Menambah Eksposur Emas saat Volatilitas Naik: Strategi dan Porsi Ideal

Menambah Eksposur Emas saat Volatilitas Naik: Strategi dan Porsi Ideal

Share this article

Ketika pasar saham bergejolak, sebagian besar investor bereaksi dengan dua cara: panik menjual atau diam membeku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi ada satu langkah yang sering dilakukan investor berpengalaman di tengah ketidakpastian: menambah eksposur ke emas.

Bukan karena emas selalu naik saat pasar turun, tapi karena emas berperilaku berbeda dari aset lain di momen-momen paling kritis. Dan perbedaan itulah yang membuatnya berharga dalam portofolio yang dirancang untuk bertahan jangka panjang.

Emas sebagai Stabilizer Portofolio

Dalam strategi alokasi aset, mengutip situs World Gold Council, emas dikenal sebagai aset defensif. Sifatnya yang tidak menghasilkan arus kas seperti dividen atau kupon obligasi sering dijadikan argumen untuk tidak menyertakannya dalam portofolio. Tapi argumen ini melewatkan satu fungsi penting: emas bukan instrumen untuk mengejar return, melainkan untuk menstabilkan portofolio saat aset lain bergerak liar.

Volatilitas pasar yang tinggi biasanya dipicu oleh ketidakpastian, baik dari sisi ekonomi, geopolitik, maupun kebijakan moneter. Di momen-momen inilah emas cenderung mempertahankan nilainya atau bahkan menguat, bukan karena ada mekanisme ajaib, tapi karena permintaan terhadap aset yang dianggap safe haven meningkat secara alami.

Dengan menyertakan emas dalam portofolio, fluktuasi nilai keseluruhan portofolio menjadi lebih teredam. Saat saham turun tajam, emas yang stabil atau naik membantu menahan penurunan nilai total portofolio, sehingga kamu tidak menghadapi kerugian sebesar jika semua aset bergerak searah.

Korelasi Emas dengan Saham Saat Krisis

Salah satu alasan utama emas efektif sebagai stabilizer adalah korelasinya yang rendah bahkan negatif terhadap saham, terutama di periode krisis.

Korelasi rendah di kondisi normal

Dalam kondisi pasar yang normal, korelasi emas dengan indeks saham global cenderung rendah, artinya pergerakan keduanya tidak terlalu saling mempengaruhi. Ini sudah memberikan manfaat diversifikasi karena menambahkan aset yang "bergerak sendiri" ke dalam portofolio.

Korelasi negatif di saat krisis

Yang lebih menarik adalah perilaku emas di saat krisis. Pada crash 2008, saat indeks saham global anjlok lebih dari 40%, harga emas justru menguat sepanjang tahun tersebut. Hal serupa terjadi di awal pandemi 2020, di mana emas mencatat all-time high di tengah ketidakpastian yang ekstrem.

Fenomena ini bukan kebetulan. Saat investor panik dan keluar dari aset berisiko, sebagian besar dana tersebut mengalir ke instrumen yang dianggap aman, termasuk obligasi pemerintah dan emas. Permintaan yang meningkat di tengah kepanikan inilah yang mendorong harga emas naik justru ketika pasar saham sedang paling tertekan.

Tidak semua krisis sama

Penting untuk dicatat bahwa emas tidak selalu bergerak berlawanan dengan saham di setiap kondisi. Di awal pandemi Maret 2020, misalnya, emas sempat ikut turun bersamaan dengan saham karena investor membutuhkan likuiditas cepat dan menjual semua aset yang dimiliki. Namun penurunan emas jauh lebih dangkal dan pemulihannya jauh lebih cepat dibanding saham.

Ingin menambah eksposur emas tanpa harus membeli fisik? Di Gotrade, kamu bisa mengakses ETF berbasis emas, seperti GDX, dari pasar AS langsung dari smartphone-mu.

Porsi Ideal Emas Saat Ketidakpastian Naik

Tidak ada angka yang universal untuk porsi emas dalam portofolio. Tapi ada beberapa panduan yang bisa dijadikan acuan berdasarkan kondisi pasar dan profil risiko masing-masing investor.

Alokasi dasar di kondisi normal

Di kondisi pasar yang relatif stabil, alokasi emas sebesar 5% hingga 10% dari total portofolio sudah memberikan manfaat diversifikasi yang berarti tanpa terlalu mengorbankan potensi return jangka panjang. Ini adalah kisaran yang paling sering direkomendasikan oleh fund manager institusional sebagai alokasi emas baseline.

Menambah porsi saat volatilitas meningkat

Saat indikator volatilitas seperti VIX mulai naik signifikan, ketegangan geopolitik meningkat, atau kebijakan bank sentral menciptakan ketidakpastian besar di pasar, banyak investor memilih untuk menaikkan porsi emas sementara ke kisaran 15% hingga 20%.

Penambahan ini tidak harus dilakukan sekaligus. Pendekatan bertahap, misalnya menambah 2% hingga 3% setiap bulan selama periode volatilitas, lebih aman secara psikologis dan mengurangi risiko masuk di harga puncak.

Sesuaikan dengan horizon investasi

Investor dengan horizon investasi panjang dan toleransi risiko tinggi mungkin cukup dengan alokasi emas yang lebih kecil karena punya waktu untuk menunggu pemulihan pasar saham. Sebaliknya, investor yang mendekati tujuan finansial jangka pendek atau memiliki toleransi risiko rendah bisa mempertimbangkan porsi emas yang lebih besar sebagai perlindungan nilai.

Emas fisik, ETF, atau saham tambang?

Ada beberapa cara untuk mendapatkan eksposur ke investasi emas, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda:

  • Emas fisik: perlindungan nilai paling murni, tapi ada biaya penyimpanan dan likuiditasnya lebih terbatas
  • ETF emas: mudah diperjualbelikan seperti saham, biaya rendah, dan return-nya mengikuti harga emas spot secara langsung
  • Saham perusahaan tambang emas: potensi return lebih tinggi, tapi juga lebih volatil karena dipengaruhi faktor operasional perusahaan di luar harga emas itu sendiri

Untuk tujuan stabilisasi portofolio, ETF emas adalah pilihan yang paling efisien karena memberikan eksposur langsung ke harga emas dengan fleksibilitas tinggi.

Kesimpulan

Menambah eksposur emas saat volatilitas naik bukan reaksi panik, melainkan langkah strategis yang didukung oleh data historis dan logika diversifikasi yang solid. Emas tidak menjanjikan return tertinggi, tapi fungsinya sebagai penyeimbang portofolio di momen paling kritis sudah terbukti berulang kali.

Mulai dengan alokasi yang sesuai profil risikomu, tambah secara bertahap saat ketidakpastian meningkat, dan pilih instrumen yang paling efisien untuk kebutuhanmu.

Ingin mulai membangun eksposur emas melalui ETF dari pasar AS? Download Gotrade sekarang dan akses beragam instrumen global dari HP-mu.

FAQ

Apakah emas selalu naik saat pasar saham turun?

Tidak selalu, tapi secara historis emas cenderung lebih tahan atau menguat di periode krisis dibanding aset berisiko lainnya.

Berapa porsi emas yang ideal dalam portofolio?

5% hingga 10% di kondisi normal, dan bisa dinaikkan ke 15% hingga 20% saat volatilitas pasar meningkat signifikan.

Apa perbedaan ETF emas dengan membeli emas fisik?

ETF emas lebih likuid, mudah diperjualbelikan, dan biaya transaksinya lebih rendah. Emas fisik memberikan kepemilikan nyata tapi membutuhkan biaya penyimpanan dan proses jual beli yang lebih kompleks.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade