Alokasi emas sering menjadi topik penting ketika investor mulai serius membangun diversifikasi aset. Banyak yang bertanya, berapa persen investasi emas yang ideal dalam portofolio?
Jawabannya tidak tunggal, tetapi ada satu rule of thumb yang sering digunakan: 5-10% dari total portofolio. Angka ini dianggap cukup untuk memberikan perlindungan tanpa mengorbankan potensi pertumbuhan dari aset lain seperti saham.
Sebelum menentukan porsi emas, penting memahami fungsi emas dalam portofolio dan bagaimana karakter pergerakannya berbeda dari aset lain.
Rule 5-10%: Kenapa Angka Ini Sering Dipakai?
Banyak perencana keuangan dan investor global menggunakan kisaran 5–10 persen sebagai baseline alokasi emas. Alasannya sederhana, emas berperan sebagai:
Diversifier ketika pasar saham volatil
Pelindung nilai saat inflasi meningkat
Safe haven saat ketidakpastian global naik
Namun emas bukan aset dengan pertumbuhan agresif seperti saham teknologi. Jika porsinya terlalu besar, potensi return jangka panjang bisa tertahan.
Rule 5-10% membantu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.
Kalau kamu ingin mulai mengatur alokasi emas di portofolio global, kamu bisa mengakses ETF emas langsung lewat aplikasi Gotrade Indonesia dan menyesuaikan porsinya sesuai strategi kamu.
Faktor Penentu Alokasi Emas
Tidak semua investor cocok dengan porsi yang sama. Ada beberapa faktor yang memengaruhi alokasi emas, melansir Morningstar, seperti:
Profil risiko
Investor konservatif biasanya lebih nyaman dengan porsi emas lebih tinggi, misalnya mendekati 10% atau sedikit di atasnya.
Investor agresif yang fokus pada pertumbuhan bisa cukup di 5% atau bahkan lebih rendah, tergantung keyakinan terhadap pasar saham.
Horizon investasi
Untuk tujuan jangka pendek atau menengah, emas bisa menjadi penyeimbang volatilitas.
Untuk tujuan sangat panjang seperti pensiun 20-30 tahun lagi, porsi emas biasanya lebih kecil karena saham cenderung memberikan return lebih tinggi dalam jangka panjang.
Kondisi makro
Ketika inflasi tinggi, suku bunga tidak stabil, atau risiko geopolitik meningkat, sebagian investor memilih meningkatkan alokasi emas sementara waktu.
Namun keputusan ini sebaiknya tetap berbasis strategi, bukan reaksi emosional.
Komposisi aset lain
Jika portofolio kamu sudah sangat defensif, misalnya banyak obligasi dan saham defensif, tambahan emas terlalu besar bisa membuat pertumbuhan semakin lambat.
Sebaliknya, jika portofolio sangat agresif di saham growth, emas bisa membantu menurunkan risiko keseluruhan.
Perbedaan Alokasi untuk Investor Konservatif dan Agresif
Investor Konservatif
Ciri umum:
Fokus pada stabilitas
Tidak nyaman dengan drawdown besar
Mengutamakan perlindungan modal
Alokasi emas bisa berada di kisaran 8-12%, tergantung kenyamanan risiko. Emas berfungsi sebagai bantalan ketika pasar saham turun tajam.
Investor Moderat
Ciri umum:
Seimbang antara pertumbuhan dan stabilitas
Bersedia menerima volatilitas moderat
Alokasi emas biasanya sekitar 5-10%. Ini memberikan perlindungan tanpa terlalu membatasi potensi return.
Investor Agresif
Ciri umum:
Fokus pada pertumbuhan jangka panjang
Siap menerima volatilitas tinggi
Alokasi emas bisa lebih kecil, misalnya 3-5%. Tujuannya lebih sebagai diversifikasi ringan daripada proteksi utama.
Rebalancing: Kunci Menjaga Proporsi Tetap Sehat
Menentukan alokasi emas saja tidak cukup. Kamu juga perlu melakukan rebalancing secara berkala.
Rebalancing adalah proses mengembalikan komposisi portofolio ke target awal ketika terjadi perubahan besar.
Contoh sederhana:
Target emas 10%
Setelah kenaikan harga emas, porsinya menjadi 15%
Artinya kamu bisa menjual sebagian emas atau menambah aset lain agar kembali ke 10%.
Sebaliknya, jika harga emas turun dan porsinya menjadi 6%, kamu bisa mempertimbangkan menambah emas untuk kembali ke target.
Rebalancing membantu:
Mengunci keuntungan
Menghindari overweight berlebihan
Menjaga disiplin strategi
Banyak investor melakukan rebalancing setiap 6 atau 12 bulan sekali.
Kesalahan yang Harus Dihindari saat Alokasi Emas
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
Menambah emas terlalu besar saat panik pasar
Menghapus emas sepenuhnya saat saham bullish
Tidak pernah rebalancing
Menganggap emas pasti selalu naik saat krisis
Emas memang aset defensif, tetapi tetap memiliki volatilitas. Harga emas bisa stagnan atau turun dalam periode tertentu.
Karena itu, alokasi emas sebaiknya menjadi bagian dari sistem, bukan keputusan sesaat.
Kesimpulan
Porsi ideal emas dalam portofolio umumnya berada di kisaran 5–10 persen. Angka ini cukup untuk mendukung diversifikasi aset tanpa mengurangi potensi pertumbuhan jangka panjang.
Namun alokasi emas tetap harus disesuaikan dengan profil risiko, horizon investasi, dan kondisi makro. Investor konservatif cenderung memiliki porsi lebih besar dibanding investor agresif.
Yang tidak kalah penting adalah melakukan rebalancing secara berkala agar proporsi tetap sehat.
Kalau kamu ingin mulai mengatur alokasi emas dalam portofolio global, kamu bisa melakukannya melalui ETF emas yang tersedia di aplikasi Gotrade Indonesia.
FAQ
Berapa persen ideal investasi emas dalam portofolio?
Umumnya 5–10 persen dari total portofolio, tergantung profil risiko dan tujuan investasi.
Apakah emas harus selalu ada dalam portofolio?
Tidak wajib, tetapi emas sering digunakan sebagai alat diversifikasi dan proteksi nilai.
Kapan sebaiknya menambah alokasi emas?
Biasanya saat melakukan rebalancing atau ketika strategi jangka panjang memang mengharuskan porsi lebih defensif.
Apakah terlalu banyak emas bisa merugikan?
Ya, jika porsinya terlalu besar, potensi pertumbuhan portofolio bisa tertahan karena emas tidak selalu tumbuh secepat saham.











