Gotrade News - Harga minyak dunia anjlok hampir 7% pada perdagangan Senin (25/5/2026) di tengah optimisme damai AS-Iran. Brent crude turun 7,24 USD ke level 96,30 USD per barrel, sementara WTI melemah 6,30 USD ke 90,88 USD per barrel.
Penurunan dipicu kabar negosiator utama Iran dan Menteri Luar Negeri Iran tiba di Doha, Qatar untuk perundingan lanjutan. Sentimen positif mendorong Wall Street mencetak rekor baru dan harga emas naik 1,34% ke USD4.570,31 per troy ons.
Key Takeaways
- Brent crude anjlok 7% ke 96,30 USD per barrel imbas harapan damai AS-Iran setelah perang 3 bulan.
- Dow Jones naik 294,04 poin ke 50.579,70 dan S&P 500 menguat 0,37% ke level rekor 7.473,47.
- Emas spot naik 1,34% ke USD4.570,31 per troy ons saat dolar AS bertahan di level terendah satu pekan.
Negosiasi Damai Dorong Sentimen Risk-On
Menurut Kompas Money, nota kesepahaman antara AS dan Iran memberi waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan final. Perang yang telah berlangsung tiga bulan ini menekan rantai pasok energi global dan memicu lonjakan harga minyak sebelumnya.
Phil Flynn dari Price Futures Group menyatakan tampaknya ada harapan minyak akan kembali bergerak melalui Selat Hormuz. Pelaku pasar energi memantau ketat perkembangan negosiasi karena selat tersebut menampung sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Namun analis tetap berhati-hati menyikapi optimisme pasar saat ini. Rory Johnston dari Commodity Context menegaskan pihaknya sudah beberapa kali hampir mencapai kesepakatan tetapi gagal pada detail-detail pembahasan.
Penurunan harga minyak memberi tekanan pada saham produsen energi besar di bursa AS. Saham Exxon Mobil (XOM) dan emiten energi lain menjadi sorotan investor yang memantau dampak penurunan harga minyak terhadap margin perusahaan.
Wall Street Rekor, Emas Tetap Diburu
Dilansir Katadata, Dow Jones Industrial Average ditutup naik 294,04 poin atau 0,58% ke level 50.579,70. S&P 500 menguat 0,37% ke 7.473,47, sementara Nasdaq Composite naik tipis 0,19% ke 26.343,97.
Presiden Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran berjalan dengan baik, meski memperingatkan AS tetap akan mengambil langkah ofensif jika negosiasi gagal. Pernyataan tersebut memberi keyakinan tambahan bagi investor saham berisiko.
Adam Parker dari Trivariate Research memperkirakan pertumbuhan laba korporasi AS mencapai 23% tahun ini dan 16% tahun depan. Proyeksi tersebut memberi landasan fundamental bagi reli pasar saham di tengah valuasi yang sudah tinggi.
Investor yang ingin mendapatkan eksposur ke pasar AS secara luas dapat mencermati SPDR S&P 500 ETF (SPY). Instrumen ini menjadi acuan utama untuk mengikuti pergerakan 500 perusahaan besar di bursa AS dalam satu portofolio.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Juli juga melonjak menjadi 8,5% dari hanya 0,9% sebulan lalu menurut CME FedWatch. Lonjakan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa ekonomi AS tetap solid di tengah meredanya risiko geopolitik.
Melansir IDX Channel, harga emas spot tetap naik 1,34% ke USD4.570,31 per troy ons meski sentimen risk-on menguat. Pasar saham AS tutup karena libur Memorial Day, sementara dolar AS bertahan di level terendah satu pekan.
Kenaikan emas didorong pelemahan dolar dan permintaan investor mempertahankan eksposur lindung nilai. Saham penambang emas seperti VanEck Gold Miners ETF (GDX) menjadi pilihan investor untuk meraih eksposur terhadap pergerakan harga emas global.












