Ryan Kiryanto, ekonom senior LPPI, menyatakan kondisi eksternal tidak menguntungkan dengan ketidakpastian global yang tinggi. Konflik Timur Tengah menciptakan sentimen negatif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Kiryanto juga mencatat PMI manufaktur turun dari 53 ke sekitar 50, mendekati ambang batas antara ekspansi dan kontraksi. Penurunan ini menjadi sinyal perlambatan ekonomi yang perlu diantisipasi oleh bank sentral.
Josua Pardede, Chief Economist Permatabank, menekankan ketenangan pasar global pekan ini belum cukup kuat untuk menggeser sikap BI ke arah pemangkasan suku bunga. Stabilitas rupiah dan pengelolaan inflasi tetap menjadi prioritas kebijakan moneter.
Keputusan menahan suku bunga juga mempertimbangkan mitigasi risiko geopolitik dan harga energi. Daya tarik aset domestik perlu dijaga agar arus modal asing tidak berbalik keluar.
Di sisi global, Kevin Warsh yang dinominasikan sebagai Ketua The Fed bersaksi di depan Komite Perbankan Senat AS pada Selasa (21/04). Warsh berulang kali menegaskan komitmennya untuk bertindak independen jika dikonfirmasi.
Warsh menolak tuduhan bahwa dirinya akan menjadi alat kepentingan Trump dalam menurunkan suku bunga. Nominasi ini mengusulkan perubahan struktural pada proses pengambilan keputusan The Fed termasuk kerangka baru untuk mengatasi inflasi persisten.
Ekonom sepakat pemangkasan suku bunga BI tetap tidak mungkin selama tekanan eksternal berlanjut. Rupiah yang belum menunjukkan penguatan signifikan menjadi faktor tambahan yang menahan ruang pelonggaran moneter.
Sumber: Kumparan, Bloomberg Technoz












