Ada lebih dari satu cara untuk berinvestasi di silver. Masing-masing memberi eksposur ke pergerakan harga perak, tapi dengan mekanisme, biaya, risiko, dan karakteristik yang sangat berbeda. Memilih instrumen yang tepat bukan soal mana yang "paling bagus" secara absolut, melainkan mana yang paling sesuai dengan tujuan dan profil risikomu.
Tiga Cara Masuk ke Silver
Sebelum memilih, penting untuk memahami apa yang sebenarnya dibeli di masing-masing instrumen:
- Silver fisik: kamu memiliki logam perak secara langsung dalam bentuk batangan atau koin. Kepemilikan nyata, tapi butuh penyimpanan dan likuiditasnya terbatas
- Silver ETF (SLV, SIVR): kamu membeli unit ETF yang diperdagangkan di bursa AS seperti saham biasa. ETF ini didukung perak fisik yang disimpan oleh kustodian, tapi kamu tidak memiliki peraknya secara langsung
- Saham tambang silver: kamu membeli saham perusahaan yang memproduksi perak. Eksposur ke harga silver bersifat tidak langsung karena dipengaruhi juga oleh faktor operasional perusahaan
SLV dan SIVR: Cara Kerja Silver ETF
SLV (iShares Silver Trust) adalah silver ETF terbesar dan paling likuid di pasar AS. Setiap unit SLV mewakili sejumlah tertentu perak fisik yang disimpan oleh kustodian. Nilai SLV bergerak mengikuti harga spot perak global, dikurangi expense ratio tahunan yang sangat kecil.
SIVR (abrdn Physical Silver Shares ETF) bekerja dengan mekanisme serupa tapi dikelola oleh pihak berbeda. Keduanya masuk kategori physically backed ETF, artinya ada perak fisik nyata di balik setiap unitnya.
Keunggulan silver ETF dibanding fisik:
- Bisa dibeli dan dijual intraday seperti saham biasa dengan likuiditas yang jauh lebih tinggi
- Tidak ada biaya penyimpanan fisik, hanya expense ratio yang sudah termasuk dalam harga unit
- Bisa diakses dari mana saja melalui platform seperti Gotrade tanpa perlu mengelola logam fisik
Kelemahannya: kamu tidak memiliki perak secara fisik, ada risiko tracking error kecil terhadap harga spot, dan ETF tidak menghasilkan dividen atau yield apapun.
Saham Tambang Silver: Keuntungan Leverage
Saham perusahaan tambang perak seperti First Majestic Silver (AG), Pan American Silver (PAAS), atau Wheaton Precious Metals (WPM) memberikan eksposur ke harga silver dengan efek leverage alami.
Saat harga silver naik 10%, biaya produksi tambang tetap relatif stabil, sehingga profit margin perusahaan bisa meningkat jauh lebih dari 10%. Ini membuat saham tambang cenderung bergerak lebih besar dari pergerakan harga silver itu sendiri, baik ke atas maupun ke bawah.
Potensi tambahan yang tidak dimiliki ETF atau fisik:
- Sebagian saham tambang membayar dividen yang bisa menjadi income rutin
- Ada potensi rerating valuasi jika perusahaan menemukan cadangan baru atau meningkatkan efisiensi operasional
Tapi leverage ini bekerja dua arah. Saham tambang juga membawa risiko spesifik perusahaan seperti manajemen buruk, masalah operasional, atau utang berlebih yang bisa menekan harga sahamnya bahkan saat harga silver sedang naik.
Risiko Masing-Masing Pendekatan
| Silver Fisik | Silver ETF | Saham Tambang | |
|---|---|---|---|
| Eksposur ke harga silver | Langsung | Hampir langsung | Tidak langsung, ter-leverage |
| Likuiditas | Rendah | Tinggi | Tinggi |
| Risiko tambahan | Keamanan fisik | Tracking error kecil | Risiko bisnis perusahaan |
| Potensi income | Tidak ada | Tidak ada | Dividen (sebagian) |
| Kompleksitas | Rendah | Rendah | Sedang hingga tinggi |
Risiko ETF silver yang paling perlu dipahami adalah volatilitas silver yang jauh lebih tinggi dari emas. Saat pasar risk-off, silver bisa terkoreksi lebih dalam dari yang banyak investor ekspektasikan karena komponen industrialnya ikut tertekan bersamaan dengan sisi investasinya.
Ingin mulai eksposur ke silver dari pasar AS? Di Gotrade, SLV dan berbagai instrumen silver lainnya tersedia dan bisa diakses mulai dari US$1.
Mana yang Cocok untuk Investor Indonesia di Gotrade?
Bagi investor Indonesia yang mengakses pasar AS melalui Gotrade, pilihan paling praktis dan relevan adalah SLV atau saham tambang silver, bukan fisik. Silver fisik hampir tidak bisa diakses secara efisien dari Indonesia dengan likuiditas yang memadai untuk kebutuhan investasi.
Panduan memilih berdasarkan tujuan:
- Ingin eksposur bersih ke harga silver dengan risiko minimal: SLV adalah pilihan paling straightforward. Pergerakannya hampir identik dengan harga spot silver, likuiditasnya tinggi, dan bisa diakses dengan modal kecil
- Ingin potensi return lebih besar dari kenaikan harga silver: saham tambang seperti AG atau PAAS memberikan leverage alami. Cocok untuk investor yang sudah memahami risiko saham individual dan siap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi
- Ingin diversifikasi ke ekosistem silver secara luas: kombinasi SLV dan satu atau dua saham tambang memberikan eksposur ganda, harga komoditas langsung sekaligus potensi upside dari operasional perusahaan tambang
Memahami risiko masing-masing instrumen komoditas sebelum memilih adalah langkah yang tidak bisa dilewatkan, terutama untuk silver yang karakternya lebih volatil dibanding emas.
Kesimpulan
Silver ETF SLV, silver fisik, dan saham tambang adalah tiga jalur berbeda menuju satu aset yang sama. ETF adalah titik masuk paling praktis dengan likuiditas tertinggi. Saham tambang menawarkan potensi upside lebih besar tapi dengan lapisan risiko tambahan. Silver fisik relevan untuk penyimpanan nilai jangka sangat panjang tapi tidak efisien untuk investor yang membutuhkan fleksibilitas.
Pilih instrumen yang sesuai dengan cara kamu ingin mengelola risiko, bukan sekadar yang terlihat paling menarik di atas kertas.
Siap mulai eksposur ke silver? Gunakan aplikasi Gotrade dan akses SLV serta saham tambang silver dari pasar AS mulai dari US$1.
FAQ
Apakah SLV dan SIVR berbeda secara signifikan?
Keduanya physically backed dengan mekanisme serupa. Perbedaan utama ada di pengelola dan expense ratio. SLV lebih likuid karena AUM dan volume hariannya jauh lebih besar.
Apakah saham tambang silver selalu naik lebih besar dari SLV saat harga silver naik?
Tidak selalu. Leverage bersifat dua arah dan bergantung pada kondisi operasional perusahaan. Ada periode harga silver naik tapi saham tambang tertinggal karena faktor biaya produksi atau masalah internal.
Berapa alokasi ideal silver dalam portofolio?
Alokasi 3-7% sudah cukup memberikan eksposur tanpa membuat volatilitas silver mendominasi portofolio secara keseluruhan.











