Gotrade News - Amerika Serikat secara resmi memulai blokade angkatan laut di Selat Hormuz pada Senin (14/04), menghalangi akses kapal ke pelabuhan Iran. Langkah ini mendorong harga minyak dunia melonjak tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent naik 4,4% ke level $99,36 per barel. Harga WTI turut menguat 2,6% ke $99,08 per barel, dengan lonjakan awal menyentuh $150 per barel untuk pengiriman ke Eropa.
Key Takeaways:
Brent crude naik 4,4% ke $99,36/barel pasca blokade Selat Hormuz dimulai secara resmi
Selat Hormuz normalnya dilintasi 100+ kapal per hari, kini hanya 34 kapal menurut klaim Trump
Negosiasi baru dibuka setelah perundingan Islamabad gagal, namun Iran belum konfirmasi partisipasi
Selat Hormuz merupakan jalur kritis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Menurut Reuters, jumlah kapal yang melintas anjlok dari lebih dari 100 per hari menjadi hanya 34 kapal pada hari Minggu, berdasarkan klaim Presiden Trump yang belum terverifikasi.
Trump menyatakan di Gedung Putih, "Kami dihubungi pagi ini oleh orang-orang yang tepat, dan mereka ingin membuat kesepakatan." Pernyataan ini muncul meski negosiasi di Islamabad gagal akhir pekan lalu, dengan Iran mengklaim kegagalan akibat tindakan AS.
Dampak ke Pasar Energi dan Konsumen
Menurut IEA, negara-negara anggota sudah siap melepas cadangan strategis jika situasi memburuk. Harga bensin dan diesel di AS telah mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022, sementara biaya energi fosil di Eropa naik sebesar 22 miliar euro sejak konflik dimulai.
Arab Saudi dilaporkan mengurangi pasokan minyak ke China untuk bulan Mei, memperparah tekanan pada rantai pasok global. Analis Helima Croft dari RBC Capital Markets menyebutkan bahwa pasar berjangka bisa sejajar dengan pasar fisik jika blokade diterapkan penuh.
OPEC juga memangkas proyeksi permintaan global kuartal dua sebesar 500.000 barel per hari. Sektor energi global kini berada dalam ketidakpastian yang tinggi, diperkuat oleh pernyataan Trump yang saling bertentangan soal arah kebijakan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa dunia akan segera merindukan harga bahan bakar $4-5 per galon. Wakil Presiden AS JD Vance kembali dari Islamabad tanpa kesepakatan setelah 21 jam perundingan gagal menghasilkan titik temu.
Saham Apa yang Terpengaruh
Ketidakpastian ini menggerakkan dua sisi pasar secara bersamaan: sektor energi melonjak sementara pasar lebih luas bergejolak. Exxon Mobil dan Chevron berpotensi diuntungkan dari harga minyak tinggi, sementara Halliburton dan Schlumberger sebagai penyedia jasa ladang minyak juga ikut diperhatikan pasar.
Di sisi pertahanan, Lockheed Martin menjadi salah satu saham yang disorot investor karena eskalasi militer cenderung mendorong anggaran pertahanan AS. Pasar bergerak dua arah, dan itulah yang membuat instrumen seperti options relevan di situasi ini.
Di Gotrade, kamu bisa trading options saham AS langsung dari aplikasi, sehingga bisa berpotensi untung baik saat pasar naik maupun turun. Volatilitas seperti saat ini justru menciptakan peluang bagi trader yang memahami cara kerja instrumen ini.
Direktur Mizuho Bob Yawger menyebut masih ada harapan gencatan senjata karena komunikasi tetap berjalan. Namun selama blokade belum dicabut, volatilitas harga energi diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.