PBV = Harga Pasar per Saham ÷ Nilai Buku per Saham
Sedangkan Nilai Buku per Saham (Book Value per Share) dapat dihitung dengan:
Book Value per Share = Ekuitas Pemegang Saham ÷ Jumlah Saham Beredar
Langkah praktisnya:
a. Cari data ekuitas perusahaan pada laporan keuangan (neraca).
b. Bagi ekuitas dengan jumlah saham beredar untuk mendapatkan nilai buku per saham.
c. Bagi harga pasar saham dengan nilai buku per saham.Hasil akhirnya adalah angka rasio PBV.
Interpretasi Nilai PBV
PBV bukan sekadar angka, menurut Wall Street Prep, investor juga perlu tahu bagaimana cara membaca hasilnya agar analisis lebih bermakna.
- PBV < 1
Harga pasar saham lebih rendah dari nilai bukunya. Sering diartikan sebagai saham undervalued, meski bisa juga menunjukkan perusahaan sedang menghadapi masalah serius. - PBV = 1
Harga pasar saham sama dengan nilai bukunya. Saham dianggap wajar. - PBV > 1
Harga pasar saham lebih tinggi dari nilai bukunya. Bisa berarti pasar optimis terhadap prospek perusahaan, tetapi juga bisa menunjukkan saham sudah mahal (overvalued).
Interpretasi PBV harus selalu dikaitkan dengan industri. Saham perbankan biasanya memiliki PBV di atas 1 karena pasar menghargai stabilitas dan potensi pertumbuhan. Sebaliknya, sektor yang sedang lesu bisa saja diperdagangkan dengan PBV di bawah 1.
Contoh Perhitungan PBV
Bayangkan sebuah perusahaan memiliki ekuitas Rp10 triliun dan jumlah saham beredar 5 miliar lembar.
- Book Value per Share = Rp10 triliun ÷ 5 miliar = Rp2.000
- Harga Pasar per Saham saat ini = Rp3.000
- PBV = Rp3.000 ÷ Rp2.000 = 1,5
Artinya, saham perusahaan tersebut diperdagangkan 1,5 kali nilai bukunya. Investor bisa menafsirkan bahwa pasar bersedia membayar lebih karena optimis pada prospek perusahaan.
Sebaliknya, jika harga pasar saham hanya Rp1.500, maka PBV = 0,75. Ini menunjukkan saham diperdagangkan lebih murah dari nilai bukunya, meskipun investor harus mengecek apakah ada risiko fundamental yang membuat pasar menekan harga.
Cara Menggunakan PBV Saat Menganalisis Saham
PBV sebaiknya tidak dibaca sendirian. Angka PBV baru lebih berguna jika dibandingkan dengan perusahaan lain di sektor yang sama, lalu dikombinasikan dengan rasio profitabilitas seperti ROE.
Sebagai contoh, kamu bisa membandingkan tiga saham bank besar AS berikut:
| Saham | PBV | ROE | Catatan Awal |
|---|
| JPMorgan Chase (JPM) | 2,39x | 16,00% | Valuasi lebih tinggi, tetapi didukung ROE yang juga lebih kuat. |
| Bank of America (BAC) | 1,33x | 10,00% | PBV lebih rendah, tetapi profitabilitasnya juga lebih rendah dibanding JPM. |
| Wells Fargo (WFC) | 1,41x | 11,00% | PBV sedikit lebih tinggi dari BAC, dengan ROE yang juga sedikit lebih baik. |
Dari contoh ini, BAC tidak otomatis lebih menarik hanya karena memiliki PBV paling rendah. PBV yang rendah bisa menunjukkan saham terlihat lebih murah, tetapi investor tetap perlu mengecek apakah profitabilitas perusahaan cukup kuat.
Sebaliknya, JPM memiliki PBV paling tinggi di antara ketiganya. Namun, ROE JPM juga paling besar. Ini menunjukkan bahwa pasar mungkin memberi valuasi lebih tinggi karena perusahaan dianggap mampu menghasilkan laba terhadap ekuitas dengan lebih efisien.
WFC berada di tengah, dengan PBV dan ROE yang sedikit lebih tinggi dari BAC. Dalam kondisi seperti ini, investor perlu melihat faktor lanjutan seperti tren laba, kualitas aset, pertumbuhan kredit, efisiensi operasional, dan risiko spesifik perusahaan.
Agar analisis lebih terukur, kamu bisa memakai urutan sederhana berikut:
Cari PBV perusahaan yang ingin dianalisis.
Bandingkan PBV dengan perusahaan lain di sektor yang sama.
Cek ROE untuk melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari ekuitasnya.
Periksa tren laba, utang, kualitas aset, dan prospek bisnis.
Baru simpulkan apakah saham terlihat murah, mahal, atau masih perlu dianalisis lebih lanjut.
Melalui cara ini, PBV tidak hanya menjadi angka valuasi, tetapi bagian dari proses analisis yang lebih lengkap. PBV rendah belum tentu berarti saham murah, dan PBV tinggi belum tentu berarti saham mahal jika didukung kualitas bisnis yang kuat.
Penerapan PBV dalam Analisis Saham
Menggunakan price to book value sebagai alat analisis bisa membantu investor dalam beberapa hal:
- Screening saham murah
PBV bisa menjadi filter awal untuk menemukan saham undervalued. Namun, perlu dicek lebih lanjut apakah perusahaan memang sehat secara fundamental. - Membandingkan antarperusahaan
PBV efektif dipakai untuk membandingkan perusahaan dalam industri yang sama, misalnya antarbank di Indonesia. Perusahaan dengan PBV jauh di bawah rata-rata industri bisa menjadi kandidat investasi menarik. - Mengukur ekspektasi pasar
PBV yang tinggi menunjukkan pasar punya ekspektasi positif terhadap pertumbuhan. Ini bisa relevan untuk saham blue chip atau sektor yang sedang booming. - Kombinasi dengan rasio lain
PBV lebih kuat jika digunakan bersama PER (Price to Earnings Ratio) atau ROE (Return on Equity). Kombinasi rasio ini memberi gambaran lebih lengkap tentang valuasi dan profitabilitas perusahaan.
Kesimpulan
Memahami cara menghitung price to book value adalah keterampilan dasar yang sebaiknya dimiliki setiap investor. Dengan mengetahui PBV, kita bisa menilai apakah harga saham sudah masuk akal dibandingkan nilai bukunya.
Namun, jangan hanya terpaku pada angka. Price to book value harus dianalisis bersama indikator lain dan dipahami dalam konteks industri. Dengan cara ini, investor dapat membuat keputusan yang lebih rasional dan selaras dengan tujuan investasi jangka panjang.
Sudah siap menilai valuasi saham secara cerdas? Mulai investasi di Gotrade dan pilih saham kelas dunia seperti Apple, Microsoft, dan Tesla langsung dari aplikasi Android dan iOS.
FAQ
1. Apakah PBV selalu akurat dalam menilai saham?
→ Tidak. PBV hanya salah satu indikator. Nilai rendah bisa berarti saham murah, tapi juga bisa menandakan ada masalah dalam perusahaan.
2. Sektor apa yang paling relevan menggunakan PBV?
→ PBV paling sering digunakan untuk sektor keuangan seperti perbankan dan asuransi, di mana nilai aset tercatat lebih jelas di neraca.