengenal options, tanpa harus keluar terlalu jauh dari hal yang sudah familiar.
Mari bahas cara kerja covered call, kenapa pengguna Gotrade mungkin ingin mempertimbangkannya, dan hal-hal yang perlu diwaspadai.
Apa Itu Covered Call?
Covered call adalah strategi untuk menghasilkan income, di mana kamu menjual (atau “write”) opsi call di atas saham yang sudah kamu miliki. Umumnya, kamu menjual 1 kontrak call untuk setiap 100 lembar saham.
Pihak yang menjual opsi sering disebut writer. Saat kamu menjual call option, kamu menerima uang tunai yang disebut premium. Sebagai gantinya, kamu mengambil kewajiban untuk memenuhi kontrak jika pembeli memilih mengeksekusi haknya.
Istilah “write” berasal dari masa awal perdagangan opsi ketika kontrak benar-benar ditulis secara fisik. Sampai sekarang istilahnya masih dipakai.
Sederhananya: penjual menerima premium dan punya kewajiban, sedangkan pembeli punya pilihan.
Karena kamu sudah punya sahamnya, kewajiban kamu itu “covered”. Kamu tidak perlu mencari saham di menit terakhir. Jika terjadi assignment, kamu cukup menyerahkan saham yang sudah kamu pegang.
Kenapa Investor Menggunakan Covered Calls
Alasan utama: menghasilkan income sekarang.
Covered call sering digunakan ketika kamu bullish jangka panjang terhadap sebuah saham, tetapi kamu tidak keberatan menjual saham itu jika harganya naik dalam waktu dekat. Seberapa tinggi? Itu ditentukan oleh strike price dari call option yang kamu jual.
Dalam kondisi seperti itu, menjual call bisa memberi kamu income tambahan sambil tetap memegang saham.
Covered call dapat:
Menghasilkan income tambahan selain dividen
Membantu mengurangi dampak penurunan harga saham (sedikit)
Mendorong disiplin karena kamu menentukan harga jual (exit) sejak awal
Jika harga saham tetap di bawah strike price, opsi biasanya berakhir tanpa nilai (expired worthless). Kamu tetap menyimpan premium dan sahamnya. Jika harga naik sampai strike price, kamu menjual saham di harga lebih tinggi dan tetap menyimpan premium.
Intinya, kamu mengambil keputusan dengan rencana, bukan reaktif karena emosi.
Contoh Sederhana Covered Call
Misalkan kamu punya 100 lembar saham yang sedang diperdagangkan di $80. Kamu suka perusahaannya, tapi kamu tidak keberatan menjual saham itu jika harganya naik.
Kamu lalu menjual call option dengan strike price $85 yang jatuh tempo sekitar 30 hari. Anggap kamu menerima premium $1.00 (setara $100, sebelum komisi).
Dari sini, ada tiga skenario yang mungkin terjadi.
Skenario 1: Harga Saham Tetap di Bawah Strike Price
Jika sampai jatuh tempo harga saham tetap di bawah $85, opsi berakhir tanpa nilai. Kamu menyimpan seluruh premium dan masih memiliki sahamnya. Jika kamu masih menyukai sahamnya, kamu bisa mengulang prosesnya dan menjual call lagi.
Inilah cara banyak investor menghasilkan income rutin dari saham yang sudah mereka punya.
Skenario 2: Harga Saham Naik Sampai Strike Price
Jika harga saham naik di atas $85, call option kemungkinan besar akan dieksekusi dan saham kamu akan “dipanggil” (called away).
Mungkin terasa sedikit “nyesek” kalau harga lanjut naik, tapi ingat: kamu membuat keputusan sadar sejak awal. Kamu menjual call karena kamu memang bersedia menjual saham di harga itu.
Di skenario ini, kamu tetap mendapatkan:
Premium opsi
Keuntungan saham sampai strike price
Upside kamu memang terbatas, tapi kamu tetap untung dan menjalankan rencana sesuai desain.
Tepuk tangan untuk diri sendiri. Atau minta orang lain tepuk tangan kalau kamu kurang lentur.
Skenario 3: Harga Saham Turun
Jika harga saham turun, premium yang kamu terima bisa membantu mengurangi kerugian, tapi tidak menghilangkannya.
Risiko utama covered call berasal dari memegang saham, bukan dari menjual opsinya. Kalau saham turun tajam, premium hanya menutup sebagian penurunan itu.
Kabar baiknya, kamu tidak terkunci. Jika harga turun dan pandanganmu berubah, call option yang kamu jual kemungkinan ikut turun nilainya. Kamu bisa membelinya kembali (buy to close) dengan harga lebih murah, menghapus kewajiban, lalu memutuskan langkah berikutnya untuk saham tersebut.
Punya rencana dari awal membuat keputusan seperti ini jauh lebih mudah.
Memilih Saham yang Tepat
Saat baru mulai, fokuslah pada saham yang sudah kamu punya dan kamu memang nyaman jika harus menjualnya di harga yang lebih tinggi.
Perhatikan juga kalender perusahaan, karena event seperti laporan earnings bisa memengaruhi premium opsi. Premium yang tinggi sering mengindikasikan potensi pergerakan harga yang lebih besar setelah event, jadi jadikan ini konteks tambahan dalam keputusanmu.
Menentukan Strike Price dan Jatuh Tempo
Kebanyakan investor menjual call dengan strike price di atas harga saham saat ini, agar saham punya ruang untuk naik sebelum kemungkinan dipanggil.
Sebagai titik awal, banyak yang memilih jatuh tempo sekitar 30–45 hari. Rentang ini sering memberi keseimbangan yang masuk akal antara premium yang diterima dan tingkat “prediktabilitas”.
Ingat: di options, waktu itu uang. Semakin jauh jatuh tempo, biasanya premium lebih besar tapi semakin sulit memprediksi apa yang akan terjadi.
Kuncinya: pilih strike price yang benar-benar membuat kamu nyaman untuk menjual saham.
Assignment Bukan Akhir Dunia
Kalau saham kamu “dipanggil” artinya kamu terkena assignment. Proses ini terjadi secara acak melalui sistem kliring opsi.
Assignment bukan berarti ada yang salah. Itu hanya berarti rencana kamu berjalan. Kamu menjual saham di harga yang sudah kamu tentukan sebelumnya dan mengumpulkan income di sepanjang jalan.
Karena kewajiban kontrak akan jatuh tempo, kamu mungkin perlu menyelamatkan mentalmu dengan berhenti mengecek harga saham kalau ternyata ia terus naik.
Setiap orang punya kondisi yang berbeda, jadi pastikan kamu benar-benar paham kewajibanmu. Kalau harga saham berada di atas strike price menjelang atau saat jatuh tempo, kamu mungkin harus menjual saham di harga yang sudah ditetapkan kepada pemegang opsi.
Penutup
Covered call bukan strategi cepat kaya. Tujuannya adalah meningkatkan konsistensi, menghasilkan income tambahan secara bertahap, dan membuat keputusan yang lebih terencana.
Untuk pengguna Gotrade yang sudah memegang saham, covered call bisa jadi cara yang praktis untuk membuat saham tersebut “bekerja”. Ingat poin ini:
Hanya jual call pada saham yang kamu rela untuk dijual
Tahu rencana kamu jika saham naik, turun, atau stagnan
Masuk posisi selalu dengan rencana
Dapatkan income tambahan sambil tetap memegang saham tapi pastikan kamu memang memegangnya dengan alasan yang tepat.












