Menjelang Hari Raya Imlek, banyak orang mulai bertanya apakah ini waktu yang tepat untuk berinvestasi, atau justru lebih bijak fokus memegang cash. Di satu sisi, ada peluang investasi yang tetap berjalan normal. Di sisi lain, investasi Imlek sering berbenturan dengan kebutuhan likuiditas untuk angpao, acara keluarga, dan pengeluaran musiman.
Keputusan ini tidak bisa disamaratakan. Strategi keuangan menjelang Imlek perlu mempertimbangkan kondisi cash flow, tujuan jangka pendek, serta risiko timing di market. Artikel ini akan membahas dilema likuiditas vs investasi, serta bagaimana mengambil keputusan yang lebih rasional.
Likuiditas vs Investasi Jelang Imlek
Pentingnya likuiditas saat periode musiman
Imlek adalah periode dengan kebutuhan dana yang relatif pasti dan waktunya berdekatan. Angpao, jamuan keluarga, dan kebutuhan sosial membuat likuiditas menjadi faktor krusial.
Dalam konteks ini, memegang cash memberi fleksibilitas dan rasa aman. Kamu tidak perlu menjual aset di waktu yang kurang ideal hanya demi memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Risiko memaksakan investasi saat butuh cash
Menurut The Motley Fool, salah satu kesalahan umum adalah tetap mengalokasikan dana ke investasi padahal kebutuhan cash sudah jelas di depan mata. Jika market bergerak berlawanan, kamu berisiko mengalami kerugian ganda: nilai investasi turun dan cash flow terganggu.
Investasi seharusnya menggunakan dana yang tidak akan dibutuhkan dalam waktu dekat.
Opportunity cost menahan terlalu banyak cash
Meski likuiditas penting, menahan terlalu banyak cash juga memiliki biaya tersendiri. Cash yang terlalu lama menganggur berisiko tergerus inflasi dan kehilangan peluang pertumbuhan.
Karena itu, keputusan bukan soal memilih salah satu secara ekstrem, tetapi mencari keseimbangan.
Risiko Timing dalam Investasi Menjelang Imlek
Market tidak peduli kalender pribadi
Salah satu kesalahan dalam strategi keuangan adalah mengaitkan timing investasi dengan kalender pribadi seperti hari raya. Market bergerak berdasarkan sentimen global, data ekonomi, dan likuiditas besar, bukan momentum personal.
Masuk atau keluar pasar hanya karena Imlek bisa membuat keputusan menjadi emosional, bukan strategis.
Volatilitas jangka pendek
Menjelang dan setelah hari raya, fokus investor sering terpecah. Volatilitas jangka pendek bisa meningkat, terutama jika bertepatan dengan rilis data ekonomi atau sentimen global tertentu.
Jika horizon investasimu pendek, volatilitas ini bisa terasa lebih berisiko.
Risiko forced selling setelah Imlek
Investor yang tetap berinvestasi agresif menjelang Imlek tanpa menyiapkan cash sering terpaksa menjual aset setelah perayaan untuk menutup pengeluaran.
Forced selling ini biasanya terjadi di waktu yang tidak ideal dan berpotensi mengunci kerugian.
Kapan Fokus Cash Lebih Masuk Akal?
Saat cash flow belum stabil
Jika cash flow bulanan masih ketat atau sangat bergantung pada bonus dan THR, fokus cash menjelang Imlek adalah pilihan yang lebih aman.
Stabilitas keuangan jangka pendek seharusnya selalu menjadi prioritas utama.
Saat dana darurat belum ideal
Dana darurat yang belum memadai adalah sinyal jelas untuk menahan diri dari investasi tambahan. Imlek bukan waktu yang tepat untuk mengorbankan buffer keamanan finansial.
Saat kebutuhan pasca-Imlek sudah terprediksi
Biaya sekolah, cicilan, atau kebutuhan besar setelah Imlek perlu diperhitungkan. Jika kebutuhan ini sudah jelas, menjaga likuiditas lebih penting daripada mengejar return jangka pendek.
Kapan Investasi Tetap Bisa Dipertimbangkan?
Jika kebutuhan cash sudah terencana
Jika anggaran Imlek sudah dipisahkan sejak awal dan tidak mengganggu cash flow rutin, investasi tetap bisa dilakukan secara bertahap.
Pendekatan ini menghindari konflik antara kebutuhan jangka pendek dan tujuan jangka panjang.
Fokus pada investasi bertahap
Alih-alih all-in, pendekatan bertahap membantu mengurangi risiko timing. Investasi kecil dan konsisten lebih selaras dengan kondisi market yang tidak pasti.
Pilih instrumen yang likuid
Instrumen yang likuid memberi fleksibilitas jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Saham dan ETF dengan likuiditas tinggi cenderung lebih mudah dikelola dibanding aset yang sulit dicairkan.
Bagi investor yang ingin tetap aktif meski fokus menjaga likuiditas, mempertimbangkan akses ke saham dan ETF Amerika Serikat lewat aplikasi Gotrade Indonesia bisa menjadi opsi, karena fleksibilitas nominal dan likuiditas pasar yang tinggi.
Kesimpulan
Dilema investasi Imlek bukan soal benar atau salah, tetapi soal prioritas. Menjelang Imlek, likuiditas memiliki peran penting untuk menjaga kenyamanan dan stabilitas keuangan. Namun, menahan cash sepenuhnya tanpa strategi juga memiliki opportunity cost.
Pendekatan paling sehat adalah menyeimbangkan keduanya. Pastikan kebutuhan jangka pendek aman, lalu kelola investasi secara terukur dan bertahap sesuai profil risiko. Dengan strategi keuangan yang sadar konteks, Imlek bisa dijalani tanpa tekanan, sekaligus tetap menjaga pertumbuhan aset jangka panjang.
FAQ
Apakah sebaiknya berhenti investasi menjelang Imlek?
Tidak selalu. Jika kebutuhan cash sudah direncanakan dan dana investasi tidak akan dipakai dalam waktu dekat, investasi tetap bisa dilakukan secara bertahap.
Kenapa likuiditas penting menjelang hari raya?
Karena kebutuhan dana bersifat pasti dan waktunya dekat, sehingga mengurangi risiko forced selling.
Apa kesalahan terbesar investasi menjelang Imlek?
Memaksakan investasi agresif tanpa memperhitungkan kebutuhan cash dan risiko timing market.











