Saat mulai berinvestasi, banyak orang dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: memilih investasi syariah vs konvensional. Keduanya sama-sama bertujuan mengembangkan aset, tetapi menggunakan pendekatan dan prinsip yang berbeda.
Tanpa pemahaman yang tepat, pilihan ini sering diambil hanya karena ikut tren atau rekomendasi orang lain. Padahal, jenis investasi yang paling cocok sangat bergantung pada tujuan keuangan, toleransi risiko, serta nilai dan keyakinan pribadi.
Dengan memahami perbedaan mendasarnya, kamu bisa menentukan strategi investasi yang lebih selaras dan berkelanjutan. Simak pemaparan selengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Investasi Syariah dan Investasi Konvensional?
Investasi syariah adalah aktivitas penanaman dana yang mengikuti prinsip Islam.
Artinya, instrumen yang dipilih harus bebas dari riba, gharar berlebihan, dan aktivitas usaha yang dilarang. Keuntungan diperoleh melalui kepemilikan aset dan bagi hasil dari aktivitas ekonomi riil.
Sementara itu, investasi konvensional adalah investasi yang tidak dibatasi oleh prinsip syariah. Selama instrumen tersebut legal dan sesuai regulasi, investor dapat berpartisipasi dan memperoleh keuntungan, termasuk dari bunga atau instrumen berbasis utang.
Perbedaan definisi ini menjadi dasar dari seluruh perbedaan lain di antara keduanya.
Prinsip Dasar yang Membedakan Keduanya
Perbedaan utama terletak pada prinsip dasar pengelolaan dana.
Investasi syariah menekankan keadilan, transparansi, dan keseimbangan risiko antara pihak yang terlibat. Keuntungan tidak dijanjikan di awal dan selalu berkaitan dengan kinerja aset atau usaha.
Investasi konvensional lebih fleksibel dalam mekanisme imbal hasil. Investor dapat memperoleh keuntungan tetap atau variabel, tergantung instrumen yang dipilih.
Menurut Green Portfolio, pendekatan ini memberi ruang lebih luas dalam variasi produk, tetapi tidak selalu mempertimbangkan aspek etika usaha.
Prinsip ini memengaruhi cara investor memandang risiko dan hasil investasi.
Perbedaan Jenis Investasi yang Tersedia
Dalam investasi syariah, jenis investasi yang tersedia mencakup saham syariah, reksa dana syariah, ETF syariah, dan emas syariah.
Semua instrumen ini melalui proses penyaringan agar sesuai dengan prinsip Islam.
Di sisi lain, investasi konvensional menawarkan spektrum instrumen yang lebih luas. Selain saham dan reksa dana, tersedia obligasi berbunga, deposito, dan produk derivatif lainnya.
Pilihan yang lebih luas memberikan fleksibilitas, tetapi juga menuntut pemahaman risiko yang lebih mendalam.
Tujuan Keuangan dan Pendekatan Investasi
Tujuan keuangan sangat memengaruhi pilihan antara investasi syariah dan konvensional.
Investor syariah umumnya tidak hanya mengejar hasil finansial, tetapi juga ketenangan batin karena proses investasinya sesuai keyakinan.
Investor konvensional biasanya lebih fokus pada optimalisasi hasil berdasarkan risiko dan waktu.
Pendekatan ini cocok bagi mereka yang ingin memaksimalkan fleksibilitas strategi tanpa batasan prinsip tertentu.
Keduanya sah, selama tujuan dan ekspektasi dipahami sejak awal.
Perbedaan Risiko yang Perlu Dipahami
Banyak yang mengira investasi syariah lebih aman. Anggapan ini tidak sepenuhnya tepat.
Investasi syariah tetap memiliki risiko pasar, risiko bisnis, dan fluktuasi harga.
Perbedaannya terletak pada sumber risiko. Dalam investasi syariah, risiko berasal dari kinerja aset dan usaha.
Dalam investasi konvensional, risiko juga bisa berasal dari perubahan suku bunga dan kebijakan moneter. Melansir jurnal Lifescifi, pemahaman sumber risiko membantu investor mengelola ekspektasi dengan lebih realistis.
Dengan kata lain, risiko tetap ada di keduanya, hanya bentuknya yang berbeda.
Nilai dan Keyakinan sebagai Faktor Penentu
Aspek nilai dan keyakinan sering menjadi faktor penentu yang paling personal. Bagi sebagian orang, kesesuaian dengan prinsip agama adalah prioritas utama. Investasi syariah memberikan kepastian bahwa dana dikelola sesuai nilai yang diyakini.
Bagi yang lain, fleksibilitas dan variasi produk menjadi pertimbangan utama. Investasi konvensional menawarkan ruang eksplorasi strategi yang lebih luas.
Tidak ada pilihan yang benar atau salah secara universal. Yang terpenting adalah kesesuaian dengan diri sendiri.
Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu
Investasi syariah cocok bagi kamu yang ingin menyelaraskan tujuan keuangan dengan nilai etika dan keyakinan. Pendekatan ini menekankan disiplin, kepemilikan aset nyata, dan kesabaran jangka panjang.
Investasi konvensional cocok bagi kamu yang menginginkan fleksibilitas produk dan strategi tanpa batasan prinsip tertentu. Pendekatan ini memberi ruang lebih besar untuk penyesuaian strategi berdasarkan kondisi pasar.
Beberapa investor bahkan mengombinasikan keduanya dengan porsi tertentu, selama tetap sesuai dengan prinsip pribadi yang dianut.
Kesimpulan
Perbandingan investasi syariah vs konvensional bukan soal mana yang lebih unggul, tetapi mana yang lebih cocok untuk kamu. Perbedaan definisi, prinsip dasar, tujuan keuangan, risiko, serta nilai dan keyakinan menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan.
Dengan pemahaman yang tepat, keputusan investasi bisa dibuat dengan lebih sadar dan konsisten.
Jika kamu ingin mulai mengeksplorasi investasi syariah maupun konvensional dengan akses ke instrumen global yang beragam, kamu bisa mempelajarinya melalui Gotrade.
Dengan proses yang praktis dan transparan, Gotrade mendukung kamu membangun strategi investasi sesuai kebutuhan dan keyakinan.
FAQ
1. Apakah investasi syariah selalu lebih aman daripada konvensional?
Tidak, keduanya memiliki risiko pasar yang perlu dikelola.
2. Bisakah investor pemula memilih investasi syariah?
Bisa, selama memahami prinsip dan instrumen yang digunakan.
3. Apakah boleh mengombinasikan investasi syariah dan konvensional?
Tergantung pada nilai dan keyakinan pribadi masing-masing investor.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











