Terminal Value: Konsep DCF yang Menentukan Nilai Saham

Erwanto Khusuma
Erwanto Khusuma
Tim Gotrade
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade

Ringkasan

  • Terminal value merangkum semua arus kas setelah periode proyeksi DCF dan mendominasi 60-80% valuasi.
  • Dua metode utama: Gordon Growth Model (rumus perpetuitas) dan Exit Multiple (kelipatan industri).
  • Perubahan 1% pada asumsi pertumbuhan bisa menggeser valuasi saham hingga 40%.
Terminal Value: Konsep DCF yang Menentukan Nilai Saham

Share this article

Ketika analis Wall Street menilai saham seperti Apple (AAPL) atau Microsoft (MSFT) menggunakan model DCF, satu angka tunggal sering menentukan 60 hingga 80 persen dari total terminal value saham yang dihasilkan.

Itulah terminal value, konsep yang wajib dipahami siapa pun yang serius mengevaluasi valuasi saham jangka panjang. Pahami selengkapnya berikut ini.

Apa Itu Terminal Value dalam Model DCF?

Model Discounted Cash Flow (DCF) memproyeksikan arus kas bebas perusahaan selama periode tertentu, biasanya 5 hingga 10 tahun ke depan.

Di luar rentang proyeksi itu, analis tidak lagi membuat perkiraan tahun per tahun. Sebagai gantinya, mereka menggunakan satu angka yang merangkum semua arus kas dari tahun ke-11 hingga waktu tak terbatas, inilah yang disebut terminal value.

Menurut Corporate Finance Institute, terminal value secara konsisten menyumbang 60 hingga 80 persen dari total enterprise value dalam model DCF standar.

Artinya: sebagian besar nilai saham yang kamu beli hari ini bukan berasal dari proyeksi 5 tahun ke depan, melainkan dari asumsi tentang apa yang terjadi setelah itu.

Dua Metode Hitung Terminal Value

Gordon Growth Model (metode perpetuitas)

Metode ini mengasumsikan perusahaan tumbuh dengan laju konstan selamanya setelah periode proyeksi berakhir.

Rumusnya:

Terminal Value = FCF Tahun Terakhir x (1 + g) / (WACC - g)

Di mana g adalah tingkat pertumbuhan perpetuitas dan WACC adalah biaya modal rata-rata tertimbang.

Sebagai contoh: jika arus kas bebas Apple di tahun ke-10 adalah USD 142 miliar, tingkat pertumbuhan jangka panjang 2,5%, dan WACC 8%, maka terminal value-nya sekitar USD 2.646 miliar.

Tingkat pertumbuhan yang digunakan biasanya 2 hingga 4 persen, mendekati pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara. Asumsi yang terlalu agresif di sini akan menggelembungkan valuasi secara signifikan.

Exit Multiple Method (metode kelipatan)

Metode ini menghitung terminal value berdasarkan kelipatan valuasi yang berlaku di industri, paling umum menggunakan EV/EBITDA.

Terminal Value = EBITDA Tahun Terakhir x EV/EBITDA Multiple

Jika sebuah perusahaan teknologi diperdagangkan di kelipatan EV/EBITDA 20x, dan EBITDA tahun proyeksi terakhir adalah USD 50 miliar, maka terminal value-nya adalah USD 1 triliun.

Metode ini lebih disukai praktisi industri karena mengacu pada data pasar yang dapat diobservasi secara langsung, bukan asumsi pertumbuhan perpetuitas yang bersifat hipotetis.

Kedua metode idealnya dijalankan bersamaan sebagai cross-check. Jika hasilnya sangat berbeda, ada asumsi yang perlu diperiksa ulang.

Kenapa Terminal Value Mendominasi Hasil DCF

Ini pertanyaan yang sering mengejutkan investor pemula: mengapa angka yang mewakili "sisa waktu tak terbatas" justru lebih besar daripada proyeksi 10 tahun yang sudah detail?

Jawabannya ada pada matematika diskonto.

Arus kas 10 tahun ke depan, meskipun diproyeksikan secara rinci, tetap memiliki nilai present value yang terbatas karena waktu memberi dampak besar pada diskontonya. Terminal value, di sisi lain, merangkum puluhan bahkan ratusan tahun arus kas dalam satu angka, dan ketika itu didiskon kembali ke hari ini, angkanya tetap dominan.

Seperti dijelaskan di panduan DCF, nilai intrinsik saham adalah gabungan present value dari arus kas proyeksi ditambah present value dari terminal value. Dalam praktiknya, komponen kedua itulah yang menentukan apakah saham terlihat murah atau mahal.

Ini juga yang membuat terminal value sangat sensitif terhadap asumsi. Dilansir Wall Street Prep, perubahan 1 persen pada tingkat pertumbuhan perpetuitas bisa menggeser estimasi nilai perusahaan sebesar 20 hingga 40 persen.

Sudah punya saham di portofoliomu? Cek apakah posisimu selaras dengan nilai jangka panjangnya. Buka Gotrade, evaluasi portofoliomu sekarang, dan mulai beli saham AS fraksional dari hanya US$1 tanpa komisi.

Cara Aplikasikan ke Evaluasi Saham di Gotrade

Sebagai investor ritel, kamu tidak perlu membangun model DCF penuh dari nol. Yang penting adalah memahami asumsi terminal value di balik setiap valuasi yang kamu baca.

Periksa asumsi pertumbuhan jangka panjang

Ketika membaca laporan analis untuk saham seperti Alphabet (GOOGL) atau NVIDIA (NVDA), selalu tanyakan: berapa tingkat pertumbuhan yang mereka gunakan untuk terminal value?

Jika angkanya di atas 5 persen untuk perusahaan yang sudah dewasa, valuasi itu kemungkinan besar terlalu optimistis.

Gunakan dua metode sebagai sanity check

Jalankan Gordon Growth Model dan Exit Multiple secara bersamaan. Jika Gordon Growth memberi valuasi USD 200 per saham tapi Exit Multiple hanya USD 130, selisih itu sinyal bahwa asumsi pertumbuhan terlalu agresif, atau kelipatan industri sedang premium.

Lakukan analisis sensitivitas

Ubah asumsi tingkat pertumbuhan dari 2% ke 4%, atau tingkat diskonto dari 8% ke 10%. Lihat seberapa besar perubahan itu menggeser hasil valuasi. Jika perubahan kecil menghasilkan swing harga yang ekstrem, model tersebut sangat bergantung pada asumsi yang tidak pasti.

Pahami batas DCF untuk saham tertentu

DCF dengan terminal value bekerja paling baik untuk perusahaan dengan arus kas yang dapat diprediksi: perusahaan teknologi mature, consumer staples, atau utilitas. Untuk startup tahap awal atau perusahaan dengan arus kas negatif, pendekatan ini lebih bersifat spekulatif.

Untuk memperdalam pemahaman tentang komponen valuasi lainnya, baca juga penjelasan Free Cash Flow di Gotrade karena FCF adalah input utama dalam setiap perhitungan terminal value.

Kesimpulan

Terminal value bukan sekadar angka pelengkap di akhir model DCF, ini adalah variabel paling berpengaruh dalam menentukan nilai intrinsik saham.

Memahami cara kerjanya, asumsi apa yang menggerakkannya, dan bagaimana membandingkan dua metode utamanya (Gordon Growth vs Exit Multiple) adalah bekal yang membuat kamu bisa membaca laporan analis secara lebih kritis dan tidak mudah terjebak pada valuasi yang terlihat menarik tapi dibangun di atas asumsi yang tidak realistis.

Lewat aplikasi Gotrade, kamu bisa mulai membangun portofolio saham AS, termasuk saham-saham yang sering jadi subjek analisis DCF seperti Apple, Microsoft, dan NVIDIA, mulai dari US$1 secara fraksional, tanpa komisi.

Evaluasi posisimu, pilih saham dengan valuasi yang masuk akal, dan investasikan dengan lebih percaya diri.

FAQ

Apa itu terminal value dalam DCF?
Terminal value adalah estimasi nilai perusahaan di luar periode proyeksi DCF, merangkum semua arus kas dari tahun ke-11 hingga tak terbatas dalam satu angka.

Berapa persen terminal value dari total valuasi DCF?
Dalam model DCF standar, terminal value biasanya menyumbang 60 hingga 80 persen dari total enterprise value perusahaan.

Apa bedanya Gordon Growth Model dan Exit Multiple?
Gordon Growth mengasumsikan pertumbuhan konstan selamanya menggunakan rumus matematis, sedangkan Exit Multiple menggunakan kelipatan valuasi industri yang bisa diobservasi di pasar.

Apa risiko terbesar dalam menghitung terminal value?
Asumsi tingkat pertumbuhan yang terlalu tinggi, perubahan 1 persen saja bisa menggeser valuasi perusahaan sebesar 20 hingga 40 persen.

Apakah DCF cocok untuk semua saham?
DCF dengan terminal value paling akurat untuk perusahaan dengan arus kas yang stabil dan dapat diprediksi, kurang tepat untuk startup atau perusahaan arus kas negatif.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade