Bank Sentral Kompak Naikkan Bunga, Rupiah Menguat

Key Takeaways
The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75%-4%, sementara BOJ naik ke 1,25%, tertinggi sejak 1995.
Rupiah menguat ke kisaran Rp17.700 per dolar AS, ditopang reli obligasi dan saham Asia.
Survei bank sentral menunjukkan tren de-dolarisasi berlanjut lewat akumulasi cadangan emas.
Gotrade News - Nilai tukar rupiah bergerak menguat pada perdagangan Jumat (18/9/2026) di tengah gelombang pengetatan kebijakan bank sentral global, setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75%-4% pada pertengahan pekan ini dan Bank of Japan (BOJ) menyusul dengan kenaikan ke level tertinggi dalam tiga dekade. Dilansir Bloomberg Technoz, rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS, dengan kontrak non-deliverable forward (NDF) sempat menguat ke Rp17.778 dari Rp17.801.
Penguatan rupiah ditopang sentimen global yang disebut agak kondusif, seiring reli pasar saham dan obligasi Asia setelah keputusan suku bunga The Fed yang sesuai ekspektasi pasar. Harga minyak mentah yang menurun turut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan sekaligus menopang pasar surat utang domestik. Di balik pergerakan harian ini, tema besar pasar valuta asing tetap sama, yakni arah suku bunga acuan bank sentral utama dan tren diversifikasi cadangan devisa dunia menjauhi dolar AS.
The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%
Menurut pernyataan resmi Federal Reserve, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menaikkan target suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada 16 September 2026. Bank sentral AS menyatakan langkah tersebut akan mendukung kembalinya inflasi ke target 2% secara lebih tepat waktu, di tengah aktivitas ekonomi yang menurut FOMC masih berekspansi pada laju yang solid.
Kenaikan suku bunga di AS umumnya menjadi angin segar bagi margin bunga bersih perbankan besar. Di sisi lain, dolar AS yang cenderung menguat seiring kebijakan hawkish juga berpotensi menekan pendapatan luar negeri perusahaan multinasional dengan eksposur global besar seperti Apple (AAPL).
BOJ ke Level Tertinggi Sejak April 1995
Bank of Japan mengambil arah serupa. Menurut data Trading Economics, BOJ menaikkan suku bunga jangka pendek utamanya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% melalui pemungutan suara 7-2 pada pertemuan September 2026, naik dari sebelumnya 1,0% dan menjadi level tertinggi sejak April 1995. Melansir Investing.com, kenaikan ini didorong meningkatnya risiko inflasi, termasuk tingginya biaya energi, yen yang lemah, serta permintaan yang terkait dengan kecerdasan buatan.
Menariknya, yen justru melemah bersama dolar Singapura di antara mata uang Asia pada sesi ini, sementara yuan offshore, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan menguat, seperti dilaporkan Bloomberg Technoz. Hal ini mencerminkan bahwa selisih suku bunga dengan AS masih menjadi faktor dominan bagi arah yen dalam jangka pendek.
Rupiah dan Imbal Hasil Obligasi Domestik
Di pasar domestik, sentimen positif tecermin pada penurunan imbal hasil surat utang negara. Dilansir Bloomberg Technoz, imbal hasil obligasi tenor 1 tahun turun 8,8 basis poin ke 6,74% dari sebelumnya 6,8%, sementara tenor 10 tahun turun tipis 0,4 basis poin ke 7,15% dari 7,16%. Kombinasi harga minyak yang melandai dan aliran masuk ke aset Asia menjadi penopang utama rupiah pada perdagangan hari ini.
Bank Sentral | Suku Bunga Baru | Perubahan | Catatan |
|---|---|---|---|
Federal Reserve (AS) | 3,75%-4% | +25 bps | Menopang target inflasi 2% |
Bank of Japan (Jepang) | 1,25% | +25 bps | Tertinggi sejak April 1995 |
Tren De-Dolarisasi Bank Sentral Dunia
Di luar pergerakan suku bunga jangka pendek, arah struktural cadangan devisa global menjadi tema yang tidak kalah penting. Menurut survei World Gold Council yang dikutip Nikkei Asia, sebanyak 84% responden bank sentral memperkirakan kepemilikan emas mereka akan meningkat dalam lima tahun ke depan, sementara porsi kepemilikan dolar AS diperkirakan menurun.
Akumulasi emas oleh bank sentral ini menjadi katalis jangka panjang bagi produsen emas. Dinamika ini menggarisbawahi bahwa penguatan dolar akibat kenaikan suku bunga The Fed berjalan beriringan dengan pergeseran struktural yang lebih lambat menuju diversifikasi cadangan, sebuah nuansa penting dalam membaca arah mata uang global di sisa tahun ini.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














