10 Kesalahan Investasi yang Wajib Dihindari di 2026

Erwanto Khusuma
Erwanto Khusuma
Tim Gotrade
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
10 Kesalahan Investasi yang Wajib Dihindari di 2026

Share this article

Kesalahan investasi sering bukan soal kurang pintar, tetapi soal kebiasaan kecil yang dibiarkan jadi pola. Di 2026, memahami kesalahan investasi jadi makin penting karena market bisa berubah cepat, sementara keputusan investasi kamu sering dibuat dalam kondisi emosi, headline, atau euforia sesaat.

Kalau kamu punya strategi investasi dan rencana investasi yang jelas, kamu tidak perlu “menang” setiap minggu. Kamu hanya perlu menghindari kesalahan yang paling merusak compounding, disiplin, dan kualitas keputusan investasi.

Kesalahan Investasi yang Wajib Dihindari

1. Menganggap setiap penurunan pasti cepat rebound

Banyak investor mengira “buy the dip” selalu berhasil, lalu menambah posisi tanpa batas saat harga turun. Padahal, tidak semua koreksi pulih cepat, dan sebagian siklus bisa sideways atau turun lebih lama.
Solusi: Tetapkan batas risiko per posisi dan pakai rencana akumulasi bertahap, bukan all-in di satu harga. Dilansir dari Yahoo Finance, asumsi bahwa market selalu cepat rebound bisa jadi kesalahan paling mahal di 2026.

2. Masuk investasi tanpa rencana yang tertulis

Tanpa rencana investasi, kamu akan mudah berubah pikiran saat market berubah. Akhirnya keputusan jadi reaktif, bukan strategis.
Solusi: Buat aturan sederhana: tujuan, horizon waktu, alokasi aset, batas risiko, dan kapan rebalancing dilakukan.

3. Mengejar return tinggi tanpa menghitung risiko yang diambil

Return yang “terlihat bagus” sering datang bersama risiko yang tidak terlihat, seperti volatilitas ekstrem atau drawdown dalam. Banyak investor baru sadar setelah rugi besar.
Solusi: Ukur risiko dengan batas maksimal drawdown yang kamu sanggupi, lalu sesuaikan ukuran posisi dan diversifikasi.

4. Overtrading karena ingin selalu “ada aksi”

Terlalu sering transaksi bisa menggerus hasil lewat biaya, spread, dan keputusan impulsif. Overtrading juga membuat kamu sulit konsisten menjalankan strategi.
Solusi: Batasi frekuensi evaluasi, misalnya mingguan untuk swing, bulanan untuk investasi, dan hanya eksekusi saat setup sesuai aturan.

5. FOMO ke aset yang sudah naik jauh

FOMO membuat kamu masuk saat risiko justru membesar. Kamu membeli karena takut ketinggalan, bukan karena valuasi dan setup mendukung.
Solusi: Pakai checklist entry: alasan beli, level invalidasi, dan skenario jika harga turun 10–20%.

6. Tidak melakukan diversifikasi yang masuk akal

Terlalu terkonsentrasi pada satu saham, satu sektor, atau satu tema membuat portofolio rapuh saat narasi berubah. Diversifikasi bukan untuk “menghilangkan rugi”, tetapi untuk mengurangi risiko fatal.
Solusi: Diversifikasi lintas sektor dan gaya (core indeks, plus exposure taktis), lalu hindari overlap yang berlebihan.

7. Mengabaikan rebalancing setelah pergerakan besar

Saat satu aset naik besar, porsi portofolio bisa berubah tanpa disadari. Ini membuat risiko portofolio diam-diam meningkat.
Solusi: Jadwalkan rebalancing berkala (misalnya tiap kuartal) atau berbasis ambang batas (misalnya porsi meleset 5-10% dari target).

8. Menggunakan leverage saat belum punya sistem risiko

Leverage memperbesar keuntungan, tetapi juga memperbesar kesalahan. Banyak investor memakai leverage untuk “balas rugi” atau mengejar target, lalu kehilangan kontrol.
Solusi: Jika kamu belum konsisten tanpa leverage, jangan mulai dengan leverage. Bangun dulu sistem sizing, stop, dan batas rugi harian atau mingguan.

9. Menganggap profit besar berarti skill permanen

Setelah profit besar, sebagian investor jadi terlalu percaya diri, menaikkan size, lalu melonggarkan disiplin. Ini sering berujung drawdown yang menghapus profit sebelumnya.
Solusi: Setelah profit besar, turunkan agresivitas sementara, kunci sebagian hasil lewat rebalancing, dan evaluasi apakah profit datang dari proses yang benar.

10. Mengubah strategi hanya karena noise berita dan komentar orang

Headline, komentar influencer, atau pergerakan harian bisa menggeser fokus dari proses ke emosi. Ini membuat strategi investasi kamu tidak punya “tulang punggung”.

Solusi: Tentukan “sumber sinyal” yang kamu percaya (data fundamental, tren, dan risk rules), lalu batasi konsumsi berita yang tidak mengubah thesis.

Kesimpulan

Kesalahan investasi di 2026 umumnya bukan hal yang rumit, tetapi kebiasaan yang tidak dikunci dengan aturan.

Hindari asumsi rebound instan, jangan masuk tanpa rencana, jangan mengejar return tanpa batas risiko, dan jangan biarkan FOMO serta noise mengatur keputusan investasi kamu. Kalau kamu membangun proses yang konsisten, hasil jangka panjang biasanya mengikuti.

Jika kamu ingin menerapkan rencana investasi dengan lebih praktis, kamu bisa mulai investasi saham dan ETF AS lewat Gotrade Indonesia, lalu bangun kebiasaan kontribusi rutin dan rebalancing sesuai aturanmu.

FAQ

Apa kesalahan investasi paling umum yang membuat investor rugi?
Biasanya kombinasi masuk tanpa rencana, mengambil risiko kebesaran, dan panik saat market bergejolak.

Bagaimana cara membuat rencana investasi yang sederhana tapi efektif?
Tentukan tujuan, horizon waktu, alokasi aset, aturan beli-jual, serta batas rugi yang jelas, lalu evaluasi berkala.

Apakah diversifikasi selalu membuat hasil lebih bagus?
Tidak selalu, tetapi diversifikasi membantu mengurangi risiko fatal dan membuat portofolio lebih tahan saat satu sektor jatuh.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade