10 Kesalahan dalam Investasi Sektor Defensif yang Harus Dihindari

10 Kesalahan dalam Investasi Sektor Defensif yang Harus Dihindari

Share this article

Kesalahan investasi sektor defensif sering terjadi karena investor menganggap saham sektor defensif selalu aman dan bebas risiko. Padahal, meski lebih stabil dibanding sektor siklikal, saham sektor defensif tetap memiliki keterbatasan, risiko tersembunyi, dan potensi underperformance jika digunakan dengan pendekatan yang keliru.

Sektor defensif memang dirancang untuk menjaga stabilitas portofolio, bukan untuk mengejar pertumbuhan agresif. Ketika ekspektasi dan strategi tidak selaras, investor justru bisa kehilangan peluang atau terjebak pada kinerja yang stagnan.
Artikel ini membahas kesalahan paling umum dalam investasi sektor defensif agar kamu dapat menggunakannya secara lebih tepat dan rasional.

Kesalahan Investasi Sektor Defensif yang Perlu Dihindari

Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang paling sering dilakukan investor saat berinvestasi di saham sektor defensif.

1. Terlalu defensif terlalu lama

Salah satu kesalahan terbesar adalah bertahan terlalu lama di sektor defensif meski kondisi pasar sudah berubah. Saat ekonomi mulai pulih dan pasar memasuki fase ekspansif, sektor defensif sering tertinggal.

Investor yang tidak melakukan penyesuaian berisiko kehilangan momentum pertumbuhan.

2. Salah ekspektasi terhadap return

Saham sektor defensif bukan dirancang untuk menghasilkan return tinggi dalam waktu singkat. Ekspektasi return agresif sering berujung kekecewaan.

Defensif berarti stabil, bukan outperform pasar setiap waktu.

3. Menganggap saham defensif bebas risiko

Banyak investor mengira saham defensif tidak bisa turun tajam. Kenyataannya, sektor defensif tetap terpapar risiko pasar, suku bunga, dan faktor regulasi.

Penurunan mungkin lebih kecil, tetapi tetap ada.

4. Membeli hanya karena label “defensif”

Tidak semua saham di sektor defensif memiliki kualitas bisnis yang sama.

Membeli saham hanya karena sektor tanpa analisis fundamental tetap berisiko.

Kualitas perusahaan tetap menjadi faktor utama.

5. Mengabaikan valuasi saham defensif

Saham defensif bisa menjadi mahal ketika terlalu banyak investor mencari keamanan. Membeli di valuasi tinggi membatasi potensi return ke depan.

Valuasi tetap relevan, bahkan untuk sektor defensif.

6. Terjebak dividend trap

Beberapa saham defensif menawarkan dividen tinggi yang terlihat menarik. Namun, jika tidak didukung arus kas yang kuat, dividen tersebut berisiko dipotong.

Dividen stabil lebih penting daripada dividen tinggi.

7. Tidak memperhatikan sensitivitas suku bunga

Sektor defensif seperti utilities dan telekomunikasi cukup sensitif terhadap perubahan suku bunga. Kenaikan suku bunga dapat menekan valuasi dan harga saham.

Banyak investor mengabaikan faktor ini.

8. Kurang melakukan diversifikasi dalam sektor defensif

Berinvestasi hanya pada satu atau dua saham defensif meningkatkan risiko spesifik perusahaan. Masalah internal dapat berdampak besar pada portofolio.

Diversifikasi tetap penting meski di sektor defensif.

9. Menggunakan pendekatan trading untuk investasi defensif

Sektor defensif tidak selalu cocok untuk trading aktif. Volatilitas yang relatif rendah sering membuat strategi trading jangka pendek kurang efektif.

Pendekatan investasi jangka menengah hingga panjang lebih relevan.

10. Tidak melakukan rebalancing portofolio

Banyak investor membiarkan porsi sektor defensif membesar tanpa evaluasi berkala. Hal ini dapat menggeser profil risiko portofolio secara tidak sadar.

Rebalancing membantu menjaga keseimbangan sesuai tujuan awal.

Dilansir dari Investopedia, sektor defensif memang lebih stabil, tetapi tetap memerlukan penyesuaian strategi seiring perubahan siklus pasar.

Cara Menghindari Kesalahan dalam Investasi Sektor Defensif

Menghindari kesalahan bukan berarti menghindari sektor defensif. Kuncinya adalah penyesuaian strategi.

Gunakan sektor defensif sebagai alat stabilisasi, bukan satu-satunya sumber return. Perhatikan valuasi, siklus ekonomi, dan lakukan evaluasi berkala terhadap peran sektor defensif dalam portofolio.

Melansir Fidelity, pemahaman risiko dan penyesuaian alokasi aset secara berkala merupakan bagian penting dari manajemen investasi yang sehat.

Kesimpulan

Kesalahan investasi sektor defensif umumnya berasal dari ekspektasi yang keliru dan penggunaan strategi yang tidak tepat. Terlalu defensif terlalu lama, mengabaikan valuasi, hingga salah membaca peran dividen dapat membuat portofolio tertinggal.

Saham sektor defensif tetap memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas, tetapi harus digunakan secara proporsional dan adaptif terhadap siklus pasar. Dengan memahami kesalahan umum ini, investor dapat memanfaatkan sektor defensif secara lebih efektif.

Jika kamu ingin mengelola investasi saham defensif global dengan lebih fleksibel dan terukur, kamu bisa melakukannya melalui aplikasi Gotrade Indonesia.

FAQ

Apa kesalahan paling umum dalam investasi sektor defensif?
Kesalahan paling umum adalah terlalu defensif terlalu lama dan memiliki ekspektasi return yang tidak realistis.

Apakah saham sektor defensif selalu aman?
Tidak. Saham defensif relatif lebih stabil, tetapi tetap memiliki risiko pasar dan risiko spesifik perusahaan.

Kapan sektor defensif sebaiknya dikurangi porsinya?
Saat kondisi ekonomi membaik dan pasar memasuki fase pertumbuhan, porsi defensif biasanya perlu dievaluasi ulang.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade