Secara intuitif, perang dan konflik geopolitik terdengar seperti kabar buruk bagi ekonomi dan pasar keuangan. Namun dalam praktiknya, tidak jarang investor justru melihat pasar saham naik saat perang atau eskalasi konflik global. Fenomena ini sering memicu kebingungan dan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Memahami mengapa pasar bisa naik di tengah konflik membantu investor membedakan antara reaksi jangka pendek dan realitas fundamental.
Artikel ini membahas faktor psikologis, kebijakan, dan likuiditas yang kadang mendorong pasar naik, serta risiko bias jika fenomena ini dijadikan strategi utama.
Faktor Psikologis di Balik Pasar yang Naik Saat Perang
Pergerakan pasar sering kali lebih dipengaruhi oleh psikologi investor daripada logika sederhana.
Ekspektasi yang sudah terdiskon sebelumnya
Dalam banyak kasus, pasar sudah "mengantisipasi" konflik sebelum benar-benar terjadi. Ketika perang atau eskalasi resmi diumumkan, ketidakpastian justru berkurang.
Situasi ini memicu reaksi "sell the rumor, buy the news" yang membuat pasar naik.
Relief rally setelah kejelasan muncul
Ketika skenario terburuk tidak terjadi, investor merasa lega. Pasar merespons kejelasan dengan reli jangka pendek, meski konflik belum selesai.
Reli ini sering bersifat teknikal dan berbasis sentimen.
Fokus investor yang cepat bergeser
Psikologi pasar cenderung cepat berpindah dari satu risiko ke risiko lain. Setelah shock awal, perhatian investor kembali ke earnings, data ekonomi, dan likuiditas.
Konflik menjadi latar belakang, bukan pusat perhatian. Menurut Investopedia, pasar saham sering bereaksi terhadap perubahan ekspektasi risiko, bukan peristiwa itu sendiri.
Peran Kebijakan Pemerintah dan Bank Sentral
Kebijakan sering menjadi penyangga utama saat konflik meningkat.
Stimulus fiskal dan belanja pemerintah
Perang atau konflik biasanya diiringi peningkatan belanja pemerintah, terutama di sektor pertahanan dan infrastruktur. Belanja ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Pasar saham merespons ekspektasi peningkatan aktivitas ekonomi.
Sikap bank sentral yang lebih akomodatif
Ketidakpastian geopolitik sering membuat bank sentral berhati-hati mengetatkan kebijakan. Likuiditas dijaga agar sistem keuangan tetap stabil.
Lingkungan kebijakan yang longgar mendukung aset berisiko.
Perlindungan terhadap risiko sistemik
Otoritas keuangan biasanya bertindak cepat untuk mencegah risiko sistemik. Intervensi ini meningkatkan kepercayaan pasar.
Kebijakan menjadi faktor penyeimbang sentimen negatif. Mengutip The Motley Fool, pasar saham historis sering mendapat dukungan kebijakan selama periode ketegangan geopolitik.
Likuiditas sebagai Pendorong Pasar
Likuiditas memainkan peran penting dalam menjelaskan fenomena ini.
Arus likuiditas ke aset berisiko
Ketika likuiditas global melimpah, sebagian dana tetap mengalir ke saham meski risiko geopolitik meningkat. Investor mencari return di tengah alternatif yang terbatas.
Likuiditas sering mengalahkan ketakutan jangka pendek.
Kurangnya alternatif investasi menarik
Dalam lingkungan suku bunga rendah atau real yield negatif, saham tetap menjadi pilihan relatif menarik. Konflik tidak selalu mengubah perhitungan ini.
Permintaan terhadap saham bisa tetap kuat.
Peran investor institusi
Investor besar sering memiliki mandat jangka panjang. Mereka tidak bisa keluar masuk pasar hanya karena headline.
Aliran dana institusi membantu menstabilkan pasar.
Perbedaan Reaksi Jangka Pendek dan Dampak Fundamental
Memahami perbedaan ini sangat penting bagi investor.
Reaksi jangka pendek berbasis sentimen
Kenaikan pasar saat perang sering terjadi dalam jangka pendek. Pergerakan ini dipicu psikologi, positioning, dan teknikal.
Reli seperti ini bisa cepat berbalik.
Dampak fundamental butuh waktu
Dampak nyata perang terhadap ekonomi, inflasi, dan laba perusahaan membutuhkan waktu untuk terlihat. Tidak semua konflik berdampak signifikan pada fundamental.
Investor perlu menunggu data untuk konfirmasi.
Tidak semua perang berdampak sama
Konflik regional terbatas memiliki dampak berbeda dengan konflik sistemik global. Skala dan durasi sangat menentukan.
Generalisasi sering menyesatkan.
Risiko Bias dan Salah Timing bagi Investor
Fenomena pasar naik saat perang mengandung jebakan psikologis.
Survivorship bias dan cherry-picking
Investor cenderung mengingat kasus ketika pasar naik dan melupakan periode ketika pasar jatuh. Ini menciptakan bias persepsi.
Strategi berbasis anekdot sering gagal.
Menganggap perang sebagai sinyal beli
Menggunakan perang sebagai sinyal beli utama mengabaikan konteks ekonomi dan valuasi. Tidak ada pola yang selalu konsisten.
Pendekatan ini meningkatkan risiko salah timing.
Mengabaikan manajemen risiko
Mengambil risiko besar dengan asumsi "pasar selalu naik saat perang" berbahaya. Volatilitas dan drawdown tetap mungkin terjadi.
Manajemen risiko tetap krusial.
Cara Menyikapi Fenomena Ini secara Lebih Rasional
Investor sebaiknya melihat konflik sebagai bagian dari konteks makro, bukan pemicu tunggal keputusan.
Mengamati likuiditas, kebijakan, dan data ekonomi memberikan gambaran yang lebih utuh.
Menyesuaikan eksposur secara bertahap dan disiplin ukuran posisi membantu menjaga stabilitas portofolio.
Kesimpulan
Pasar saham bisa saja naik di tengah konflik, termasuk ketegangan Venezuela–AS, karena faktor psikologis, dukungan kebijakan, dan likuiditas yang mendorong reli jangka pendek setelah shock awal.
Namun, kondisi ini tidak bisa dijadikan strategi utama tanpa memahami risiko bias, salah timing, dan dampak fundamental antar sektor. Pendekatan berbasis konteks dan disiplin risiko membantu investor membaca dinamika pasar secara lebih realistis.
Gunakan pemahaman konflik geopolitik dan respons pasar ini untuk menilai peluang di saham-saham sektor energi yang terdampak harga minyak. Trading saham perusahaan energi AS yang tersedia di Gotrade dan sesuaikan strategi kamu dengan kondisi pasar, download app sekarang!
FAQ
1. Apakah pasar saham selalu naik saat perang?
Tidak. Pasar bisa naik atau turun tergantung konteks dan dampak ekonomi konflik.
2. Mengapa pasar bisa naik meski ada konflik?
Karena faktor psikologis, dukungan kebijakan, dan likuiditas.
3. Apakah perang bisa dijadikan strategi investasi?
Tidak disarankan, karena risikonya tinggi dan tidak konsisten.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











