Overconfidence sering muncul bukan saat rugi, tetapi justru setelah investor dapat profit investasi yang besar. Ketika portofolio melonjak signifikan, banyak investor mulai merasa lebih pintar dari market.
Keputusan yang sebelumnya disiplin berubah menjadi agresif, dan risiko mulai diabaikan.
Masalahnya, overconfidence bukan sekadar soal percaya diri. Ini adalah bias psikologis yang bisa menggerus hasil investasi jangka panjang secara perlahan.
Artikel ini membahas bagaimana profit besar memicu lifestyle inflation, serta dampak overconfidence terhadap keputusan investasi dan kesehatan portofolio.
Profit Besar dan Lifestyle Inflation
Profit besar sering menjadi pemicu perubahan perilaku finansial yang tidak disadari.
Profit dianggap sebagai pendapatan berulang
Kesalahan awal yang sering terjadi adalah menganggap profit besar sebagai sesuatu yang bisa diulang dengan mudah. Investor mulai memperlakukan keuntungan investasi seperti gaji tambahan.
Padahal, profit investasi bersifat tidak pasti dan tidak linear.
Kenaikan gaya hidup setelah profit
Lifestyle inflation sering menyusul setelah profit besar. Pengeluaran meningkat karena merasa sudah “aman” secara finansial. Komitmen baru ini bersifat permanen, sementara profit belum tentu berulang.
Mengaburkan batas antara kekayaan dan likuiditas
Profit di portofolio belum tentu sudah direalisasikan. Namun, overconfidence membuat investor merasa lebih kaya dari kondisi sebenarnya. Akibatnya, keputusan konsumsi dan investasi menjadi kurang terkontrol.
Tekanan untuk mempertahankan standar hidup baru
Setelah gaya hidup naik, investor terdorong untuk mempertahankan standar tersebut. Tekanan ini sering mendorong pengambilan risiko lebih besar di investasi berikutnya. Dari situ, lingkaran risiko mulai terbentuk.
Mengurangi buffer keuangan
Profit yang seharusnya memperkuat dana darurat atau cash buffer justru terpakai untuk konsumsi. Ketahanan finansial melemah tanpa disadari. Padahal, buffer adalah pelindung utama saat market berbalik.
Dilansir dari Investopedia, salah satu dampak profit besar adalah meningkatnya bias overconfidence yang mendorong pengambilan risiko berlebihan.
Dampak Overconfidence setelah Profit Besar
Overconfidence memiliki efek berlapis terhadap keputusan dan portofolio.
Peningkatan risiko tanpa disadari
Investor yang overconfident cenderung menaikkan ukuran posisi atau masuk ke aset lebih volatil. Risiko meningkat lebih cepat daripada kapasitas menanggungnya. Alhasil, keseimbangan risiko terganggu.
Mengabaikan manajemen risiko
Setelah profit besar, aturan stop loss atau alokasi sering dilonggarkan. Investor merasa “punya ruang” untuk salah. Padahal, disiplin justru paling dibutuhkan setelah menang besar.
Overtrading dan keputusan impulsif
Kepercayaan diri berlebih mendorong frekuensi transaksi meningkat. Overtrading menurunkan kualitas keputusan dan meningkatkan biaya. Profit sebelumnya tergerus perlahan.
Salah mengatribusikan keberhasilan
Investor sering menganggap profit besar sebagai hasil skill murni, bukan kombinasi skill, kondisi market, dan keberuntungan. Kesalahan atribusi ini memperkuat overconfidence.
Penurunan kesiapan menghadapi drawdown
Overconfidence membuat investor kurang siap secara mental saat market berbalik. Drawdown terasa lebih mengejutkan dan menyakitkan. Reaksi emosional meningkat.
Risiko leverage tersembunyi
Beberapa investor mulai menggunakan leverage, baik eksplisit maupun implisit, setelah profit besar. Risiko portofolio meningkat drastis. Leverage dan overconfidence adalah kombinasi berbahaya.
Dampak jangka panjang ke performa
Dalam jangka panjang, overconfidence cenderung menurunkan return risk-adjusted. Investor menang besar di satu fase, lalu kehilangan lebih banyak di fase berikutnya. Akhirnya, konsistensi menjadi korban.
Menurut Corporate Finance Institute, pengendalian emosi dan disiplin risiko adalah faktor penting dalam menjaga keberlanjutan hasil investasi.
Kesimpulan
Overconfidence setelah profit besar adalah risiko psikologis yang sering tidak disadari investor. Profit investasi yang signifikan dapat memicu lifestyle inflation, melemahkan buffer keuangan, dan mendorong pengambilan risiko berlebihan.
Dampaknya tidak selalu langsung, tetapi sering merusak performa jangka panjang. Investor yang mampu bertahan lama di market adalah mereka yang memperlakukan profit besar dengan hati-hati, bukan euforia.
Dengan menjaga disiplin, memisahkan profit dari gaya hidup, dan tetap menghormati risiko, investor dapat melindungi portofolionya dari jebakan overconfidence.
Jika kamu ingin mengelola investasi global dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan disiplin, kamu bisa memanfaatkan Gotrade Indonesia untuk mengakses saham dan ETF Amerika sesuai strategi jangka panjangmu.
FAQ
Apa itu overconfidence investor?
Overconfidence investor adalah bias psikologis ketika investor terlalu percaya diri terhadap kemampuannya, sering muncul setelah profit besar.
Kenapa profit besar bisa berbahaya bagi investor?
Karena profit besar sering memicu pengambilan risiko berlebihan, lifestyle inflation, dan pelonggaran manajemen risiko.
Bagaimana cara menghindari overconfidence setelah profit?
Dengan tetap mengikuti aturan risiko, tidak menaikkan gaya hidup secara agresif, dan mengevaluasi hasil secara objektif.











