Saham China kembali jadi sorotan di 2026. Di tengah perang tarif AS-China yang memanas dan risiko delisting ADR, tiga emiten besar, Alibaba (BABA), Baidu (BIDU), dan NIO, justru menunjukkan perkembangan bisnis yang menarik.
Artikel ini membahas prospek saham Tiongkok di 2026, risiko geopolitik yang perlu dipahami, serta perbandingan ketiga saham ini untuk membantu kamu menentukan pilihan.
Prospek Saham China di 2026
China menetapkan target pertumbuhan GDP 4,5-5% untuk 2026, level terendah sejak pemerintah mulai mempublikasikan angka ini di awal 1990-an.
Meski targetnya konservatif, melansir NerdWallet, ada beberapa katalis positif yang mendorong saham-saham China:
AI dan cloud menjadi mesin pertumbuhan baru. Alibaba dan Baidu memimpin pengembangan AI di China. Alibaba Cloud tumbuh 34% YoY di kuartal terakhir, sementara Baidu AI Cloud mencatat pendapatan RMB 10 miliar ($1,4 miliar). Kedua perusahaan berlomba membangun data center dan model AI untuk melayani pasar domestik yang masif.
Sektor EV tetap ekspansif. NIO baru saja mencetak laba GAAP pertamanya di Q1 2026 dengan deliveries naik 98% YoY, meskipun pasar otomotif China secara keseluruhan turun 17%. Ini menunjukkan bahwa pemain EV premium masih bisa tumbuh di tengah perlambatan.
Stimulus pemerintah. Beijing terus mendorong konsumsi domestik dan investasi teknologi sebagai pilar ekonomi, memberikan dukungan struktural bagi perusahaan seperti BABA, BIDU, dan NIO.
Gejolak Geopolitik: Tarif, Delisting, dan Risiko ADR
Investasi di saham China lewat ADR (American Depositary Receipt) di bursa AS bukan tanpa risiko. Berikut tiga risiko utama di 2026:
Tarif AS-China melonjak
AS memberlakukan tarif hingga 145% untuk barang China, dan China membalas dengan tarif 125% untuk barang AS. Meski ada pengecualian sementara untuk produk teknologi (smartphone, PC, peralatan semikonduktor), ketidakpastian tetap tinggi.
Risiko delisting ADR
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa delisting saham China dari bursa AS "masih di atas meja." Saat ini sekitar 280 perusahaan China terdaftar di bursa AS dengan total market cap ~$880 miliar. Goldman Sachs, dikutip Bloomberg, memperkirakan skenario decoupling ekstrem bisa memicu penjualan $830 miliar di saham China.
Mitigasi: dual listing Hong Kong
Kabar baiknya, BABA dan BIDU sudah memiliki dual listing di Hong Kong (9988.HK dan 9888.HK). Jika terjadi delisting dari AS, investor bisa mengkonversi ADR ke saham Hong Kong. NIO juga sudah listing di Hong Kong (9866.HK) dan Singapore (NIO).
Perbandingan 3 Saham Kuat: BABA vs BIDU vs NIO
| Metrik | BABA (Alibaba) | BIDU (Baidu) | NIO |
|---|---|---|---|
| Harga (Apr 2026) | ~$135 | ~$108 | ~$6 |
| Market Cap | ~$320B | ~$38B | ~$12B |
| Revenue FY2025 | ¥996B (+5,9% YoY) | ~¥130B | ~¥65B |
| Pertumbuhan kunci | Cloud +34% YoY | AI Cloud +34% YoY | Deliveries +98% YoY |
| Laba bersih | ¥129,5B (+62% YoY) | Positif, stabil | Laba GAAP pertama Q1 2026 |
| Forward P/E | ~11x | ~12x | N/A (baru profit) |
| Dividen/Buyback | Ada | $5B buyback program | Tidak ada |
| Rating analis | Strong Buy (PT $185) | Strong Buy | Buy (PT $6,73) |
| Dual listing HK | Ya (9988.HK) | Ya (9888.HK) | Ya (9866.HK) |
Alibaba (BABA): raksasa e-commerce yang bertransformasi ke AI
Alibaba bukan lagi sekadar perusahaan e-commerce. Dengan Qwen AI yang sudah diunduh 300 juta kali secara global dan Alibaba Cloud yang tumbuh 34%, perusahaan ini bertransformasi menjadi pemain AI terdepan di China. Valuasi forward P/E ~11x tergolong murah untuk skala bisnisnya.
Baidu (BIDU): taruhan pada AI dan robotaxi
Baidu memimpin di dua area masa depan: AI Cloud dan autonomous driving. Apollo Go sudah melayani 20+ juta ride kumulatif, dan robotaxi RT6 tanpa setir mendekati profitabilitas di Wuhan dan Beijing. Ditambah program buyback $5 miliar dan kebijakan dividen perdana, BIDU semakin menarik untuk investor jangka panjang.
NIO: EV premium yang akhirnya untung
NIO mencetak sejarah dengan laba GAAP pertama ($40,4 juta) di Q1 2026, didukung 83.465 unit deliveries (+98% YoY). Peluncuran SUV baru ES9 menambah momentum. Namun, perlu dicatat bahwa NIO masih menanggung rugi bersih $2,14 miliar di full year 2025, jadi konsistensi profit perlu dibuktikan.
Cara Beli Saham China lewat ADR
Investor Indonesia bisa membeli ketiga saham ini lewat ADR di bursa AS. BABA, BIDU, dan NIO semuanya tersedia di NYSE/NASDAQ dan bisa dibeli mulai dari US$1 lewat fitur fractional shares.
Keuntungan membeli lewat ADR: denominasi dollar AS, likuiditas tinggi, dan laporan keuangan mengikuti standar SEC. Sebagai mitigasi risiko delisting, pantau status dual listing Hong Kong dari masing-masing emiten.
Eksplorasi saham China dan 6.000+ saham AS lainnya langsung dari aplikasi Gotrade.
Kesimpulan
Saham China di 2026 menawarkan kombinasi yang menarik antara pertumbuhan bisnis dan risiko geopolitik. Alibaba, Baidu, dan NIO sama-sama punya cerita yang relevan, mulai dari AI, cloud, hingga EV, tetapi masing-masing datang dengan profil risiko yang berbeda.
Alibaba terlihat paling seimbang untuk investor yang mencari skala bisnis besar, valuasi yang relatif murah, dan eksposur ke transformasi AI. Baidu lebih cocok untuk investor yang ingin exposure lebih fokus ke AI Cloud dan robotaxi, sementara NIO lebih cocok untuk investor yang siap menerima volatilitas lebih tinggi demi potensi turnaround yang lebih besar.
Yang perlu diingat, investasi di saham China lewat ADR tidak bisa dilepaskan dari risiko tarif, sentimen AS-China, dan isu delisting. Karena itu, pendekatan yang lebih masuk akal bukan sekadar mengejar hype, tetapi memilih emiten dengan fundamental yang jelas, memahami mitigasi dual listing, dan masuk secara bertahap sesuai profil risiko.
Kalau kamu ingin mulai eksplor saham China seperti BABA, BIDU, dan NIO, kamu bisa membelinya langsung lewat Gotrade mulai dari US$1 dengan fitur fractional shares.
FAQ
Apakah saham China aman untuk investor Indonesia di 2026?
Relatif aman karena BABA, BIDU, dan NIO sudah dual listing di Hong Kong sebagai mitigasi risiko delisting.
Saham China mana yang paling cocok untuk pemula?
BABA paling cocok karena valuasi murah, bisnis terdiversifikasi, dan likuiditas tertinggi di antara ketiganya.
Apakah tarif AS-China mempengaruhi harga saham China?
Ya, eskalasi tarif langsung menekan sentimen dan harga, tapi dampaknya bervariasi tergantung eksposur bisnis ke pasar AS.












