Copper dan Boom EV: Proyeksi dan Dampak Harga Copper pada EV

Copper dan Boom EV: Proyeksi dan Dampak Harga Copper pada EV

Share this article

Transisi global menuju kendaraan listrik tidak hanya mengubah industri otomotif. Ia juga menciptakan salah satu katalis permintaan terkuat yang pernah ada untuk satu komoditas: copper atau tembaga. Di balik setiap EV yang melaju, ada puluhan kilogram tembaga yang bekerja diam-diam di dalam sistemnya.

Berapa Kilo Copper dalam 1 Mobil Listrik vs Konvensional?

Perbedaannya jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Kendaraan berbahan bakar konvensional menggunakan sekitar 20-25 kg tembaga, sebagian besar untuk sistem kelistrikan dasar dan komponen elektronik. Kendaraan listrik membutuhkan 60-80 kg tembaga per unitnya, hampir empat kali lipatnya, seperti dilansir dari Copper.org.

Mengapa sebanyak itu? Copper adalah konduktor listrik terbaik yang tersedia secara massal dan terjangkau. Di dalam EV, tembaga digunakan di hampir setiap komponen kritis:

  • Motor listrik: menggunakan lilitan tembaga dalam jumlah besar untuk mengubah energi listrik menjadi tenaga gerak
  • Baterai dan sistem manajemen daya: kabel dan busbar tembaga menghubungkan sel baterai dan mengatur distribusi energi
  • Sistem pengisian daya: charger onboard dan kabel pengisian membutuhkan konduktor tembaga berkapasitas tinggi
  • Inverter dan elektronik daya: komponen yang mengkonversi arus DC baterai ke AC untuk motor

Belum termasuk infrastruktur di luarnya. Setiap charging station membutuhkan tembaga tambahan, dan jaringan listrik yang harus diperkuat untuk menopang beban EV skala masif juga sangat bergantung pada tembaga.

Proyeksi Permintaan Copper dari Industri EV 2030

Angka-angka proyeksi permintaan copper dari sektor energi bersih konsisten menunjukkan satu arah: naik tajam.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan tembaga dari sektor energi terbarukan dan elektrifikasi transportasi akan berlipat ganda atau lebih dalam satu dekade ke depan. Dengan target penjualan EV global yang terus meningkat, sektor ini diproyeksikan menjadi salah satu sumber permintaan copper terbesar pada 2030, bersaing dengan konstruksi dan infrastruktur tradisional yang selama ini mendominasi.

Yang membuat proyeksi ini signifikan bukan hanya skala absolutnya, tapi kecepatan pertumbuhannya. Permintaan industrial copper dari sektor konvensional tumbuh bertahap mengikuti siklus ekonomi. Permintaan dari EV dan energi terbarukan bersifat struktural dan dipacu oleh kebijakan pemerintah di seluruh dunia yang tidak bergantung pada siklus ekonomi biasa.

Dampak ke Harga Copper Jangka Panjang

Pertumbuhan permintaan dari EV berbenturan dengan satu kenyataan yang tidak bisa diubah dalam jangka pendek: membuka tambang tembaga baru membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun dari eksplorasi hingga produksi penuh.

Kombinasi antara lonjakan permintaan struktural dan keterbatasan pasokan jangka menengah inilah yang membuat banyak analis komoditas memproyeksikan tekanan ke atas pada harga copper dalam jangka panjang. Ini bukan siklus biasa yang mengikuti naik turunnya ekonomi, melainkan pergeseran struktural yang lebih dalam dan lebih tahan lama.

Faktor penguat lainnya adalah konsentrasi produksi copper global. Chile dan Peru bersama-sama menghasilkan sekitar 40% produksi copper dunia. Ketergantungan yang terkonsentrasi ini membuat pasokan global rentan terhadap gangguan dari satu atau dua negara saja.

Ingin eksposur ke tren copper jangka panjang? Di Gotrade, kamu bisa mengakses saham tambang copper seperti SCCO dan ETF materials dari pasar AS. Mulai dari US$1.

Risiko Pasokan dari Geopolitik

Tren jangka panjang yang kuat tidak berarti bebas dari gangguan. Ada beberapa risiko pasokan yang perlu dipahami investor copper:

  • Konsentrasi geografis: dengan Chile dan Peru mendominasi produksi, ketidakstabilan politik, mogok buruh di tambang besar, atau bencana alam di kawasan tersebut bisa langsung menggerakkan harga global secara signifikan
  • Nasionalisasi dan kebijakan ekspor: beberapa negara produsen copper mulai mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat terhadap ekspor bahan mentah, mendorong harga di pasar internasional
  • Ketegangan perdagangan AS-China: China adalah konsumen copper terbesar di dunia. Eskalasi ketegangan perdagangan yang memengaruhi aktivitas manufaktur China bisa menekan permintaan lebih cepat dari yang diantisipasi
  • Transisi teknologi yang lebih lambat dari ekspektasi: jika adopsi EV melambat karena hambatan infrastruktur, harga baterai yang stagnan, atau perubahan kebijakan subsidi, proyeksi permintaan copper dari sektor ini bisa direvisi ke bawah

Manajemen risiko komoditas yang baik berarti memahami bahwa thesis jangka panjang yang kuat tidak menghilangkan volatilitas jangka pendek yang bisa sangat tajam.

Cara Investor Memanfaatkan Tren Ini

Bagi investor Indonesia yang ingin eksposur ke tema copper dan EV, ada beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan:

Saham tambang copper

Southern Copper (SCCO) adalah yang paling langsung dan paling likuid. Sebagai produsen copper terbesar yang tercatat di bursa AS, FCX memberikan leverage alami terhadap kenaikan harga copper. Investasi di saham tambang copper membawa risiko operasional perusahaan di luar harga komoditas, tapi juga potensi upside yang lebih besar dari ETF.

ETF materials dan komoditas

ETF seperti XME atau COPX memberikan eksposur terdiversifikasi ke sektor tambang dan materials tanpa risiko konsentrasi pada satu perusahaan.

Saham EV dan infrastruktur pengisian

Secara tidak langsung, pertumbuhan EV yang mendorong permintaan copper juga bisa diakses melalui saham perusahaan EV atau produsen infrastruktur pengisian yang diuntungkan dari tren yang sama.

Kunci dari semua pendekatan ini adalah memahami bahwa tren copper EV adalah thesis jangka panjang yang membutuhkan kesabaran. Volatilitas jangka pendek dari sentimen makro, data China, atau gangguan pasokan akan selalu ada, tapi arah strukturalnya sudah cukup jelas untuk satu hingga dua dekade ke depan.

Kesimpulan

Setiap kendaraan listrik yang diproduksi adalah pesanan tembaga yang tidak bisa digantikan oleh material lain dalam waktu dekat. Dengan EV yang diproyeksikan mendominasi penjualan kendaraan global dalam dekade ke depan, permintaan copper dari sektor ini akan terus tumbuh jauh di atas kemampuan pasokan tambang baru untuk mengejarnya.

Bagi investor yang melihat tren jangka panjang dengan sabar, ini adalah salah satu thesis komoditas paling terstruktur yang tersedia saat ini.

Siap membangun eksposur ke tema ini? Gunakan aplikasi Gotrade dan akses saham tambang copper serta ETF materials dari pasar AS mulai dari US$1.

FAQ

Apakah ada material pengganti copper di kendaraan listrik?
Aluminium bisa digunakan di beberapa kabel karena lebih ringan, tetapi konduktivitasnya lebih rendah. Untuk motor dan baterai, belum ada pengganti copper yang ekonomis dalam skala besar.

Apakah harga copper pasti naik karena tren EV?
Tidak. EV adalah katalis jangka panjang, tetapi harga copper tetap dipengaruhi ekonomi China, dolar AS, dan sentimen global.

Apakah FCX satu-satunya cara berinvestasi di copper?
Tidak. Selain FCX, ETF seperti COPX memberikan eksposur ke beberapa perusahaan tambang sekaligus untuk diversifikasi.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade