Kebanyakan panduan investasi menggunakan usia sebagai acuan utama. Tapi kenyataannya, dua orang berusia 30 tahun bisa berada di fase karier yang sangat berbeda: satu baru pindah jalur karier dan masih entry level, yang lain sudah manajer senior dengan penghasilan stabil.
Fase karier menentukan bukan hanya seberapa besar kamu bisa berinvestasi, tapi juga seberapa besar risiko yang masuk akal untuk diambil. Artikel ini membahas strategi investasi yang disesuaikan dengan tiga fase karier utama: entry level, mid-career, dan senior level.
Mengapa Fase Karier Lebih Relevan dari Usia?
Usia memang berkorelasi dengan fase karier, tapi tidak selalu. Seseorang yang memulai karier kedua di usia 35 memiliki profil risiko yang berbeda dari seseorang yang sudah 13 tahun bekerja di industri yang sama.
Melansir Investopedia, faktor yang paling menentukan strategi investasi bukan usia kronologis, melainkan kombinasi dari tiga hal:
- Stabilitas penghasilan: seberapa bisa diprediksi dan diandalkan income kamu.
- Trajectory penghasilan: apakah penghasilan masih akan naik signifikan atau sudah mendekati puncak.
- Horizon investasi: berapa lama uang yang diinvestasikan tidak akan disentuh.
Entry level biasanya punya penghasilan rendah tapi trajectory tinggi. Mid-career punya penghasilan stabil dan trajectory moderat. Senior level punya penghasilan tinggi tapi trajectory datar atau menurun menjelang pensiun.
Memahami posisimu di spektrum ini membantu menentukan alokasi yang paling masuk akal.
Strategi Entry Level: Agresif dengan Fondasi Kuat
Fase entry level (0-5 tahun karier) ditandai oleh penghasilan yang masih terbatas, tapi satu keunggulan besar: waktu. Dengan horizon investasi 25-35 tahun ke depan, kamu punya kemewahan yang tidak dimiliki fase karier lain.
Bangun fondasi dulu
Sebelum memikirkan portofolio agresif, pastikan fondasi keuangan sudah berdiri:
- Dana darurat 3 bulan pengeluaran (cukup untuk entry level karena mobilitas karier tinggi dan tanggungan masih sedikit).
- Lunasi utang konsumtif berbunga tinggi (kartu kredit, paylater).
- Proteksi dasar (minimal BPJS Kesehatan aktif).
Setelah fondasi aman, alokasikan 15-20% penghasilan untuk investasi.
Alokasi agresif yang masuk akal
Dengan horizon panjang, portofolio bisa didominasi saham:
- 80-90% saham/ETF ekuitas.
- 10-20% obligasi/defensif sebagai bantalan.
Untuk porsi saham, fokuskan pada ETF indeks broad market seperti VOO (S&P 500) atau VTI (Total US Market). Di fase ini, konsistensi DCA lebih penting dari pemilihan saham individual. Bahkan Rp200.000-500.000 per bulan sudah cukup untuk memulai dan membangun kebiasaan yang akan sangat berdampak 20 tahun ke depan.
Jangan tergoda saham spekulatif atau meme stocks. Di fase ini, tugas utamamu adalah membangun kebiasaan dan membiarkan compounding bekerja, bukan mengejar cuan cepat.
Strategi Mid-Career: Balanced dengan Tujuan Jelas
Fase mid-career (5-15 tahun karier) adalah periode akselerasi. Penghasilan sudah naik signifikan, tapi tanggung jawab juga bertambah: cicilan rumah, dana pendidikan anak, kebutuhan keluarga.
Sesuaikan alokasi dengan tanggung jawab
Portofolio perlu lebih seimbang dibanding fase entry level:
- 60-70% saham/ETF ekuitas.
- 20-25% obligasi/ETF defensif.
- 5-10% komoditas (emas via GLD/IAU) sebagai hedge inflasi.
Di fase ini, diversifikasi menjadi lebih kritis. Jangan hanya diversifikasi antar saham, tapi juga antar kelas aset. Satu kejadian buruk di pasar saham tidak boleh menghancurkan rencana dana pendidikan anak yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Pisahkan bucket berdasarkan tujuan
Mid-career biasanya punya beberapa tujuan finansial sekaligus. Pisahkan menjadi bucket yang jelas:
- Bucket jangka pendek (1-3 tahun): DP rumah, dana liburan. Simpan di instrumen stabil.
- Bucket jangka menengah (3-10 tahun): dana pendidikan anak. Campuran saham defensif dan obligasi.
- Bucket jangka panjang (10+ tahun): dana pensiun. Tetap agresif di saham growth dan ETF indeks.
Naikkan kontribusi investasi setiap kali penghasilan naik. Gunakan minimal 50% dari setiap kenaikan gaji untuk investasi, sisanya boleh untuk lifestyle. Pendekatan ini mencegah lifestyle inflation yang sering menggerus potensi wealth building di fase mid-career.
Strategi Senior Level: Konservatif dengan Income Focus
Fase senior level (15+ tahun karier) ditandai oleh penghasilan di puncak atau mendekati puncak, tapi horizon investasi yang semakin pendek. Prioritas bergeser dari pertumbuhan agresif ke pelestarian modal dan income generation.
Geser alokasi secara bertahap
Transisi dari growth ke income tidak harus drastis. Lakukan secara bertahap, misalnya kurangi alokasi saham 5% setiap 2-3 tahun:
- 40-50% saham/ETF (fokus pada saham dividen dan consumer staples defensif).
- 30-35% obligasi/ETF obligasi (BND, AGG).
- 10-15% komoditas dan safe haven (emas).
- 5-10% kas sebagai buffer.
Untuk porsi saham, gantikan saham growth volatil dengan saham Dividend Aristocrats yang memberikan income reguler: JNJ, PG, KO. Tambahkan ETF dividen seperti VIG dan SCHD untuk diversifikasi instan.
Mulai pikirkan strategi penarikan
Di fase ini, bukan hanya soal membangun portofolio, tapi juga merencanakan bagaimana menikmati hasilnya. Pertanyaan yang perlu dijawab:
- Berapa kebutuhan bulanan saat pensiun nanti?
- Apakah dividen dari portofolio cukup menutupi sebagian kebutuhan tersebut?
- Kapan mulai transisi dari reinvest ke cash out dividen?
Semakin jelas jawabannya sekarang, semakin mulus transisi ke fase pensiun nanti. Evaluasi portofolio setiap 6 bulan dan pastikan alokasi masih sesuai dengan jarak ke pensiun.
Kesimpulan
Fase karier menentukan konteks investasimu: seberapa besar risiko yang realistis, seberapa banyak yang bisa dialokasikan, dan apa tujuan utama portofolio. Entry level fokus pada kebiasaan dan pertumbuhan agresif. Mid-career menyeimbangkan growth dengan proteksi multi-tujuan. Senior level menggeser fokus ke pelestarian modal dan income. Yang paling penting: mulai di fase apapun kamu berada sekarang, dan sesuaikan strategi seiring karier berkembang.
Mulai bangun portofolio sesuai fase kariermu dengan beli fractional shares saham dan ETF AS di Gotrade mulai dari $1.
FAQ
Bagaimana jika saya pindah karier dan kembali ke entry level di usia 35?
Sesuaikan strategi dengan realitas keuangan saat ini, bukan usia. Stabilkan fondasi dulu, lalu secara bertahap naikkan agresivitas seiring penghasilan membaik.
Kapan seharusnya mulai transisi dari agresif ke balanced?
Saat tanggung jawab finansial bertambah signifikan (cicilan rumah, anak) atau saat tujuan investasi jangka menengah mulai mendekati deadline.
Apakah senior level harus sepenuhnya konservatif?
Tidak. Bahkan di fase senior, porsi saham 40-50% masih masuk akal untuk menjaga pertumbuhan dan melawan inflasi, selama fokusnya pada saham defensif dan dividen.










