Ketika harga Bitcoin mengalami penurunan tajam, perhatian investor tidak hanya tertuju pada aset kripto itu sendiri, tetapi juga pada saham-saham yang memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin. Salah satu yang paling sering dibahas adalah MicroStrategy atau Strategy, Inc. Saham ini kerap disebut sebagai “proxy Bitcoin” di pasar saham Amerika.
Namun, apakah penurunan harga Bitcoin selalu berarti tekanan yang sama pada saham MicroStrategy? Atau justru risikonya bisa lebih besar? Artikel ini membahas hubungan Bitcoin dan MicroStrategy secara objektif, termasuk risiko tambahan yang perlu dipahami investor.
Penyebab Harga Bitcoin Terus Turun
Penurunan harga Bitcoin umumnya tidak berdiri sendiri. Dalam banyak kasus, pergerakannya berkaitan erat dengan kondisi makro dan sentimen global. Melansir Investopedia, seperti:
Sentimen risk-off
Salah satu faktor utama adalah sentimen risk-off. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto. Bitcoin, meskipun sering disebut sebagai alternatif aset, dalam praktiknya masih diperlakukan sebagai aset berisiko tinggi.
Likuiditas
Faktor lain adalah kondisi likuiditas global. Kebijakan moneter yang ketat, suku bunga tinggi, atau pengetatan likuiditas membuat aliran dana ke aset spekulatif berkurang. Dalam situasi ini, tekanan jual pada Bitcoin sering meningkat.
Pengaruh aset lain
Selain itu, korelasi dengan aset berisiko lain seperti saham teknologi juga berperan. Ketika saham growth tertekan, Bitcoin sering ikut terdampak karena berada dalam kategori risk asset yang sama di mata investor institusional.
Apa Kaitan Saham MicroStrategy dengan Bitcoin?
MicroStrategy, atau sekarang jadi Strategy Inc, adalah perusahaan software yang secara agresif mengalokasikan cadangan kasnya ke Bitcoin. Karena kepemilikan Bitcoin yang sangat besar, saham MicroStrategy (MSTR) sering diperlakukan sebagai representasi tidak langsung dari pergerakan harga Bitcoin.
Ketika Bitcoin naik, nilai aset Bitcoin yang dimiliki MicroStrategy meningkat, sehingga persepsi nilai perusahaan ikut naik. Sebaliknya, ketika Bitcoin turun, tekanan terhadap valuasi MicroStrategy juga meningkat.
Inilah alasan mengapa saham MSTR sering disebut sebagai proxy Bitcoin, terutama bagi investor pasar saham yang tidak memiliki akses langsung atau tidak ingin memegang kripto secara langsung.
Kalau kamu ingin memahami eksposur Bitcoin lewat pasar saham, memahami hubungan MSTR dan Bitcoin adalah langkah awal yang penting sebelum mengambil keputusan investasi.
Pergerakan Saham MicroStrategy saat Bitcoin Turun
Saat Bitcoin turun, saham MSTR cenderung mengalami penurunan yang lebih tajam. Hal ini terjadi karena saham MicroStrategy tidak hanya merefleksikan harga Bitcoin, tetapi juga sentimen pasar saham, likuiditas, dan faktor leverage perusahaan.
Sebaliknya, saat Bitcoin naik, MSTR juga sering naik lebih agresif. Ini menciptakan efek leverage tidak langsung bagi investor saham.
Namun, volatilitas yang lebih tinggi ini berarti risiko yang lebih besar. Investor tidak hanya menghadapi fluktuasi harga Bitcoin, tetapi juga fluktuasi pasar saham secara umum.
Risiko Saham MicroStrategy Dibanding Bitcoin
Berinvestasi di saham MicroStrategy membawa risiko yang berbeda dibanding memegang Bitcoin langsung.
- Pertama adalah risiko leverage perusahaan. MicroStrategy menggunakan instrumen utang untuk membeli Bitcoin. Saat harga Bitcoin turun, beban leverage ini menjadi faktor risiko tambahan yang tidak dimiliki oleh pemegang Bitcoin spot.
- Kedua adalah risiko bisnis inti. Selain Bitcoin, MicroStrategy tetaplah perusahaan software dengan performa bisnis sendiri. Kinerja operasional yang lemah dapat memperburuk tekanan pada saham, terlepas dari pergerakan Bitcoin.
- Ketiga adalah risiko volatilitas saham. Saham MSTR diperdagangkan di bursa saham dan tunduk pada dinamika pasar ekuitas, termasuk aksi jual massal, rebalancing portofolio, dan perubahan sentimen sektor teknologi.
Artinya, saham MicroStrategy membawa lapisan risiko tambahan di luar pergerakan harga Bitcoin.
Apakah Saham MicroStrategy jadi Alternatif?
Jawabannya sangat bergantung pada tujuan dan profil risiko investor.
Saham MicroStrategy bisa relevan dipertimbangkan oleh investor yang:
-
Memahami volatilitas tinggi
-
Ingin eksposur Bitcoin lewat pasar saham
-
Siap menghadapi fluktuasi yang lebih agresif
Namun, saham ini sebaiknya dihindari oleh investor yang:
-
Mencari stabilitas
-
Tidak nyaman dengan leverage
-
Tidak siap menghadapi drawdown besar
MicroStrategy bukan pengganti Bitcoin yang lebih “aman”. Dalam banyak kondisi, risikonya justru lebih tinggi.
Pendekatan yang lebih sehat adalah melihat MSTR sebagai instrumen dengan karakteristik berbeda, bukan sekadar alternatif Bitcoin.
Kesimpulan
Saat harga Bitcoin terjun, saham MicroStrategy hampir selalu ikut terdampak, sering kali dengan volatilitas yang lebih besar. Hal ini terjadi karena MSTR berfungsi sebagai proxy Bitcoin, sekaligus membawa risiko tambahan dari leverage dan bisnis perusahaan.
Saham MicroStrategy bisa menjadi pilihan bagi investor dengan toleransi risiko tinggi dan pemahaman yang matang. Namun, bagi investor yang menginginkan eksposur lebih langsung dan sederhana, perbedaan risiko ini perlu dipertimbangkan dengan serius.
Jika kamu ingin mengeksplorasi saham-saham global seperti MicroStrategy dan memahami risikonya secara lebih terukur, kamu bisa mempelajari dan mengakses saham MSTR melalui aplikasi Gotrade sesuai dengan strategi investasimu.
FAQ
Kenapa MicroStrategy disebut proxy Bitcoin?
Karena perusahaan memiliki kepemilikan Bitcoin yang sangat besar, sehingga pergerakan sahamnya sangat dipengaruhi harga Bitcoin.
Apakah risiko saham MicroStrategy lebih besar dari Bitcoin?
Ya. Selain risiko harga Bitcoin, ada risiko leverage dan risiko bisnis perusahaan.
Apakah MicroStrategy cocok untuk investor pemula?
Umumnya tidak, kecuali pemula sudah memahami volatilitas tinggi dan risiko yang menyertainya.











