HPP: Arti, Kepanjangan, Rumus, dan Cara Menghitungnya

Ringkasan Gotrade
- HPP adalah singkatan dari Harga Pokok Penjualan. Dalam bahasa Inggris, konsep ini dikenal sebagai Cost of Goods Sold (COGS), yaitu biaya dari barang yang telah terjual dalam suatu periode.
- Untuk bisnis dagang, rumus HPP sederhana adalah persediaan awal + pembelian bersih − persediaan akhir.
- HPP digunakan untuk menghitung laba kotor dan dapat membantu investor memahami perubahan biaya dan margin perusahaan.
Sebuah perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp1 miliar dalam satu periode. Apakah berarti perusahaan menghasilkan keuntungan sebesar Rp1 miliar? Belum tentu.
Membeli atau membuat produk yang berhasil dijual memerlukan biaya. HPP adalah salah satu angka yang menunjukkan biaya tersebut.
Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah biaya yang terkait dengan barang yang telah terjual dalam jangka waktu tertentu. Konsep ini biasanya disebut Cost of Goods Sold atau COGS dalam laporan keuangan berbahasa Inggris.
Memahami HPP bermanfaat bagi banyak orang selain pemilik bisnis. Investor juga dapat menggunakan angka ini untuk mengetahui hubungan antara penjualan, biaya produk, dan profitabilitas perusahaan.
Apa Itu HPP?
Harga Pokok Penjualan, juga dikenal sebagai HPP, adalah biaya yang terkait dengan barang yang telah dijual perusahaan dalam jangka waktu tertentu.
Dalam bahasa Inggris, HPP biasanya disebut COGS atau Cost of Goods Sold.
Hubungan antara pendapatan, HPP, dan laba kotor dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:
Pendapatan
↓ dikurangi
HPP / COGS
↓
Laba Kotor
Misalnya, perusahaan memiliki HPP Rp600 juta dan pendapatan Rp1 miliar.
Maka:
Laba Kotor = Pendapatan − HPP
= Rp1 miliar − Rp600 juta
= Rp400 juta
Menurut AccountingCoach, biaya produk yang telah terjual dalam jangka waktu tertentu disebut sebagai cost of goods sold. Jumlah ini kemudian dikurangkan dari penjualan untuk menghasilkan gross profit atau laba kotor.
Artinya, HPP tidak mencakup semua biaya bisnis. Biasanya, biaya seperti pemasaran, administrasi, dan bunga dicatat secara terpisah.
HPP, Harga Pokok Produksi atau Harga Pokok Penjualan?
Istilah HPP dapat membingungkan karena di Indonesia singkatan yang sama dapat digunakan untuk dua istilah berbeda:
Harga Pokok Penjualan
Harga Pokok Produksi
Meskipun keduanya terkait, artinya berbeda.
Harga Pokok Produksi menunjukkan biaya yang diperlukan untuk membuat produk hingga siap untuk dijual. Bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead produksi dapat termasuk dalam biaya ini.
Harga Pokok Penjualan, di sisi lain, lebih berfokus pada biaya produk yang telah terjual dalam jangka waktu tertentu.
Misalnya, sebuah perusahaan membuat 1.000 produk, tetapi hanya menjual 700.
Proses produksi melibatkan biaya untuk menghasilkan seluruh produk. Namun, fokus utama dalam menghitung Harga Pokok Penjualan dalam laporan laba rugi adalah biaya yang terkait dengan produk yang telah terjual.
Penggunaan singkatan HPP sendiri memang belum sepenuhnya konsisten. Ada yang menggunakan HPP sebagai Harga Pokok Produksi. Sementara itu, ada pula yang menggunakan HPP sebagai Harga Pokok Penjualan.
Karena konteksnya adalah laporan keuangan dan analisis perusahaan, HPP merujuk pada Harga Pokok Penjualan dalam artikel ini.
Apa Komponen HPP?
Komponen HPP bervariasi tergantung pada jenis bisnis. Tiga komponen umum digunakan dalam perhitungan perusahaan dagang.
1. Persediaan Awal
Nilai barang yang tersedia pada awal periode disebut sebagai persediaan awal.
Pada awal tahun, misalnya, sebuah perusahaan memiliki stok barang senilai Rp200 juta. Dalam perhitungan HPP, angka ini digunakan sebagai persediaan awal.
2. Pembelian Bersih
Nilai barang yang dibeli selama periode setelah memperhitungkan retur dan potongan pembelian disebut pembelian bersih.
Jumlah barang yang tersedia untuk dijual meningkat sebagai akibat dari pembelian ini.
3. Persediaan Akhir
Nilai barang yang masih tersisa dan belum terjual pada akhir periode disebut sebagai persediaan akhir.
Karena belum terjual selama periode tersebut, barang yang masih menjadi persediaan akhir tidak masuk ke HPP.
Menurut AccountingCoach, COGS terkait erat dengan persediaan karena biaya produk diakui sebagai bagian dari barang terjual ketika penjualan terkait terjadi.
Rumus HPP dan Cara Menghitungnya
Untuk perusahaan dagang, rumus HPP sederhana adalah:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir
Misalnya, bisnis memiliki:
Persediaan awal: Rp200 juta
Pembelian bersih: Rp800 juta
Persediaan akhir: Rp250 juta
Maka:
HPP = Rp200 juta + Rp800 juta − Rp250 juta
HPP = Rp750 juta
Artinya, selama periode tersebut, biaya barang yang terjual adalah Rp750 juta.
Sekarang, anggap saja bisnis tersebut menghasilkan pendapatan sebesar Rp1,2 miliar.
Maka laba kotornya adalah:
Laba Kotor = Pendapatan − HPP
= Rp1,2 miliar − Rp750 juta
= Rp450 juta
Contoh ini menunjukkan bahwa angka penjualan tidak cukup untuk mengukur hasil perusahaan. Kita juga harus tahu berapa biaya yang diperlukan untuk menghasilkan penjualan tersebut.
Perbedaan antara HPP, Harga Jual, Modal, dan Biaya Operasional
HPP biasanya dianggap sama dengan harga jual atau bahkan seluruh modal perusahaan. Namun, setiap istilah memiliki definisi yang berbeda.
Istilah | Artinya |
HPP | Biaya barang yang telah terjual |
Harga jual | Harga yang dibayar pelanggan |
Modal | Dana atau sumber daya yang digunakan untuk menjalankan bisnis |
Biaya operasional | Biaya yang terkait dengan menjalankan bisnis di luar biaya langsung produk yang dijual |
Misalnya, barang dengan HPP Rp60.000 dijual dengan harga Rp100.000.
Maka:
Harga jual: Rp100.000
HPP: Rp60.000
Laba kotor: Rp40.000
Namun, laba kotor sebesar Rp40.000 masih belum mencerminkan laba bersih.
Perusahaan mungkin masih mengeluarkan biaya tambahan, seperti pemasaran, gaji karyawan administrasi, sewa kantor, bunga, dan pajak.
Apa Arti HPP dalam Laporan Keuangan Perusahaan?
Istilah Harga Pokok Penjualan mungkin muncul secara langsung dalam laporan keuangan perusahaan Indonesia.
Namun, nama akun yang digunakan dapat berbeda saat membaca laporan perusahaan AS.
Beberapa istilah yang sering digunakan adalah:
Cost of Goods Sold
Cost of Sales
Cost of Products Sold
Cost of Revenue
Cost of Services
Menurut AccountingCoach, biaya yang terkait dengan pendapatan perusahaan dapat digambarkan dengan istilah seperti cost of sales, cost of goods sold, dan cost of revenue.
Model bisnis biasanya memengaruhi perbedaan istilah ini.
Perusahaan yang menjual barang fisik dapat menggunakan cost of goods sold. Sementara itu, bisnis yang bergerak dalam bidang teknologi atau jasa dapat menggunakan istilah cost of revenue atau cost of services.
Akibatnya, kamu tidak selalu perlu mencari akun bernama COGS ketika membaca laporan keuangan saham AS. Periksa bagaimana laporan laba rugi disusun dan bagaimana bisnis menentukan biaya yang terkait langsung dengan pendapatannya.
Mengapa HPP Penting untuk Analisis Saham?
Investor dapat memanfaatkan HPP untuk memahami biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam menghasilkan penjualan.
Beberapa hal dapat diperhatikan.
1. Mengidentifikasi Laba Kotor
Untuk menghitung laba kotor, HPP digunakan.
Gross Profit = Revenue − HPP
Sebagai contoh:
Revenue = US$1 miliar
HPP = US$600 juta
Maka:
Gross Profit = US$400 juta
Dengan asumsi faktor lain sama, semakin besar HPP relatif terhadap revenue, semakin sedikit pendapatan yang tersisa sebagai laba kotor.
2. Membantu Menghitung Gross Margin
Kamu dapat menghitung gross margin setelah mengetahui laba kotor.
Gross Margin = Gross Profit ÷ Revenue × 100%
Dengan menggunakan contoh sebelumnya:
Gross Margin = US$400 juta ÷ US$1 miliar × 100%
= 40%
Artinya, setelah biaya barang yang terjual diperhitungkan, sekitar 40% pendapatan perusahaan masih tersisa sebagai laba kotor.
3. Membantu Memahami Perubahan Struktur Biaya
Banyak faktor dapat memengaruhi perubahan HPP, termasuk:
harga bahan baku
biaya tenaga kerja produksi
biaya logistik
perubahan volume produksi
supplier
perubahan jenis produk yang dijual
HPP sebaiknya tidak dibaca secara terpisah.
HPP yang turun belum tentu menunjukkan bahwa kondisi perusahaan lebih baik. Bisa saja perusahaan juga mengalami penurunan jumlah produk yang dijual.
Akibatnya, investor dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dengan membandingkan HPP dengan revenue, gross profit, dan gross margin.
Contoh Membaca HPP dalam Analisis Perusahaan
Misalnya, perusahaan mencatat angka berikut:
Tahun 1 | Tahun 2 | |
Revenue | US$1 miliar | US$1,2 miliar |
HPP | US$600 juta | US$780 juta |
Gross Profit | US$400 juta | US$420 juta |
Gross Margin | 40% | 35% |
Karena revenue naik dari US$1 miliar menjadi US$1,2 miliar atau sekitar 20%, perusahaan tampaknya mengalami pertumbuhan.
HPP, di sisi lain, meningkat sebesar 30% dari US$600 juta menjadi US$780 juta.
Akibatnya, gross profit hanya naik dari US$400 juta menjadi US$420 juta, sementara gross margin turun dari 40% menjadi 35%.
Investor kemudian dapat mempelajari lebih lanjut penyebab perubahan tersebut.
Sebagai contoh:
Apakah harga bahan baku naik?
Apakah biaya produksi meningkat?
Apakah perusahaan menjual lebih banyak produk dengan margin rendah?
Apakah harga jual berubah?
Apakah tekanan biaya baru muncul atau telah berlangsung selama beberapa kuartal?
Ini menunjukkan bahwa HPP bukan hanya angka yang dapat dimasukkan ke dalam rumus. Investor dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang perubahan yang terjadi pada struktur biaya dan profitabilitas bisnis.
Kesimpulan
Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah biaya yang terkait dengan barang yang telah terjual dalam jangka waktu tertentu. Konsep ini biasanya disebut Cost of Goods Sold atau COGS dalam laporan keuangan berbahasa Inggris.
Rumus sederhana untuk perusahaan dagang adalah:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir
HPP kemudian digunakan untuk menghitung gross profit dan gross margin. Karena itu, investor dapat menggunakan angka ini untuk mengetahui bagaimana perubahan biaya memengaruhi profitabilitas bisnis.
HPP sebaiknya tidak dianalisis secara terpisah. Lihat juga bagaimana revenue, gross profit, dan gross margin perusahaan berubah dari satu periode ke periode berikutnya.
Kamu dapat memantau fundamental dan laporan keuangan saham AS melalui Gotrade.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














