10 Kesalahan Investasi Saham Teknologi yang Sering Terjadi

10 Kesalahan Investasi Saham Teknologi yang Sering Terjadi

Share this article

Saham teknologi sering menjadi magnet bagi investor karena potensi pertumbuhan yang tinggi. Narasi inovasi, AI, dan disrupsi membuat sektor ini terlihat selalu menjanjikan. Namun justru karena ekspektasi yang besar, kesalahan investasi paling sering terjadi di saham teknologi.

Banyak investor masuk ke saham teknologi dengan pendekatan yang tidak disiplin. Artikel ini membedah kesalahan umum yang sering terjadi dan pembelajaran praktis agar keputusan investasi lebih rasional.

Penyebab Investasi Saham Teknologi Lebih Rentan

Saham teknologi memiliki kombinasi yang rawan bias perilaku. Pertumbuhan cepat, volatilitas tinggi, dan narasi masa depan yang kuat sering mengaburkan penilaian objektif.

Pergerakan harga yang agresif membuat investor mudah bereaksi secara emosional. Dalam kondisi seperti ini, keputusan sering diambil berdasarkan perasaan dan tren, bukan analisis risiko dan valuasi.

Menurut Morgan Stanley, saham growth seperti teknologi lebih rentan terhadap bias perilaku karena sebagian besar nilainya bertumpu pada ekspektasi masa depan.

Kesalahan Investasi Saham Teknologi

1. FOMO dan masuk setelah harga terlalu tinggi

FOMO membuat investor membeli saham teknologi setelah kenaikan harga signifikan. Keputusan diambil karena takut tertinggal, bukan karena analisis fundamental yang matang.

Akibatnya, posisi masuk justru berada di fase risiko tertinggi ketika ekspektasi sudah terlalu tinggi.

2. Menganggap momentum sebagai bukti kualitas bisnis

Harga yang naik cepat sering disalahartikan sebagai sinyal bahwa bisnisnya pasti kuat. Padahal, momentum jangka pendek tidak selalu mencerminkan kualitas fundamental.

Kesalahan ini membuat investor mengabaikan pertanyaan penting tentang keberlanjutan pertumbuhan.

3. Chasing momentum tanpa rencana exit

Banyak investor membeli saham teknologi karena momentum, tetapi tidak memiliki rencana keluar. Saat tren berbalik, keputusan menjadi emosional dan terlambat.

Momentum tanpa exit plan sering berubah menjadi sumber kerugian.

4. Mengubah strategi di tengah jalan

Investor yang awalnya berniat investasi jangka panjang sering tergoda untuk bertindak seperti trader saat harga bergerak cepat. Perubahan ini jarang diikuti sistem yang jelas.

Akibatnya, keputusan menjadi inkonsisten dan sulit dievaluasi.

5. Mengabaikan valuasi karena narasi pertumbuhan

Narasi seperti AI atau cloud sering membuat investor menganggap valuasi tidak relevan. Semua harga terasa “masuk akal” selama ceritanya menarik.

Padahal, valuasi tetap menentukan seberapa besar margin of safety yang dimiliki investor.

6. Tidak memperhitungkan sensitivitas terhadap suku bunga

Saham teknologi dengan valuasi tinggi sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga. Ketika kebijakan moneter berubah, koreksi harga bisa tajam meski bisnis tidak langsung memburuk.

Mengutip BBC, banyak koreksi besar di saham teknologi terjadi karena perubahan ekspektasi suku bunga, bukan penurunan kinerja operasional.

7. Terlalu terkonsentrasi pada satu tema teknologi

Tema besar seperti AI sering membuat portofolio terkonsentrasi tanpa disadari. Memiliki beberapa saham teknologi berbeda tidak selalu berarti terdiversifikasi.

Jika semuanya digerakkan oleh tema yang sama, risikonya tetap terkumpul.

8. Mengira diversifikasi cukup dengan banyak saham teknologi

Diversifikasi sering disalahartikan sebagai jumlah saham. Padahal, yang lebih penting adalah sumber risiko.

Portofolio dengan banyak saham teknologi tetap bisa sangat rentan terhadap satu sentimen pasar.

9. Mengevaluasi investasi berdasarkan harga, bukan tesis

Banyak investor menilai keputusan investasi hanya dari naik atau turunnya harga. Jika harga turun, strategi dianggap salah meski tesis masih valid.

Pendekatan ini membuat investor mudah keluar di waktu yang tidak ideal.

10. Tidak memiliki kriteria evaluasi yang jelas

Tanpa kriteria evaluasi, investor bereaksi terhadap noise pasar. Setiap berita atau pergerakan harga memicu perubahan keputusan.

Hal ini menggerus konsistensi jangka panjang.

Tips Praktis agar Lebih Disiplin

Kesalahan investasi saham teknologi bukan soal kurang pintar, tetapi kurang disiplin.

Investor perlu membedakan antara bisnis berkualitas dan harga yang terlalu mahal, antara momentum dan tren berkelanjutan. Strategi harus ditetapkan sejak awal, termasuk tujuan, horizon waktu, dan batas risiko.

Saham teknologi bisa menjadi mesin growth portofolio jika dikelola dengan kerangka berpikir rasional, bukan emosional.

Kesimpulan

Kesalahan investasi saham teknologi paling sering muncul dari FOMO, chasing momentum, dan mengabaikan valuasi. Narasi pertumbuhan yang kuat membuat investor mudah melupakan risiko dan disiplin.

Pendekatan yang lebih sehat adalah memahami struktur risiko, mengevaluasi berdasarkan tesis, dan menjaga konsistensi strategi. Saham teknologi tetap menarik, tetapi hanya bagi investor yang mampu mengelolanya dengan kepala dingin.

Mau akses saham teknologi AS yang populer? Yuk, download dan mulai trading di Gotrade sekarang, modal mulai Rp15.000 saja.

FAQ

1. Apa kesalahan paling umum dalam investasi saham teknologi?
FOMO, chasing momentum, dan mengabaikan valuasi.

2. Apakah saham teknologi selalu berisiko tinggi?
Relatif lebih volatil, tetapi risikonya bisa dikelola dengan strategi yang disiplin.

3. Bagaimana cara berinvestasi saham teknologi dengan lebih rasional?
Dengan fokus pada valuasi, diversifikasi sumber risiko, dan evaluasi berbasis tesis.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade