Dalam beberapa tahun tertentu, perayaan Imlek dan Lebaran bisa jatuh dalam rentang waktu yang berdekatan. Bagi investor, kondisi ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah dua momentum budaya besar ini benar-benar bisa memengaruhi pergerakan pasar saham, atau hanya kebetulan kalender semata?
Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Dalam studi perilaku pasar, faktor musiman dan psikologis sering kali memengaruhi likuiditas, volatilitas, hingga sentimen investor. Imlek dan Ramadan menjelang Lebaran termasuk periode yang kerap dikaitkan dengan perubahan pola aktivitas ekonomi dan pasar.
Namun, untuk memahami dampaknya secara objektif, kita perlu melihat data historis, pola yang pernah muncul, dan konteks pasar yang lebih luas.
Pola Musiman Imlek dalam Pasar Saham Global
Imlek merupakan salah satu perayaan terbesar di Asia, khususnya di China dan negara-negara dengan komunitas Tionghoa besar. Periode ini sering diikuti dengan penurunan aktivitas bisnis karena libur panjang.
Mengutip analisis dari IG Group dan Blackwell Global, pasar saham Asia cenderung mengalami penurunan volume transaksi menjelang dan selama libur Imlek. Likuiditas yang menipis ini dapat membuat pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap order besar.
Imlek dan volatilitas jangka pendek
Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa volatilitas bisa meningkat secara jangka pendek, bukan karena perubahan fundamental, tetapi karena berkurangnya partisipasi pasar. Dalam kondisi likuiditas rendah, pergerakan harga bisa tampak lebih tajam dari biasanya.
Namun, penting dicatat bahwa efek ini tidak selalu konsisten setiap tahun dan sangat bergantung pada kondisi makro global saat itu.
Efek pasca-Imlek
Menariknya, beberapa analisis juga mencatat adanya pemulihan aktivitas pasar setelah libur Imlek, seiring kembalinya pelaku pasar institusional. Ini sering kali memicu normalisasi volume dan pergerakan harga yang lebih stabil.
Ramadan dan Lebaran: Efek Psikologis di Pasar Saham
Jika Imlek lebih berkaitan dengan aktivitas ekonomi dan likuiditas, Ramadan dan Lebaran sering dikaitkan dengan faktor psikologis dan perilaku investor.
Mengutip riset dari Quantpedia tentang Ramadan Effect, pasar saham di beberapa negara dengan mayoritas Muslim menunjukkan kecenderungan volatilitas yang lebih rendah selama bulan Ramadan, disertai return yang relatif stabil.
Apa yang mendorong Ramadan Effect?
Beberapa peneliti mengaitkan fenomena ini dengan perubahan perilaku investor. Selama Ramadan, aktivitas spekulatif cenderung menurun, sementara keputusan investasi lebih berhati-hati. Selain itu, jam perdagangan yang lebih pendek di beberapa negara turut memengaruhi dinamika pasar.
Menjelang Lebaran, fokus investor ritel sering bergeser ke kebutuhan konsumsi dan likuiditas pribadi, yang dapat memengaruhi volume transaksi dalam jangka pendek.
Ketika Imlek dan Lebaran Berdekatan: Apa Implikasinya?
Ketika Imlek dan Lebaran terjadi dalam waktu yang relatif berdekatan, dampaknya terhadap pasar saham tidak bersifat linear, tetapi tumpang tindih secara perilaku.
Pasar Asia bisa mengalami:
-
Penurunan likuiditas akibat libur Imlek
-
Periode transisi saat aktivitas mulai pulih
-
Disusul fase Ramadan yang cenderung lebih tenang
Dalam kondisi seperti ini, pasar saham lebih sensitif terhadap sentimen eksternal, seperti data ekonomi global atau kebijakan bank sentral, karena faktor domestik sedang “melemah” dari sisi partisipasi.
Dalam fase pasar yang dipengaruhi faktor musiman dan likuiditas, memahami konteks global menjadi semakin penting. Mengamati pergerakan lintas pasar dan aset dapat membantu investor melihat gambaran yang lebih utuh, bukan hanya fokus pada satu bursa.
Yuk, download dan pakai Gotrade Indonesia untuk pantau pasar global seperti Nasdaq!
Apakah Pola Musiman Ini Bisa Dijadikan Strategi?
Meskipun menarik, Imlek dan Lebaran bukanlah sinyal trading yang berdiri sendiri. Pola musiman lebih tepat digunakan sebagai konteks tambahan, bukan dasar keputusan utama.
Efek kalender bisa menghilang ketika:
-
Pasar berada dalam tren kuat
-
Ada kejadian makro besar
-
Kebijakan moneter mendominasi sentimen
Dengan kata lain, faktor musiman membantu menjawab “kenapa pasar terasa berbeda”, bukan “ke mana pasar akan bergerak”.
Cara Investor Menyikapi Periode Musiman dengan Lebih Rasional
Alih-alih mencoba mengejar pola musiman, investor dapat menggunakan periode ini untuk menyesuaikan ekspektasi dan manajemen risiko.
Beberapa pendekatan yang lebih rasional antara lain:
-
Mengurangi ekspektasi volatilitas ekstrem
-
Fokus pada rencana jangka menengah dan panjang
-
Menghindari overtrading saat likuiditas menipis
Pendekatan ini membantu investor tetap disiplin tanpa terjebak pada asumsi musiman yang terlalu disederhanakan.
Kesimpulan
Imlek dan Lebaran memang dapat memengaruhi pasar saham, terutama melalui perubahan likuiditas dan perilaku investor. Namun, dampaknya bersifat tidak langsung, tidak konsisten setiap tahun, dan sangat bergantung pada konteks pasar global.
Alih-alih dijadikan strategi tunggal, pola musiman ini lebih bermanfaat sebagai kerangka memahami dinamika pasar dalam periode tertentu. Dengan perspektif yang lebih luas, investor dapat tetap mengambil keputusan yang rasional meski pasar bergerak di luar kebiasaan.
Jika kamu ingin memantau pasar saham global dengan lebih kontekstual, memahami faktor musiman sekaligus makro, kamu bisa mengakses berbagai saham internasional melalui aplikasi Gotrade Indonesia dan menyesuaikannya dengan strategi investasimu.
FAQ
Apakah Imlek selalu berdampak pada pasar saham?
Tidak selalu. Dampak Imlek lebih sering terlihat pada likuiditas jangka pendek dan tidak konsisten setiap tahun.
Apa itu Ramadan Effect di pasar saham?
Ramadan Effect merujuk pada kecenderungan volatilitas yang lebih rendah dan sentimen yang lebih stabil selama bulan Ramadan di beberapa pasar.
Apakah investor bisa memanfaatkan Imlek dan Lebaran sebagai strategi trading?
Pola musiman sebaiknya digunakan sebagai konteks tambahan, bukan sebagai sinyal trading utama.











