Gotrade News - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghidupkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga kestabilan pasar surat berharga negara. Skema ini didesain meredam tekanan jual investor asing pada pasar utang domestik.
Purbaya menyebut BSF dirancang sederhana yakni menjaga harga obligasi tetap stabil tanpa mudah goyah oleh aliran modal asing. Mekanisme ini akan dikoordinasikan dengan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
Poin Utama
- BSF dihidupkan kembali untuk menstabilkan pasar SBN dengan dana dari SAL plus institusi di bawah Kemenkeu
- Purbaya menegaskan inflasi April 2026 di 2,4%, jauh dari ambang hiperinflasi
- Investor asing keluar tetapi tekanan dinilai masih terkendali oleh Kemenkeu
Sumber pendanaan BSF tidak hanya berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL). Berbagai instansi dan special mission vehicle (SMV) di bawah Kemenkeu akan ikut berpartisipasi dalam skema stabilisasi pasar.
Purbaya menjelaskan desain lama melibatkan beberapa lembaga termasuk seluruh SMV di bawah Kemenkeu. Lembaga-lembaga itu yang akan turun tangan setiap kali pemerintah perlu menstabilkan harga obligasi.
Saat ini tekanan asing pada pasar SBN dinilai masih dalam batas yang dapat dikelola. Kapasitas pendanaan untuk operasi BSF juga disebut Purbaya tetap memadai pada periode tersebut.
Pada isu inflasi, Purbaya menanggapi narasi hiperinflasi yang sempat ramai di media sosial. Inflasi April 2026 tercatat 2,4%, menurun dari 3,48% pada Maret 2026 menurut data resmi.
Purbaya menyebut bahwa angka 4% sampai 5% pun belum bisa dikategorikan sebagai hiperinflasi. Ia menilai narasi tersebut tidak memahami definisi dasar dari fenomena makroekonomi yang dimaksud.
Kombinasi BSF aktif dan inflasi yang melandai memberi sinyal stabilisasi makro yang lebih konkret. Bagi investor ritel, kerangka ini bisa menjadi acuan saat menilai risiko aset rupiah pada periode mendatang.
Referensi












