Kebanyakan strategi options dirancang untuk skenario "harga naik" atau "harga turun". Butterfly spread berbeda. Strategi ini dirancang untuk skenario yang jauh lebih spesifik: kamu punya target harga tertentu, dan kamu yakin harga akan berakhir di sekitar level itu saat expiry.
Kedengarannya presisi, dan memang begitu. Butterfly spread bukan strategi untuk setiap kondisi pasar, tapi saat digunakan di momen yang tepat, risk-reward-nya bisa sangat menarik.
Apa Itu Butterfly Spread?
Butterfly spread adalah strategi options yang menggunakan tiga strike price berbeda dengan expiry yang sama. Strukturnya terdiri dari tiga leg: beli satu kontrak di strike rendah, jual dua kontrak di strike tengah, dan beli satu kontrak di strike tinggi. Jarak antar strike harus sama.
Strategi ini termasuk dalam kategori spread options dan bisa dibangun menggunakan call maupun put. Versi paling umum adalah long call butterfly.
Melansir Investopedia, butterfly spread menggabungkan elemen bull spread dan bear spread menjadi satu posisi netral dengan risiko terbatas dan profit terbatas. Hasilnya adalah strategi yang profit maksimal saat harga underlying berakhir tepat di strike tengah pada saat expiry.
Cara Kerja: Beli-Jual-Beli di 3 Strike
Untuk memahami mekanismenya, mari gunakan contoh konkret.
Saham XYZ diperdagangkan di $100. Kamu memperkirakan harga akan tetap di sekitar $100 hingga expiry. Kamu membangun long call butterfly dengan membeli 1 call strike $95, menjual 2 call strike $100, dan membeli 1 call strike $105. Total biaya (net debit) untuk posisi ini, misalnya, adalah $1.50 per saham atau $150 per kontrak.
Kenapa strukturnya seperti ini? Call yang dijual di strike tengah menghasilkan premi yang sebagian besar menutupi biaya dua call yang dibeli di sayap atas dan bawah. Hasilnya, modal yang dibutuhkan relatif kecil dibanding potensi profit.
Posisi ini pada dasarnya adalah taruhan bahwa harga akan "mendarat" di area sempit di sekitar strike tengah. Semakin dekat harga penutupan ke $100 saat expiry, semakin besar profitnya. Semakin jauh dari $100, semakin kecil profitnya, hingga akhirnya menjadi loss jika harga bergerak melewati sayap atas atau bawah.
Max Profit, Max Loss, dan Breakeven
Max profit
Profit maksimal tercapai saat harga underlying ditutup tepat di strike tengah pada saat expiry. Dalam contoh di atas, max profit = selisih antar strike ($5) dikurangi net debit ($1.50) = $3.50 per saham atau $350 per kontrak.
Max loss
Kerugian maksimal terbatas pada net debit yang dibayar di awal, yaitu $1.50 per saham atau $150 per kontrak. Loss ini terjadi jika harga berakhir di bawah strike terendah ($95) atau di atas strike tertinggi ($105).
Breakeven
Ada dua titik breakeven.
- Breakeven bawah = strike terendah + net debit = $95 + $1.50 = $96.50. B
- reakeven atas = strike tertinggi - net debit = $105 - $1.50 = $103.50.
Harga harus berakhir di antara $96.50 dan $103.50 agar posisi menghasilkan profit.
Perhatikan rasio risk-reward-nya: risiko $150 untuk potensi profit $350. Ini rasio 1:2.3 yang cukup menarik untuk strategi dengan risiko terdefinisi.
Kapan Butterfly Spread Cocok Digunakan?
Butterfly spread paling efektif dalam kondisi low volatility expected, yaitu saat kamu memperkirakan harga tidak akan bergerak jauh dari level saat ini.
Saat IV tinggi
Kondisi ideal pertama adalah saat implied volatility sedang tinggi tapi kamu ekspektasi volatilitas akan turun. Premi options yang mahal membuat credit dari leg tengah lebih besar, sehingga net debit lebih kecil dan risk-reward lebih baik. Ini sering terjadi menjelang earnings di mana IV tinggi tapi trader memperkirakan reaksi harga akan terbatas.
Harga berada di range yang jelas
Kondisi ideal ini terlihat jika saham sudah bergerak sideways selama beberapa minggu dan tidak ada katalis besar di depan, butterfly spread memanfaatkan stabilitas ini. Strike tengah ditempatkan di level harga saat ini atau di area yang dianggap sebagai "pusat gravitasi" range tersebut.
Kondisi yang tidak cocok
Saat ada potensi pergerakan besar (earnings surprise, merger, data ekonomi penting) atau saat pasar sedang trending kuat ke satu arah. Butterfly spread membutuhkan presisi, dan pasar yang trending tidak memberikan itu.
Hal yang Perlu Diperhatikan
a) Time decay bekerja kondisional. Time decay adalah teman butterfly spread, tapi hanya jika harga sudah berada di dekat strike tengah. Theta menggerus nilai dua kontrak yang dijual lebih cepat dari dua kontrak yang dibeli, sehingga nilai posisi keseluruhan meningkat seiring waktu. Tapi jika harga jauh dari strike tengah, time decay justru tidak banyak membantu karena seluruh posisi mendekati max loss.
b) Likuiditas tiga leg. Butterfly spread melibatkan tiga leg, yang berarti tiga eksekusi terpisah. Pada saham dengan options chain yang kurang likuid, spread bid-ask di setiap leg bisa mengakumulasi biaya tersembunyi yang menggerus profitabilitas. Pilih saham dengan options volume tinggi dan spread ketat.
c) Timing exit. Banyak trader tidak menunggu sampai expiry. Jika harga sudah mendekati strike tengah dan profit sudah 50–70% dari max profit, menutup posisi lebih awal bisa lebih masuk akal daripada menunggu sisa profit kecil dengan risiko harga bergerak menjauh.
d) Profil profit lambat di awal. Perubahan harga premium pada butterfly spread bisa terasa lambat di hari-hari pertama. Profil profit-loss strategi ini baru terasa signifikan mendekati expiry. Jangan panik jika posisi terlihat "datar" di awal.
Ingin coba membangun butterfly spread di pasar nyata? Download Gotrade dan coba options trading langsung dari aplikasinya.
Kesimpulan
Butterfly spread adalah strategi options yang dirancang untuk kondisi spesifik: kamu punya target harga, ekspektasi volatilitas rendah, dan ingin risk-reward yang efisien. Dengan modal kecil (net debit), kamu bisa membangun posisi yang profit maksimal jika harga mendarat tepat di strike tengah saat expiry.
Tapi presisi ini juga berarti margin kesalahan yang sempit. Butterfly spread bukan strategi "pasang dan lupakan". Perlu pemilihan strike yang tepat, timing entry yang baik, dan rencana exit yang jelas.
FAQ
Apa itu butterfly spread dalam options trading?
Butterfly spread adalah strategi menggunakan tiga strike price berbeda (beli-jual-beli) dengan expiry sama, yang profit maksimal saat harga berakhir di strike tengah.
Berapa modal yang dibutuhkan untuk butterfly spread?
Modal terbatas pada net debit yang dibayar di awal, biasanya relatif kecil karena premi dari leg yang dijual mengurangi biaya keseluruhan.
Apakah butterfly spread cocok untuk pemula?
Konsepnya bisa dipelajari pemula, tapi eksekusinya membutuhkan pemahaman tentang Greeks, likuiditas, dan timing. Sebaiknya dipraktikkan setelah memahami vertical spread terlebih dahulu.
Kapan waktu terbaik menggunakan butterfly spread?
Saat ekspektasi volatilitas rendah, harga dalam range yang jelas, dan tidak ada katalis besar yang bisa memicu pergerakan harga signifikan.












