Strategi Diversifikasi dengan Silver: Alokasi, Risiko, dan Instrumen

Strategi Diversifikasi dengan Silver: Alokasi, Risiko, dan Instrumen

Share this article

Dalam dunia investasi komoditas, silver sering hidup di bayang-bayang emas. Tapi justru di situlah peluangnya. Silver memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki emas, dan ketika digunakan dengan tepat, silver bisa menjadi elemen diversifikasi aset yang efektif dalam portofolio jangka menengah hingga panjang.

Artikel ini membahas bagaimana silver bisa diintegrasikan ke dalam strategi diversifikasi yang terstruktur, bukan sekadar dibeli karena "lebih murah dari emas."

Strategi Diversifikasi dengan Silver

1. Silver sebagai high beta emas

Silver sering disebut sebagai high beta emas, artinya pergerakannya cenderung mengikuti arah emas, tapi dengan amplitudo yang jauh lebih besar. Saat emas naik 5%, silver bisa naik 10-15%. Sebaliknya, saat emas turun, silver bisa terkoreksi lebih dalam.

Karakteristik ini membuat silver menarik bagi investor yang ingin eksposur ke logam mulia dengan potensi upside lebih besar, sekaligus memahami bahwa risikonya juga lebih tinggi. Volatilitas harga silver yang lebih agresif dibanding emas berasal dari kombinasi dua faktor: silver adalah aset investasi sekaligus komoditas industri, sehingga pergerakannya dipengaruhi sentimen pasar keuangan dan kondisi ekonomi riil secara bersamaan.

2. Alokasi ideal silver dalam portofolio

Silver sebaiknya tidak mendominasi portofolio. Fungsinya adalah sebagai pelengkap, bukan komponen utama.

Panduan umum yang sering digunakan oleh investor:

  • Portofolio konservatif: 3-5% dari total aset
  • Portofolio moderat: 5-10% dari total aset
  • Portofolio agresif: hingga 15%, tapi perlu manajemen risiko yang ketat

Proporsi ini juga bergantung pada sudah seberapa besar alokasi emas dalam portofolio. Jika emas sudah mengisi 10%, menambah silver 10% lagi akan membuat eksposur ke logam mulia terlalu dominan dan mengurangi efektivitas diversifikasi secara keseluruhan.

3. Risiko volatilitas yang perlu diantisipasi

Silver bukan aset yang nyaman untuk semua investor. Risiko utama investasi ETF silver yang perlu dipahami sejak awal antara lain:

  • Fluktuasi harga yang sangat tajam dalam waktu singkat, bahkan tanpa katalis yang jelas
  • Sensitivitas tinggi terhadap data ekonomi global, terutama yang berkaitan dengan aktivitas manufaktur
  • Potensi drawdown yang lebih dalam dibanding emas saat terjadi risk-off di pasar

Memahami risiko ini bukan untuk menghindari silver, melainkan untuk memastikan keputusan alokasi diambil dengan ekspektasi yang realistis, bukan karena terbawa sentimen positif sesaat.

4. Peran industrial demand dalam pergerakan harga

Sekitar 50% permintaan silver global berasal dari sektor industri, mulai dari panel surya, komponen elektronik, hingga kendaraan listrik. Ini adalah faktor pembeda terbesar antara silver dan emas.

Ketika ekonomi global sedang ekspansi dan aktivitas manufaktur meningkat, industrial demand silver ikut terdorong naik dan bisa menjadi katalis tambahan yang mendorong harga melampaui pergerakan emas. Sebaliknya, saat PMI manufaktur global melemah atau ada tanda-tanda perlambatan ekonomi, silver bisa tertekan lebih dalam dari emas karena industrial demand-nya berkurang.

Ini berarti investor silver perlu memantau dua hal sekaligus: sentimen pasar keuangan global dan kesehatan sektor industri, terutama di China dan AS sebagai konsumen terbesar.

Tertarik mulai diversifikasi ke silver melalui ETF? Di Gotrade, kamu bisa mengakses ETF silver seperti SLV dari pasar AS mulai dari US$1.

5. Kombinasi silver dan emas sebagai pasangan diversifikasi

Silver dan emas tidak harus dipilih salah satu. Keduanya bisa bekerja bersama dalam portofolio dengan peran yang berbeda.

  • Emas mengisi peran defensif: menjaga nilai saat inflasi meningkat dan pasar bergejolak.
  • Silver mengisi peran semi-agresif: memberikan potensi return lebih besar saat kondisi ekonomi membaik dan permintaan industri naik.

Kombinasi keduanya menciptakan lapisan diversifikasi yang lebih kaya, karena korelasinya terhadap saham berbeda dan keduanya sering bergerak dengan ritme yang tidak identik satu sama lain. Keuntungan dan risiko investasi perak yang perlu dipahami sebelum mengombinasikannya dengan emas dalam satu portofolio adalah titik awal yang baik sebelum menentukan proporsi akhir.

6. Instrumen silver yang tersedia untuk investor Indonesia

Ada beberapa cara untuk mendapatkan eksposur ke silver tanpa harus membeli logam fisik:

  • ETF silver seperti SLV (iShares Silver Trust) paling likuid, diperdagangkan di bursa AS seperti saham biasa, bisa diakses melalui aplikasi Gotrade
  • Saham perusahaan tambang silver memberikan eksposur tidak langsung ke harga silver, tapi dipengaruhi juga oleh faktor operasional perusahaan
  • Silver fisik batangan atau koin, cocok untuk penyimpanan nilai jangka panjang, tapi kurang likuid dan perlu biaya penyimpanan

Untuk investor yang ingin fleksibilitas dan efisiensi biaya, ETF SLV adalah pilihan yang paling banyak digunakan karena langsung terkait harga silver spot dengan likuiditas tinggi.

7. Evaluasi berkala dan penyesuaian alokasi

Silver adalah aset yang perlu dipantau lebih aktif dibanding emas karena volatilitasnya yang lebih tinggi. Lakukan evaluasi minimal setiap kuartal untuk memastikan bobotnya dalam portofolio tidak bergeser terlalu jauh dari target awal.

Jika silver naik tajam dan bobotnya sudah melampaui target alokasi, pertimbangkan untuk rebalancing dengan mengurangi sebagian posisi atau menahan pembelian baru. Sebaliknya, jika silver terkoreksi signifikan tapi fundamental pendorongnya masih solid, koreksi ini bisa menjadi kesempatan untuk menambah posisi secara bertahap.

Kesimpulan

Silver adalah instrumen diversifikasi aset yang menarik, tapi bukan untuk semua investor. Volatilitasnya yang tinggi, sensitivitasnya terhadap siklus ekonomi, dan karakternya sebagai high beta emas membuatnya lebih cocok bagi investor yang memahami risikonya dan memiliki horizon investasi yang jelas.

Gunakan silver sebagai pelengkap, bukan sebagai inti portofolio. Kombinasikan dengan emas untuk mendapatkan diversifikasi logam mulia yang lebih seimbang, dan evaluasi alokasi secara berkala agar tetap sesuai dengan tujuan finansial jangka panjangmu.

Siap mulai diversifikasi ke silver dengan cara yang lebih terstruktur? Download Gotrade sekarang dan akses ETF silver dari pasar AS mulai dari US$1, terdaftar dan diawasi OJK.

FAQ

Apakah silver cocok untuk investor pemula?

Bisa, tapi pemula perlu siap menghadapi volatilitas yang jauh lebih tinggi dibanding emas. Mulai dengan porsi kecil sebagai pelengkap portofolio, bukan komponen utama.

Apakah silver selalu bergerak searah dengan emas?

Tidak selalu. Silver cenderung mengikuti arah emas, tapi dengan intensitas yang berbeda. Dalam beberapa fase pasar, silver bisa outperform atau underperform emas secara signifikan tergantung kondisi industri global.

ETF silver atau silver fisik, mana yang lebih cocok untuk diversifikasi?

ETF silver lebih praktis untuk diversifikasi karena likuid, tidak perlu biaya penyimpanan, dan bisa diperdagangkan kapan saja selama jam bursa. Silver fisik lebih cocok untuk penyimpanan nilai jangka sangat panjang.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade