Order Splitting: Pengertian, Dampak, dan Tekniknya

Erwanto Khusuma
Erwanto Khusuma
Tim Gotrade
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade

Ringkasan

  • Order splitting trading membantu trader besar masuk posisi tanpa terlalu mendorong atau menekan harga.
  • Teknik ini dipakai karena order besar yang dieksekusi sekaligus bisa menciptakan market impact dan slippage.
  • Split order lebih cocok saat ukuran posisi besar atau market belum cukup jelas, tetapi terlalu pasif juga bisa membuat trader kehilangan momentum.
Order Splitting: Pengertian, Dampak, dan Tekniknya

Share this article

Order splitting adalah teknik trading membagi satu order besar menjadi beberapa order kecil. Tujuannya agar eksekusi lebih halus dan tidak terlalu menggerakkan harga. Dalam praktik pasar, kualitas eksekusi memang bisa berubah tergantung ukuran order, likuiditas, dan kondisi market.

Bagi trader besar, tantangannya bukan hanya soal arah harga. Tantangan utamanya juga soal bagaimana masuk posisi tanpa membuat average price jadi lebih buruk. Di situlah split order strategy jadi relevan.

Apa Itu Order Splitting?

Order splitting adalah strategi membagi eksekusi order besar menjadi beberapa bagian. Pembagiannya bisa dilakukan berdasarkan level harga, waktu, atau volume.

Teknik ini dipakai agar order besar tidak langsung “menghantam” likuiditas di satu harga. Kalau order terlalu besar dieksekusi sekaligus, harga bisa bergerak duluan sebelum seluruh order selesai terisi.

Secara sederhana, melansir Investopedia, order splitting trading adalah cara mengurangi tekanan ke market saat masuk atau keluar posisi besar. Jadi fokusnya bukan cuma “masuk posisi,” tetapi juga “masuk dengan cara yang efisien.”

Kenapa Order Besar Jarang Dieksekusi Sekaligus

Order besar jarang dieksekusi sekaligus karena harga yang terlihat di layar belum tentu tersedia untuk ukuran besar. Market order memang mengejar eksekusi cepat, tetapi tidak menjamin harga persis yang terlihat saat order dikirim.

Dalam market yang cepat, bagian-bagian dari order besar juga bisa terisi di harga berbeda. Investor.gov bahkan memberi contoh bahwa large market order di fast-moving market dapat dieksekusi pada beberapa harga berbeda.

Itulah alasan kenapa eksekusi order besar sering perlu dipecah. Tujuannya agar harga rata-rata tetap lebih terjaga, bukan langsung melonjak karena trader sendiri yang mendorong market.

Dampak Market Impact pada Saham Aktif

Saham aktif memang biasanya lebih likuid. Namun market impact tetap bisa terjadi, terutama kalau ukuran order cukup besar dibanding likuiditas yang tersedia saat itu.

Semakin agresif order masuk, semakin besar peluang harga bergerak melawan trader. Ini bisa membuat average price jadi lebih jelek daripada rencana awal. SEC juga menekankan bahwa kualitas eksekusi memang perlu dibaca menurut ukuran order, termasuk larger-sized orders.

Di saham aktif, masalahnya sering bukan apakah order bisa terisi atau tidak. Masalahnya adalah apakah trader mendapat harga yang masih efisien setelah order besar mulai memakan likuiditas di bid atau ask.

Teknik Membagi Order Berdasarkan Level Harga

Salah satu cara paling sederhana adalah membagi order di beberapa level harga. Pendekatan ini sering dipakai oleh trader yang tidak ingin all-in di satu titik.

Split order di area support

Trader bisa masuk bertahap di sekitar support utama. Misalnya, sebagian order masuk di area support awal, lalu sebagian lagi di bawahnya jika harga masih memberi ruang.

Cara ini membantu trader menghindari entry penuh yang terlalu cepat. Selain itu, average price juga bisa lebih rapi jika harga masih bergerak di area akumulasi.

Split order saat breakout

Untuk breakout, split order strategy juga bisa dipakai. Misalnya, sebagian order masuk saat resistance ditembus, lalu sisanya masuk setelah breakout bertahan.

Pendekatan ini berguna untuk mengurangi risiko false breakout. Trader tidak langsung menaruh seluruh ukuran posisi pada satu momen yang belum sepenuhnya terkonfirmasi.

Split order berbasis waktu

Order juga bisa dibagi berdasarkan waktu. Fidelity menjelaskan strategi VWAP sebagai pendekatan yang mengeksekusi order mengikuti aliran volume sepanjang periode tertentu, sehingga eksekusi tersebar dan tidak langsung menumpuk di satu momen.

Kapan Split Order Lebih Efektif daripada All-In

Split order lebih efektif saat ukuran posisi cukup besar, kondisi market belum terlalu jelas, atau trader ingin menjaga average price tetap rapi.

Teknik ini juga berguna saat likuiditas terlihat ada, tetapi depth di satu level tidak cukup tebal untuk menyerap seluruh order besar sekaligus. Dalam kondisi seperti ini, all-in bisa terlalu agresif.

Di sisi lain, split order strategy sering lebih cocok saat trader masih membangun conviction. Jadi posisi bisa masuk bertahap sambil membaca respons market.

Risiko Kehilangan Momentum saat Terlalu Pasif

Meski berguna, order splitting trading punya sisi lemah. Kalau terlalu pasif, trader bisa kehilangan momentum.

Ini sering terjadi saat saham sedang bergerak cepat karena breakout atau katalis besar. Trader berniat masuk bertahap, tetapi harga terus lari. Akhirnya hanya sebagian kecil posisi yang terisi.

Dalam situasi seperti ini, all-in kadang justru lebih efisien. Jadi, split order tidak selalu lebih baik. Semuanya tergantung ukuran order, kecepatan market, dan kualitas setup.

Kesalahan Umum saat Melakukan Split Order

Beberapa kesalahan yang paling sering terjadi adalah:

  • membagi order tanpa level yang jelas
  • terlalu banyak tranche sampai eksekusi jadi lambat
  • tetap all-in di saham yang likuiditasnya tipis
  • terlalu pasif sampai kehilangan momentum
  • tidak membedakan setup breakout dan setup akumulasi

Masalah utamanya biasanya bukan pada split order itu sendiri. Masalahnya ada pada eksekusi yang tidak sesuai konteks.

Kesimpulan

Order splitting trading adalah cara membagi eksekusi order besar agar harga tidak terlalu terdorong oleh order itu sendiri. Teknik ini penting karena order besar yang dieksekusi sekaligus bisa memperburuk average price dan menurunkan kualitas eksekusi.

Kalau kamu sedang membangun posisi yang besar, jangan hanya fokus pada arah sahamnya. Perhatikan juga cara masuknya. Dalam banyak kasus, kualitas eksekusi order besar bisa sama pentingnya dengan ide trading itu sendiri. Mulai trading saham AS di Gotrade dengan rencana entry yang lebih terukur.

FAQ

Apa itu order splitting trading?
Order splitting trading adalah teknik membagi satu order besar menjadi beberapa order kecil agar eksekusinya lebih halus dan tidak terlalu mengganggu harga.

Kenapa order besar tidak langsung dieksekusi sekaligus?
Karena order besar bisa memakan likuiditas di satu harga dan membuat harga eksekusinya sendiri jadi lebih buruk.

Kapan split order lebih baik daripada all-in?
Split order biasanya lebih cocok saat ukuran posisi besar, likuiditas tidak terlalu tebal, atau trader ingin menjaga average price sambil menunggu konfirmasi market.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade