Awal tahun 2026 pasar bergerak cepat dan emosional, terutama setelah konflik antara Venezuela dan Amerika Serikat pecah pada Sabtu (03/01) waktu setempat. Investor berpindah dari aset berisiko ke aset aman, lalu perlahan kembali mengambil risiko ketika ketidakpastian mereda. Pola ini dikenal sebagai risk-on risk-off.
Memahami dinamika risk-on dan risk-off membantu investor membaca sentimen pasar, bukan sekadar bereaksi pada headline.
Artikel ini menjelaskan konsep risk-on vs risk-off dalam konteks konflik internasional, indikator yang berubah saat sentimen bergeser, serta cara menyesuaikan eksposur dan ukuran posisi secara disiplin.
Apa Itu Risk-On dan Risk-Off?
Risk-on adalah kondisi ketika investor bersedia mengambil risiko lebih besar. Modal mengalir ke saham, aset growth, dan pasar yang lebih volatil karena ekspektasi return meningkat.
Risk-off adalah kondisi sebaliknya. Investor mengurangi risiko dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.
Kedua kondisi ini bersifat dinamis dan sering berganti setelah konflik global atau kejadian geopolitik besar.
Mengapa Konflik Global Memicu Pergeseran Risk-On Risk-Off?
Konflik internasional meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan kebijakan. Pasar merespons dengan menyesuaikan ekspektasi risiko dan likuiditas.
Ketidakpastian meningkatkan aversi risiko
Ketika informasi masih terbatas, investor cenderung melindungi modal. Ini memicu fase risk-off dengan penurunan minat pada aset berisiko.
Reaksi awal sering bersifat defensif dan cepat.
Klarifikasi informasi mendorong normalisasi
Seiring waktu, pasar memisahkan risiko nyata dan spekulatif. Jika dampak ekonomi terbatas, sentimen dapat beralih kembali ke risk-on.
Normalisasi ini sering terjadi sebelum konflik benar-benar selesai.
Menurut J.P. Morgan, pasar keuangan cenderung berosilasi antara risk-on dan risk-off seiring perubahan ekspektasi dan kejelasan informasi.
Indikator Kunci Saat Sentimen Berubah
Pergeseran risk-on risk-off tercermin pada beberapa indikator pasar utama.
Volatilitas saham
Lonjakan volatilitas sering menandai fase risk-off. Indeks volatilitas naik ketika ketidakpastian meningkat dan investor mengurangi eksposur.
Penurunan volatilitas biasanya mengindikasikan kembalinya risk-on.
Pergerakan USD
Dolar AS (USD) sering menguat saat risk-off karena dianggap sebagai aset likuid dan aman. Penguatan USD mencerminkan permintaan perlindungan modal.
Saat risk-on kembali, USD cenderung melemah relatif terhadap aset berisiko.
Yield obligasi pemerintah
Pada fase risk-off, yield obligasi pemerintah AS sering turun karena permintaan meningkat. Investor mencari stabilitas dan keamanan.
Kenaikan yield biasanya terjadi saat risk-on, seiring modal kembali ke aset berisiko.
Rotasi sektor saham
Risk-off sering memicu rotasi ke sektor defensif. Risk-on mendorong minat pada sektor siklikal dan growth.
Rotasi ini membantu membaca sentimen tanpa melihat indeks secara keseluruhan.
Mengutip Trade Nation, kombinasi volatilitas, USD, dan yield sering menjadi sinyal paling konsisten dalam membaca perubahan sentimen global.
Cara Investor Menyesuaikan Strategi saat Risk-On Risk-Off
Membaca sentimen saja tidak cukup. Penyesuaian strategi perlu dilakukan dengan disiplin.
Menyesuaikan eksposur secara bertahap
Perubahan sentimen jarang bersifat hitam-putih. Investor sebaiknya menyesuaikan eksposur secara bertahap, bukan ekstrem.
Pendekatan ini mengurangi risiko timing yang buruk.
Mengatur ukuran posisi
Saat volatilitas meningkat, ukuran posisi sebaiknya dikurangi. Pengelolaan ukuran posisi membantu menjaga risiko tetap terkendali.
Disiplin ukuran sering lebih penting daripada memilih aset yang tepat.
Memisahkan strategi jangka pendek dan jangka panjang
Reaksi risk-off jangka pendek tidak selalu mengubah tesis jangka panjang. Investor perlu memisahkan keputusan trading dari investasi.
Pemisahan ini mencegah keputusan emosional.
Menggunakan indikator sebagai konfirmasi
Indikator sentimen sebaiknya digunakan sebagai konfirmasi, bukan pemicu tunggal. Konsistensi sinyal lebih penting daripada satu indikator.
Pendekatan multi-indikator meningkatkan objektivitas.
Kesalahan yang Harus Dihindari
Beberapa kesalahan sering dilakukan investor setelah konflik global.
Menganggap risk-off sebagai tren permanen
Banyak investor mengira fase risk-off akan bertahan lama. Padahal, sejarah menunjukkan banyak fase risk-off bersifat sementara.
Overdefensive sering menyebabkan kehilangan peluang.
Bereaksi hanya pada headline konflik
Headline sering memperbesar ketakutan. Mengambil keputusan tanpa melihat indikator pasar meningkatkan risiko kesalahan.
Sentimen pasar lebih luas daripada berita utama.
Mengabaikan disiplin risiko
Mengubah strategi tanpa menyesuaikan ukuran posisi sering memperbesar kerugian. Disiplin risiko perlu dijaga dalam kondisi apa pun.
Risk-on maupun risk-off tetap membutuhkan manajemen risiko.
Kesimpulan
Risk-on risk-off adalah kerangka penting untuk membaca reaksi pasar setelah konflik global, termasuk ketegangan Venezuela–AS. Pergeseran sentimen tercermin pada volatilitas, pergerakan USD, yield obligasi, dan rotasi sektor saham.
Memahami indikator risk-on risk-off dan menyesuaikan eksposur serta ukuran posisi secara disiplin membantu investor merespons konflik internasional dengan lebih rasional.
Gunakan perubahan sentimen global ini sebagai konteks dalam mengatur strategi, bukan pemicu keputusan impulsif. Sesuaikan alokasi dan eksekusi trading kamu di aplikasi Gotrade Indonesia sesuai kondisi risk-on risk-off, modal mulai Rp15.000 saja.
FAQ
1. Apa itu risk-on dan risk-off?
Risk-on adalah kondisi investor bersedia mengambil risiko, risk-off adalah kondisi investor menghindari risiko.
2. Indikator apa yang menunjukkan risk-off?
Volatilitas naik, USD menguat, dan yield obligasi pemerintah turun.
3. Bagaimana investor sebaiknya merespons perubahan sentimen?
Dengan menyesuaikan eksposur dan ukuran posisi secara bertahap dan disiplin.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











