Saham travel AS menjadi perhatian investor global seiring pemulihan industri pariwisata yang terus menguat. Dengan total belanja perjalanan di Amerika Serikat mencapai US$1,35 triliun pada 2025, sektor ini menawarkan peluang investasi menarik bagi investor Indonesia.
Tiga perusahaan mendominasi sektor ini: Delta Air Lines sebagai maskapai premium, Booking Holdings sebagai raja platform perjalanan online, dan Marriott International sebagai jaringan hotel terbesar dunia. Artikel ini membahas fundamental ketiga saham tersebut dan cara membelinya.
Outlook Industri Travel AS Pasca Recovery
Industri perjalanan AS telah pulih signifikan dari dampak pandemi. Menurut U.S. Travel Association, sektor ini menyumbang sekitar 9% terhadap PDB dan menopang lebih dari 15 juta lapangan kerja.
Pada 2026, kedatangan wisatawan internasional ke AS diproyeksikan tumbuh 3,7% menjadi sekitar 70,4 juta pengunjung. Momentum ini didorong oleh event besar seperti FIFA World Cup 2026 dan perayaan America 250.
Belanja domestik tetap menjadi penopang utama
Belanja wisata domestik AS masih menjadi komponen terbesar dari total spending industri. Konsumen Amerika terus membelanjakan uang untuk perjalanan meski menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Tantangan di balik pemulihan
Dilansir Deloitte, sentimen konsumen mulai menunjukkan kehati-hatian finansial. Traveler dari kelompok pendapatan tinggi mulai memangkas frekuensi dan durasi perjalanan mereka.
Namun segmen premium dan ultra-luxury masih relatif tahan terhadap perlambatan ini.
Delta Air Lines: Maskapai Premium dengan Margin Terbaik
Delta Airlines (DAL) mencatatkan pendapatan rekor US$58,3 miliar pada 2025, naik dari tahun sebelumnya. Operating margin perusahaan mencapai 10% dengan laba sebelum pajak US$5 miliar.
Free cash flow rekor
Delta menghasilkan free cash flow tertinggi dalam sejarah perusahaan sebesar US$4,6 miliar pada 2025. Dana ini digunakan untuk mengurangi utang bersih sebesar US$3,7 miliar.
Pendapatan terdiversifikasi
Revenue stream Delta semakin beragam. Pendapatan dari kemitraan American Express tumbuh 11% menjadi US$8,2 miliar, mencerminkan kekuatan program loyalitas mereka.
Prospek 2026
Manajemen menargetkan pertumbuhan EPS sekitar 20% year-over-year pada 2026 dengan panduan EPS US$6,50 hingga US$7,50. Hasil kuartal pertama 2026 sudah menunjukkan pertumbuhan laba lebih dari 40% dibanding tahun lalu.
Booking Holdings: Dominasi di Industri Online Travel
Booking Holdings (BKNG) adalah induk dari Booking.com, Priceline, Agoda, dan Kayak. Perusahaan ini mencatatkan revenue US$26,9 miliar pada 2025, tumbuh 13% year-over-year.
Margin yang terus melebar
Adjusted EBITDA Booking Holdings meningkat 20% menjadi US$9,9 miliar dengan margin 36,9%. Angka ini naik dari 35,0% di tahun sebelumnya, menunjukkan efisiensi operasional yang semakin baik.
Gross bookings tumbuh signifikan
Total gross bookings tumbuh 16% pada 2025. Pertumbuhan ini mencerminkan dominasi platform Booking dalam menangkap belanja perjalanan global.
Jika kamu tertarik memahami cara investasi saham AS secara umum, penting untuk memahami fundamental perusahaan sebelum membeli.
Market cap dan stock split
Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$133 miliar per April 2026, Booking Holdings adalah salah satu perusahaan travel paling bernilai di dunia. Perusahaan juga mengumumkan stock split 25-untuk-1 yang efektif April 2026, membuat harga per lembar saham lebih terjangkau.
Mulai investasi saham AS sekarang. Dengan Gotrade, kamu bisa beli saham travel AS seperti Delta, Booking, dan Marriott mulai dari US$1.
Marriott International: Bisnis Hotel Global Terbesar
Marriott (MAR) mengoperasikan lebih dari 9.700 properti dengan 1,75 juta kamar di seluruh dunia. Portfolio merek mereka mencakup dari luxury (Ritz-Carlton, St. Regis, W Hotels) hingga midscale (Courtyard, Fairfield).
Revenue dan pertumbuhan
Pendapatan Marriott pada 2025 mencapai US$6,98 miliar, tumbuh 5,5% dibanding tahun sebelumnya. Model bisnis asset-light membuat Marriott menghasilkan margin yang solid tanpa harus memiliki properti secara langsung.
Pipeline pengembangan masif
Marriott memiliki pipeline pengembangan sebanyak 4.056 properti dengan hampir 610.000 kamar. Pipeline ini menjamin pertumbuhan jangka panjang tanpa pengeluaran modal besar.
Strategi diversifikasi portofolio dengan menambahkan saham dari berbagai sektor, termasuk melalui ETF, bisa membantu mengurangi risiko investasi secara keseluruhan.
Cara Beli Saham Travel AS lewat Gotrade
Membeli saham travel AS kini mudah dilakukan dari Indonesia. Gotrade menyediakan akses langsung ke bursa saham Amerika Serikat.
Buka akun dan verifikasi
Unduh aplikasi Gotrade, daftar dengan email, dan selesaikan proses KYC. Verifikasi biasanya selesai dalam hitungan menit.
Pilih saham dan tentukan nominal
Cari ticker saham yang diinginkan (DAL, BKNG, atau MAR). Dengan fitur fractional shares, kamu bisa membeli mulai dari US$1 tanpa harus membeli satu lot penuh.
Eksekusi dan pantau
Lakukan pembelian dan pantau portofoliomu secara berkala. Gotrade tidak mengenakan komisi trading sehingga biaya investasimu tetap rendah.
Kesimpulan
Industri travel AS menawarkan tiga peluang investasi berbeda: Delta Air Lines dengan margin maskapai terbaik dan pendapatan rekor, Booking Holdings dengan dominasi platform online travel dan margin EBITDA 37%, serta Marriott International dengan jaringan hotel terbesar di dunia dan pipeline pengembangan yang masif.
Ketiga saham ini mencerminkan segmen berbeda dari rantai nilai pariwisata. Diversifikasi di antara ketiganya memberikan eksposur menyeluruh terhadap pemulihan sektor travel.
Mulai investasi di saham travel AS sekarang lewat Gotrade. Beli saham fractional mulai dari US$1, tanpa komisi, langsung dari smartphone.
FAQ
Apakah bisa beli saham Delta Airlines dari Indonesia?
Bisa, melalui aplikasi Gotrade yang menyediakan akses langsung ke bursa saham AS mulai dari US$1.
Berapa modal minimum untuk investasi saham travel AS?
Dengan fitur fractional shares di Gotrade, kamu bisa mulai investasi saham pariwisata AS hanya dengan US$1.
Apa risiko utama investasi di sektor travel?
Sektor travel sensitif terhadap perlambatan ekonomi, harga bahan bakar, dan perubahan kebijakan perjalanan internasional.












