Drawdown adalah bagian yang tidak terpisahkan dari investasi dan trading. Bahkan portofolio dengan strategi terbaik sekalipun akan mengalami periode penurunan nilai. Masalahnya, banyak investor tidak siap secara mental dan struktural saat drawdown terjadi. Akibatnya, keputusan yang diambil justru memperparah kerugian.
Memahami mengelola drawdown bukan berarti menghindari kerugian sepenuhnya, tetapi tentang bagaimana membatasi dampaknya agar portofolio tetap bertahan dan bisa pulih. Dengan pendekatan manajemen risiko yang tepat, drawdown dapat dikendalikan tanpa merusak strategi jangka panjang.
Artikel ini membahas cara mengelola drawdown secara praktis dan realistis, khususnya untuk investor dan trader aktif.
Cara Mengelola Drawdown
Mengelola drawdown membutuhkan kombinasi antara perencanaan, disiplin, dan kontrol emosi. Berikut pendekatan yang dapat diterapkan.
Menentukan toleransi drawdown sejak awal
Langkah pertama adalah menentukan batas drawdown yang masih bisa diterima. Setiap investor memiliki toleransi berbeda tergantung tujuan, horizon waktu, dan kondisi keuangan.
Tanpa batas yang jelas, drawdown sering dibiarkan membesar tanpa kendali.
Mengatur position sizing secara konservatif
Ukuran posisi yang terlalu besar adalah penyebab utama drawdown dalam. Dengan position sizing yang proporsional, kerugian pada satu posisi tidak langsung merusak seluruh portofolio.
Position sizing adalah fondasi manajemen risiko.
Diversifikasi aset dan strategi
Diversifikasi membantu menyebar risiko. Drawdown pada satu aset tidak langsung menarik seluruh portofolio ke bawah. Diversifikasi bisa dilakukan antar sektor, aset, maupun pendekatan strategi.
Menghindari korelasi tersembunyi
Banyak portofolio terlihat terdiversifikasi, tetapi sebenarnya memiliki korelasi tinggi. Saat market turun, seluruh aset jatuh bersamaan. Memahami korelasi membantu mengurangi drawdown sistemik.
Disiplin menggunakan stop loss
Stop loss membantu membatasi kerugian per posisi. Tanpa stop loss, drawdown bisa berkembang dari kerugian kecil menjadi besar. Namun stop loss perlu disesuaikan dengan karakter aset dan timeframe.
Menghindari overtrading saat drawdown
Saat portofolio turun, dorongan untuk “balas dendam” sering muncul. Overtrading justru memperbesar drawdown. Mengurangi frekuensi trading sering lebih efektif daripada menambahnya.
Mengelola ekspektasi return
Ekspektasi return yang terlalu tinggi mendorong pengambilan risiko berlebihan. Risiko ini memperbesar drawdown saat kondisi market tidak ideal. Ekspektasi realistis membantu menjaga konsistensi.
Menyimpan cash sebagai penyangga
Cash bukan musuh return. Cash memberi fleksibilitas saat drawdown terjadi, baik untuk bertahan maupun memanfaatkan peluang. Tanpa cash buffer, investor terpaksa menjual di saat terburuk.
Memisahkan strategi jangka pendek dan panjang
Mencampur strategi jangka pendek dan jangka panjang sering memperparah drawdown. Kerugian trading jangka pendek bisa mengganggu investasi jangka panjang. Pemisahan strategi membantu evaluasi yang lebih objektif.
Evaluasi strategi, bukan menyalahkan market
Drawdown adalah momen evaluasi. Fokuskan pada apakah strategi masih valid, bukan pada emosi atau faktor eksternal. Evaluasi objektif membantu perbaikan berkelanjutan.
Mengelola risiko per periode, bukan hanya per posisi
Selain risiko per posisi, penting mengatur risiko per hari, minggu, atau bulan. Batas kerugian periodik membantu menghentikan spiral drawdown. Pendekatan ini umum digunakan trader profesional.
Menjaga disiplin psikologis
Drawdown sering lebih berat secara mental daripada finansial. Ketakutan, frustasi, dan keraguan muncul bersamaan. Kesadaran emosi membantu mencegah keputusan impulsif.
Tidak mengubah strategi di titik terburuk
Banyak investor mengganti strategi saat drawdown mendekati puncak terburuk. Ini sering terjadi tepat sebelum performa membaik. Perubahan strategi perlu data, bukan panik.
Memahami bahwa drawdown adalah bagian dari proses
Tidak ada strategi tanpa drawdown. Yang membedakan investor bertahan dan gagal adalah kemampuan mengelola drawdown. Penerimaan ini penting untuk konsistensi.
Dilansir dari Investopedia, drawdown merupakan metrik penting dalam manajemen risiko karena menunjukkan seberapa besar kerugian maksimum yang harus ditoleransi sebelum portofolio pulih.
Kesimpulan
Mengelola drawdown bukan tentang menghindari kerugian, tetapi tentang membatasi dampaknya agar portofolio tetap sehat dan berkelanjutan.
Dengan menentukan toleransi drawdown, mengatur position sizing, menjaga diversifikasi, serta disiplin dalam manajemen risiko, investor dapat melewati fase penurunan tanpa merusak strategi jangka panjang. Drawdown adalah ujian ketahanan, bukan tanda kegagalan.
Jika kamu ingin membangun portofolio saham dan ETF global dengan pendekatan risiko yang lebih terukur, Gotrade Indonesia adalah aplikasi investasi terbaik untuk menjalankan strategi sesuai profil dan tujuanmu.
FAQ
Apa itu drawdown dalam portofolio?
Drawdown adalah penurunan nilai portofolio dari puncak tertinggi ke titik terendah sebelum pulih kembali.
Berapa drawdown yang masih wajar untuk investor?
Tergantung profil risiko, tetapi investor jangka panjang umumnya perlu siap menghadapi drawdown 10–20 persen.
Apakah drawdown selalu berarti strategi gagal?
Tidak. Drawdown adalah bagian alami dari investasi selama strategi masih dijalankan secara disiplin.











