Saham Farmasi AS 2026: Peluang Investasi di Tengah Gejolak Tarif

Erwanto Khusuma
Erwanto Khusuma
Tim Gotrade
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade

Ringkasan

  • Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan tarif hingga 100% untuk obat bermerek impor, efektif mulai Juli 2026
  • Kebijakan ini mendorong perusahaan farmasi besar seperti JNJ, LLY, MRK, ABBV, dan PFE untuk merelokasi produksi ke AS
  • Investasi di saham farmasi AS bisa menjadi peluang menarik, tapi kamu perlu memahami perbedaan risiko antara farmasi konvensional dan biotech
Saham Farmasi AS 2026: Peluang Investasi di Tengah Gejolak Tarif

Share this article

Sektor farmasi AS sering menarik perhatian investor karena punya kombinasi antara kebutuhan yang relatif stabil, pipeline inovasi, dan posisi penting dalam ekonomi global. Saat banyak sektor sangat bergantung pada siklus ekonomi, farmasi cenderung tetap relevan karena permintaan obat dan layanan kesehatan tidak mudah hilang.

Namun, sektor ini tidak hanya dipengaruhi oleh hasil riset atau peluncuran produk baru. Kebijakan perdagangan juga bisa mengubah arah persaingan, biaya produksi, dan margin perusahaan dalam waktu yang cukup cepat.

Itulah kenapa kebijakan tarif impor obat di AS perlu diperhatikan investor. Ketika biaya impor naik dan rantai pasok mulai bergeser, tidak semua perusahaan farmasi berada di posisi yang sama. Makanya, tidak cukup hanya melihat nama besar atau dividend yield, tetapi juga perlu membaca posisi supply chain dan dampak kebijakan terhadap prospek masing-masing emiten.

Kenapa Saham Farmasi Jadi Sorotan di 2026?

Sebelum isu tarif muncul, sektor farmasi AS sebenarnya sudah lebih dulu menarik. Salah satu alasannya adalah populasi AS yang menua, sehingga permintaan obat-obatan dan pengeluaran kesehatan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Artinya, sektor ini bukan sekadar tema jangka pendek. Ada permintaan jangka panjang yang didorong faktor demografi, sehingga farmasi tetap punya tempat penting dalam portfolio investor yang ingin exposure ke kebutuhan dasar.

Di sisi lain, inovasi juga tetap menjadi pendorong utama. Eli Lilly, misalnya, sedang mendapat perhatian karena pipeline untuk obesitas, diabetes, dan Alzheimer dinilai sangat kuat. Ini penting karena pertumbuhan di sektor farmasi sering datang dari kombinasi bisnis yang mapan dan terapi baru yang membuka pasar besar.

Tarif impor kemudian menambah lapisan analisis baru. Perusahaan yang sudah bergerak membangun kapasitas produksi di AS kini berada di posisi yang lebih baik, sementara perusahaan yang masih sangat bergantung pada impor menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.

Dampak Tarif ke Rantai Pasok Farmasi Global

Berdasarkan laporan Guardian, tarif 100% ini dijadwalkan berlaku mulai 31 Juli 2026 untuk perusahaan besar, dan 29 September 2026 untuk perusahaan lainnya. Namun, kebijakannya tidak sepenuhnya hitam putih karena ada beberapa pengecualian penting.

Perusahaan dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, atau Swiss dikenakan tarif 15%. Perusahaan yang punya rencana membangun fasilitas produksi di AS dikenakan tarif 20%. Lalu, perusahaan yang menandatangani perjanjian penetapan harga dengan pemerintah AS sekaligus berkomitmen memindahkan produksi ke AS bisa mendapat tarif 0% hingga Januari 2029.

Struktur ini menunjukkan bahwa tarif tersebut bukan hanya hukuman bagi importir. Kebijakan ini juga menjadi alat untuk mendorong relokasi manufaktur ke AS.

Respons industrinya juga sudah terlihat. Sekitar 400 miliar dolar AS disebut telah disiapkan oleh perusahaan farmasi besar untuk membangun atau memperluas fasilitas manufaktur di AS. Johnson & Johnson, Merck, dan AbbVie termasuk nama yang sudah mengumumkan investasi besar di pabrik domestik.

Bagi investor, ini berarti perusahaan yang lebih cepat beradaptasi bisa mendapat keuntungan kompetitif, menurut Yahoo Finance. Mereka bukan hanya lebih siap menghadapi tarif, tetapi juga bisa memperkuat posisi operasionalnya dalam jangka panjang.

Meski begitu, risikonya belum hilang. Empat dari sepuluh obat generik di AS masih menggunakan bahan aktif dari China. Kalau hubungan dagang AS-China memburuk lebih jauh, gangguan pasokan ini bisa memengaruhi ketersediaan dan harga obat secara lebih luas.

5 Saham Farmasi AS yang Layak Dicermati

Ada lima nama large-cap pharma yang layak masuk watchlist, yaitu Johnson & Johnson, Pfizer, Eli Lilly, AbbVie, dan Merck. Kelimanya besar, dikenal luas, dan punya karakter investasi yang berbeda.

Johnson & Johnson (JNJ)

JNJ cocok untuk investor yang mencari saham defensif. Perusahaan ini punya rekam jejak panjang dalam menaikkan dividen dan bisnisnya juga tidak bergantung pada satu produk saja.

Karena itu, JNJ sering dilihat sebagai pilihan yang lebih stabil. Saham ini lebih cocok untuk investor yang ingin menjaga keseimbangan portfolio daripada mengejar pertumbuhan agresif.

Pfizer (PFE)

Pfizer menarik karena dividend yield-nya tinggi. Namun, perusahaan ini masih berada dalam fase penyesuaian setelah pendapatan terkait COVID menurun.

Artinya, investor perlu melihat lebih dari sekadar yield. Yang perlu dipantau adalah apakah pipeline baru Pfizer cukup kuat untuk menopang pertumbuhan beberapa tahun ke depan.

Eli Lilly (LLY)

LLY adalah nama growth paling kuat di daftar ini. Pasar memberi perhatian besar pada obat obesitas dan pipeline yang berpotensi membuka pasar bernilai sangat besar.

Valuasinya memang tinggi. Tetapi untuk investor yang mencari pertumbuhan dan siap menerima valuasi premium, LLY tetap menarik.

AbbVie (ABBV)

AbbVie sempat banyak dipantau karena ketergantungannya pada Humira. Namun sekarang pasar mulai melihat keberhasilan transisinya ke Skyrizi dan Rinvoq.

Ini membuat ABBV menarik untuk investor yang ingin kombinasi income dan pertumbuhan yang lebih seimbang.

Merck (MRK)

Merck masih ditopang oleh Keytruda, salah satu imunoterapi kanker terbesar di dunia. Selain itu, Winrevair memberi tambahan cerita pertumbuhan baru untuk ke depan.

Karena itu, MRK cocok untuk investor yang ingin saham farmasi dengan profil yang lebih seimbang antara defensif dan growth moderat.

Kalau kamu ingin mulai memantau saham-saham seperti ini, kamu bisa mengaksesnya secara bertahap lewat Gotrade sesuai profil risiko dan strategi investasimu.

Farmasi vs Biotech: Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?

Farmasi dan biotech sering terlihat mirip, tetapi profil risikonya sangat berbeda. Saham farmasi konvensional seperti JNJ, PFE, dan MRK punya pendapatan yang lebih mapan, neraca yang lebih kuat, dan eksposur yang tidak terlalu bergantung pada satu hasil uji klinis.

Biotech biasanya lebih agresif. Banyak emiten di area ini belum punya produk komersial yang matang, atau masih bertumpu pada satu atau dua kandidat obat. Kalau hasil uji klinis bagus, sahamnya bisa naik tajam. Kalau gagal, penurunannya juga bisa sangat dalam.

Untuk investor pemula, large-cap pharma biasanya lebih masuk akal sebagai titik awal. Setelah paham ritme sektornya, barulah sebagian kecil portfolio bisa dialokasikan ke biotech sebagai posisi yang lebih spekulatif.

Cara Menyikapi Sektor Ini sebagai Investor

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, jangan hanya fokus pada demand kesehatan, karena kebijakan tarif kini ikut menentukan profitabilitas dan daya saing perusahaan.

Kedua, lihat siapa yang lebih cepat beradaptasi dengan relokasi manufaktur ke AS. Ini bisa menjadi pembeda penting di dalam sektor yang sama.

Ketiga, bedakan saham defensif dan saham growth. JNJ dan MRK bisa lebih cocok untuk stabilitas, sementara LLY lebih cocok untuk investor yang mencari pertumbuhan.

Kesimpulan

Tarif impor Trump telah mengubah dinamika sektor farmasi AS. Perusahaan yang lebih cepat membangun kapasitas produksi di AS punya posisi yang lebih baik untuk jangka panjang, sementara perusahaan yang lebih lambat beradaptasi menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.

Bagi investor Indonesia, ini bukan momen untuk bereaksi berlebihan. Yang lebih penting adalah memilih saham farmasi berdasarkan fundamental, posisi supply chain, dan karakter masing-masing emiten. Dengan pendekatan seperti itu, kamu bisa masuk ke sektor ini dengan lebih tenang dan lebih terukur.

FAQ

Apakah tarif 100% Trump berlaku untuk semua obat impor?
Tidak, karena kebijakan ini terutama menyasar obat bermerek tertentu, sementara generik dan biosimilar masih dikecualikan untuk sementara.

Apakah investor Indonesia bisa membeli saham farmasi AS seperti JNJ atau LLY?
Ya, investor Indonesia bisa mengakses saham farmasi AS melalui platform seperti Gotrade, termasuk lewat fractional shares.

Saham farmasi mana yang lebih cocok untuk investor pemula?
JNJ dan MRK biasanya lebih cocok untuk pemula karena bisnisnya lebih mapan dan profil risikonya lebih defensif.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade