Rights issue saham adalah aksi perusahaan terbuka untuk memperoleh tambahan modal dengan menerbitkan saham atau efek bersifat ekuitas baru. Pemegang saham lama memperoleh hak untuk membeli efek tersebut terlebih dahulu sesuai rasio yang ditentukan.
Hak ini disebut Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau HMETD. Bagi investor, rights issue dapat membuka kesempatan mempertahankan persentase kepemilikan. Namun, keputusan untuk menebus HMETD tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan dana perusahaan, kondisi keuangan, harga pelaksanaan, dan risiko dilusi.
Apa Itu Rights Issue Saham?
Rights issue saham adalah aksi perusahaan menerbitkan saham baru dengan memberikan hak terlebih dahulu kepada pemegang saham lama. Hak ini dikenal sebagai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan biasanya dibagikan berdasarkan rasio kepemilikan saham.
Pemegang saham dapat menggunakan hak tersebut untuk membeli saham baru atau mengalihkannya kepada pihak lain sesuai ketentuan yang berlaku. Investor juga tidak wajib menebus seluruh hak yang diterima.
Mengacu pada POJK Nomor 32/POJK.04/2015, HMETD merupakan hak yang melekat pada saham dan memberi kesempatan kepada pemegangnya untuk membeli saham atau efek bersifat ekuitas lainnya sebelum ditawarkan kepada pihak lain.
Perusahaan yang ingin menambah modal melalui HMETD harus memperoleh persetujuan RUPS, menyampaikan pernyataan pendaftaran beserta dokumen pendukung kepada OJK, dan menunggu pernyataan tersebut efektif.
Perusahaan melakukan rights issue untuk memperoleh tambahan modal dari pemegang saham. Dana tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti menambah modal kerja, membayar atau merestrukturisasi utang, membangun fasilitas, membeli aset atau perusahaan lain, memenuhi kebutuhan modal minimum, hingga mendukung ekspansi usaha.
Rights issue tidak selalu menunjukkan bahwa perusahaan sedang mengalami masalah. Aksi ini juga dapat dilakukan untuk memperkuat kondisi keuangan atau membiayai rencana pertumbuhan. Meski demikian, investor tetap perlu memeriksa tujuan penggunaan dananya, termasuk apakah rencana tersebut dijelaskan secara rinci, berkaitan dengan kegiatan usaha, dan masuk akal jika dibandingkan dengan kondisi keuangan perusahaan.
Bagaimana Cara Kerja Rights Issue?
Rights issue dimulai ketika perusahaan mengumumkan jumlah saham baru, rasio HMETD, harga pelaksanaan, penggunaan dana, serta jadwal pelaksanaannya.
Beberapa tanggal yang perlu diperhatikan adalah:
Istilah
Artinya
Cum rights
Hari terakhir membeli saham agar memperoleh HMETD
Ex-rights
Hari pertama pembeli saham tidak lagi memperoleh HMETD
Recording date
Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak
Distribution date
Tanggal HMETD didistribusikan ke rekening efek
Trading period
Periode ketika HMETD dapat diperdagangkan
Exercise period
Periode untuk menggunakan HMETD membeli saham baru
Maturity date
Batas akhir pelaksanaan HMETD
Setelah HMETD didistribusikan, investor dapat menebusnya menjadi saham baru atau menjual hak tersebut selama masa perdagangan. Jika tidak digunakan sampai batas waktu, HMETD akan dihapus dari sistem dan tidak lagi memiliki nilai.
Jadwal setiap emiten berbeda. Kamu dapat mengecek pengumuman terbaru melalui halaman Distribusi HMETD KSEI. KSEI juga menjelaskan bahwa HMETD yang tidak dilaksanakan akan dihapus setelah periode pelaksanaan berakhir.
Contoh Perhitungan Rights Issue
Misalnya, sebuah perusahaan menerbitkan rights issue dengan ketentuan:
Rasio: 5 saham lama mendapat 2 HMETD
Harga pelaksanaan: Rp600 per saham
Kepemilikan investor: 1.000 saham
Jumlah HMETD yang diperoleh:
1.000 ÷ 5 × 2 = 400 HMETD
Jika satu HMETD dapat digunakan untuk membeli satu saham baru, investor berhak membeli 400 saham.
Dana yang dibutuhkan:
400 × Rp600 = Rp240.000
Setelah menebus seluruh haknya, investor memiliki 1.400 saham. Perhitungan ini belum memasukkan biaya transaksi atau ketentuan lain yang tercantum dalam prospektus.
Apa yang Terjadi pada Harga Setelah Rights Issue?
Saat masuk periode ex-rights, harga saham biasanya menyesuaikan karena pembeli baru tidak lagi mendapat HMETD. Perkiraan harga setelah penyesuaian disebut Theoretical Ex-Rights Price (TERP). Namun, harga pasar tetap bisa berbeda karena dipengaruhi permintaan, sentimen, dan prospek perusahaan. Dengan contoh sebelumnya, anggaplah harga saham sebelum ex-rights adalah Rp1.000, dengan rasio 5 saham lama mendapat 2 HMETD pada harga pelaksanaan Rp600.
Rumus TERP:
TERP = ((5 × Rp1.000) + (2 × Rp600)) ÷ 7
Hasilnya sekitar Rp886 per saham.
Angka ini merupakan perkiraan harga teoritis setelah rights issue, bukan prediksi harga pasar. Harga sebenarnya tetap dipengaruhi permintaan, penawaran, sentimen, dan prospek perusahaan.
Penurunan teoritis dari Rp1.000 ke Rp886 juga tidak langsung berarti investor kehilangan Rp114 per saham. Pemegang saham yang berhak akan menerima HMETD yang masih memiliki nilai selama dapat digunakan atau diperdagangkan.
Contoh Perusahaan Rights Issue di Indonesia
Pasar modal Indonesia sudah cukup sering menyaksikan rights issue besar. Beberapa di antaranya adalah:
PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE): melakukan aksi korporasi melalui skema rights issue dengan menerbitkan maksimal 48 miliar saham baru, dana hasil aksi korporasi ini digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan dan mendukung ekspansi armada kapal.
PT Pantai Indah Kapuk 2 Tbk (PANI): Dilansir dalam laman CNBC Indonesia, PANI melakukan rights issue atau PMHMETD III pada 23 Desember 2025 dengan tujuan memperkuat struktur permodalan serta mendukung ekspansi bisnis perseroan. Aksi korporasi ini menjadi salah satu rights issue terbesar di pasar modal Indonesia.
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET): Menurut laman Market Bisnis, INET melakukan penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu 1 (PMHMETD 1) dengan nilai maksimal Rp3,2 triliun. Dalam aksi korporasi tersebut, INET menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Pilihan Investor saat Mendapat HMETD
HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) adalah hak bagi pemegang saham lama untuk membeli saham baru terlebih dahulu saat perusahaan melakukan rights issue.
1. Menebus HMETD
Investor membayar harga pelaksanaan untuk memperoleh saham baru. Pilihan ini dapat mempertahankan persentase kepemilikan jika seluruh hak ditebus. Namun, harga pelaksanaan yang lebih rendah dari harga pasar belum tentu menjadi alasan yang cukup untuk membeli. Periksa kondisi perusahaan dan bandingkan dengan TERP serta harga pasar selama periode pelaksanaan.
2. Menjual HMETD
Karena HMETD dapat dialihkan, investor dapat menjualnya selama periode perdagangan jika tersedia pembeli. Harga HMETD dapat bergerak dan tidak selalu sama dengan nilai teoritisnya. Likuiditas juga dapat berbeda pada setiap emiten.
3. Membiarkan HMETD Berakhir
Investor dapat memilih tidak melakukan apa pun hingga masa berlaku HMETD berakhir. Dalam kondisi ini, jumlah saham lama tetap dimiliki, tetapi persentase kepemilikan dapat turun setelah saham baru diterbitkan. Investor juga kehilangan kesempatan untuk menggunakan atau menjual HMETD tersebut.
Secara umum, pilihannya adalah:
Menebus HMETD: Membutuhkan dana tambahan. Jumlah saham bertambah dan persentase kepemilikan dapat dipertahankan.
Menjual HMETD: Tidak membutuhkan dana tambahan. Investor menerima hasil penjualan, tetapi persentase kepemilikan dapat turun.
Membiarkan HMETD berakhir: Tidak membutuhkan dana tambahan, tetapi hak tersebut tidak lagi bernilai dan persentase kepemilikan dapat turun.
Risiko Rights Issue bagi Investor
Rights issue dapat memberikan tambahan modal bagi perusahaan, tetapi juga membawa beberapa risiko bagi investor. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk menebus HMETD.
1. Dilusi Kepemilikan
Investor yang tidak menggunakan haknya dapat mengalami penurunan persentase kepemilikan setelah jumlah saham beredar bertambah. Meski jumlah saham yang dimiliki tidak berubah, porsinya terhadap total saham perusahaan menjadi lebih kecil.
2. Penurunan Laba per Saham
Penerbitan saham baru menambah jumlah saham yang digunakan dalam perhitungan earnings per share atau EPS. Jika laba perusahaan belum meningkat, laba per saham dapat turun karena laba yang sama dibagi ke jumlah saham yang lebih banyak.
3. Penggunaan Dana Tidak Sesuai Harapan
Dana rights issue dapat dialokasikan ke proyek yang hasilnya lebih rendah dari perkiraan. Penggunaan dana untuk membayar utang juga belum tentu memperbaiki kinerja perusahaan apabila masalah operasional utamanya tidak diselesaikan.
Karena itu, periksa tujuan penggunaan dana, jadwal pelaksanaan, dan hasil yang diharapkan perusahaan.
4. Harga Saham Tetap Bisa Turun
Harga pelaksanaan yang lebih rendah dari harga pasar tidak menjamin keuntungan. Setelah penerbitan saham baru, harga pasar tetap dapat turun di bawah harga pelaksanaan akibat kondisi perusahaan, perubahan sentimen, atau tekanan jual.
5. Membutuhkan Dana Tambahan
Untuk menebus HMETD, investor perlu menyediakan modal tambahan sesuai jumlah hak yang dimiliki. Hindari menggunakan dana darurat atau dana untuk kebutuhan jangka pendek hanya demi mempertahankan persentase kepemilikan.
Apa yang Harus Diperiksa dalam Prospektus?
Prospektus HMETD memuat informasi material yang dapat memengaruhi keputusan investor. Mengacu pada POJK Nomor 33/POJK.04/2015, informasi yang disampaikan harus lengkap dan tidak menyesatkan agar investor dapat memahami tujuan, risiko, serta dampak rights issue.
Sebelum mengambil keputusan, periksa jumlah saham baru yang diterbitkan, rasio HMETD, harga pelaksanaan, dan perkiraan dana yang akan dihimpun. Perhatikan pula rencana penggunaan dana, potensi dilusi, komitmen pemegang saham pengendali, serta keberadaan pembeli siaga.
Informasi lain yang perlu diperiksa mencakup waran yang menyertai penerbitan, jadwal perdagangan dan pelaksanaan HMETD, serta kondisi utang, arus kas, dan laba perusahaan. Detail tersebut membantu kamu menilai apakah aksi korporasi ini memiliki dasar yang masuk akal dan sesuai dengan kebutuhan bisnis perusahaan.
Jangan menilai rights issue hanya dari besarnya diskon. Harga pelaksanaan yang lebih rendah dari harga pasar belum tentu menarik apabila kondisi keuangan perusahaan lemah atau penggunaan dananya tidak mendukung perbaikan bisnis.
Perbedaan Rights Issue, Private Placement, dan Stock Split
Ketiganya sama-sama termasuk aksi korporasi, tetapi memiliki tujuan dan dampak yang berbeda, sebagai berikut:
Aksi Korporasi
Menerbitkan Saham Baru
Menghimpun Dana
Hak Pemegang Saham Lama
Rights issue
Ya
Ya
Mendapat HMETD secara proporsional
Private placement
Ya
Ya
Tidak diberikan kepada seluruh pemegang saham lama
Stock split
Tidak
Tidak
Tidak ada HMETD
Rights issue menerbitkan saham baru dan memberi pemegang saham lama kesempatan membeli melalui HMETD. Private placement juga menerbitkan saham baru, tetapi saham ditawarkan kepada pihak tertentu. Sementara itu, stock split hanya memecah saham menjadi lebih banyak unit tanpa menambah modal perusahaan.
Pahami Rights Issue Sebelum Mengambil Keputusan Investasi
Rights issue memberi kesempatan kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru melalui HMETD. Investor dapat memilih untuk menebus, menjual, atau membiarkan hak tersebut berakhir, dengan dampak yang berbeda terhadap dana, jumlah saham, dan persentase kepemilikan.
Sebelum mengambil keputusan, baca prospektus dan periksa tujuan penggunaan dana, harga pelaksanaan, rasio HMETD, jadwal, kondisi keuangan perusahaan, serta risiko dilusi. Harga pelaksanaan yang lebih rendah dari harga pasar tidak menjamin keuntungan. Untuk memahami saham dan aksi korporasi dengan lebih baik, kamu dapat memantau berita perusahaan, pergerakan harga, dan informasi saham AS melalui aplikasi Gotrade.
Investopedia, “Understanding the Theoretical Ex-Rights Price (TERP) in Stock Market.”
OJK, “Bentuk dan isi prospektus dalam rangka penambahan modal perusahaan terbuka dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.”
FAQ
1. Apakah investor wajib ikut rights issue?
Tidak. HMETD adalah hak, bukan kewajiban. Namun, tidak menebus saham baru dapat menurunkan persentase kepemilikan investor.
2. Apakah HMETD bisa dijual?
Ya. Berdasarkan POJK HMETD, hak tersebut dapat dialihkan. Penjualan hanya dapat dilakukan selama periode perdagangan dan bergantung pada ketentuan serta likuiditas pasar.
3. Apakah harga saham pasti turun setelah rights issue?
Tidak pasti. Harga dapat mengalami penyesuaian teoritis pada periode ex-rights, tetapi harga aktual dipengaruhi kondisi perusahaan, penggunaan dana, sentimen, dan aktivitas pasar.
4. Apa yang terjadi jika HMETD tidak digunakan?
HMETD yang tidak dijual atau dilaksanakan sampai batas waktunya dapat berakhir dan dihapus dari rekening efek. Investor tidak memperoleh saham baru dari hak tersebut.
5. Apakah rights issue selalu buruk?
Tidak. Dampaknya bergantung pada alasan penerbitan, harga pelaksanaan, kondisi perusahaan, dan hasil penggunaan dana. Investor tetap perlu memeriksa prospektus dan laporan keuangan.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.