Bursa Global Mundur dari Rekor, Minyak Picu Inflasi

Ringkasan
- S&P 500 dan Nasdaq turun 0,22% dari rekor pada 7 Oktober, sementara Nikkei 225 melemah 1,1% sehari kemudian.
- Brent di kisaran US$101 hingga US$102 per barel dan yield Treasury 10 tahun di 5,36% memicu kekhawatiran inflasi.
- Risalah FOMC mencatat sebagian besar peserta melihat kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun, menekan saham AI seperti Nvidia (NVDA).
Gotrade News - Reli bursa saham global tertahan setelah harga minyak yang tetap tinggi kembali memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan suku bunga lanjutan. Pada Rabu (7/10), indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,22% dari level rekor, sementara Dow Jones melemah 0,66% atau 341 poin ke 51.173, menurut Trading Economics.
Tekanan berlanjut ke Asia pada Kamis (8/10). Indeks Nikkei 225 turun 1,1% ke bawah 69.300 dan Topix melemah 1,3% ke kisaran 4.100, sehingga bursa Jepang terkoreksi dua sesi beruntun, seperti dilansir Trading Economics.
Brent Dekati US$102, Yield Treasury Tertinggi Sejak 2002
Dilansir Yahoo Finance, harga minyak Brent naik ke kisaran US$101 hingga US$102 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$90 per barel. Lonjakan energi ini ikut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke 5,36%, tertinggi sejak April 2002, dan tenor 30 tahun ditutup di 5,66%, tertinggi sejak Mei 2002.
Menurut Trading Economics, imbal hasil 10 tahun sempat menyentuh puncak harian 5,365%. Kekhawatiran pasar berpusat pada imbal hasil tinggi yang menekan sektor sensitif kredit dan prospek laba emiten.
Indikator | Pergerakan |
|---|---|
S&P 500 (7/10) | -0,22% |
Nasdaq Composite (7/10) | -0,22% |
Dow Jones (7/10) | -0,66% ke 51.173 |
Nikkei 225 (8/10) | -1,1% ke bawah 69.300 |
Topix (8/10) | -1,3% ke sekitar 4.100 |
Yield Treasury 10 tahun | 5,36% |
Brent | US$101 hingga US$102 per barel |
Risalah FOMC Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Sentimen makin berat setelah risalah rapat FOMC Federal Reserve 15 sampai 16 September dirilis. Dokumen tersebut mencatat sebagian besar peserta menilai kenaikan target suku bunga acuan berikutnya kemungkinan tepat dilakukan sebelum akhir tahun. Risalah itu juga menyebut semakin lama harga energi bertahan tinggi, semakin besar risiko kenaikan biaya di sektor tertentu berubah menjadi tekanan harga yang lebih luas.
Seperti dilaporkan Yahoo Finance, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 17% untuk kenaikan suku bunga pada rapat Oktober. Analis JPMorgan menilai level imbal hasil obligasi saat ini masih "wajar" mengingat ekspektasi terhadap The Fed. Pasar sebelumnya sudah menyorot risalah The Fed yang menguji reli S&P 500 di level rekor.
Saham AI dan Teknologi Ikut Melemah
Menurut Trading Economics, produsen chip AI dan perusahaan hyperscaler mayoritas melemah karena imbal hasil tinggi dan spread kredit yang melebar mulai membebani pesanan. Saham Nvidia (NVDA) turun 0,7%, sementara Meta Platforms (META) melemah 2,4%.
Di Jepang, saham SoftBank Group turun 3% dan Mitsubishi UFJ melemah 1,8%, dilansir Trading Economics. Sebaliknya, Kioxia Holdings naik 2,9% setelah Japan Exchange Group mengumumkan bobot free float perusahaan memori tersebut naik menjadi 50% dari 15%.
Kontrak Berjangka AS Menguat Tipis
Kontrak berjangka saham AS bergerak naik tipis pada Kamis (8/10) karena lonjakan imbal hasil Treasury mereda, dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun kembali di bawah 5,3% dan 5,7%, menurut Trading Economics. Investor kini menanti laporan keuangan PepsiCo, Progressive, dan Delta Air Lines (DAL), serta data klaim pengangguran mingguan.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














