Harga Minyak Bertahan Tinggi di Tengah Perang Iran

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Harga Minyak Bertahan Tinggi di Tengah Perang Iran

Share this article

Gotrade News - Harga minyak mentah bertahan tinggi meski perang melawan Iran terus berlanjut tanpa memicu lonjakan tajam. Pelaku pasar memantau ketat penutupan Selat Hormuz serta sikap Iran terhadap program senjata nuklirnya.

Minyak Brent diperdagangkan di kisaran $97,6 per barel pada 3 Juni 2026 di tengah konflik yang masih berlangsung. Level harga itu tergolong tinggi namun belum menembus ambang ekstrem yang sempat dikhawatirkan banyak investor global.

Key Takeaways

  • Brent berada di sekitar $97,6 per barel pada 3 Juni 2026 meski konflik Iran berlanjut.
  • Brent dan WTI sama-sama naik lebih dari 45% sejak perang dimulai 28 Februari.
  • Analis memperkirakan minyak bertahan di kisaran $90 sampai $100 hingga 2027.

Sejak perang pimpinan AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, harga acuan minyak dunia melonjak signifikan. Dilansir CNBC, Brent dan WTI tercatat sama-sama naik lebih dari 45% sejak awal konflik tersebut.

Baca juga: Five Below Tertekan Prospek Konsumen yang Hati-hati

Kenaikan lebih dari 45% itu tergolong besar untuk komoditas yang menjadi acuan harga energi di seluruh dunia. Namun pergerakan harga dalam beberapa pekan terakhir cenderung mendatar dibandingkan lonjakan tajam yang terjadi pada awal perang.

Meski berada di level tinggi, kenaikan harga ternyata tidak setinggi yang sebelumnya dikhawatirkan oleh banyak pelaku pasar. Sejumlah faktor di sisi pasokan ikut membantu meredam tekanan harga yang membebani pasar minyak global.

Mengapa Minyak Tidak Lebih Tinggi

Persediaan minyak mentah global hingga saat ini dinilai belum mencapai titik kritis yang dapat memicu kepanikan harga. Cadangan strategis dari berbagai negara turut meredam dampak gangguan pasokan yang berasal dari kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Uber Pangkas Tim People 23%, Komit ~$500 Juta ke Nuro

Menurut Axios, konflik kini membeku dalam kebuntuan dengan kondisi Selat Hormuz yang tertutup bagi pelayaran. Situasi tersebut digambarkan sebagai keadaan tanpa perang terbuka, tanpa pasokan minyak, dan tanpa selat yang berfungsi.

Selat Hormuz selama ini merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak yang berasal dari kawasan Teluk Persia. Penutupan jalur itu menahan sebagian pasokan, namun pasar sejauh ini belum menghadapi kelangkaan yang dapat melambungkan harga.

Presiden Trump menyatakan bahwa Iran telah setuju untuk tidak lagi mengejar pengembangan senjata nuklir di masa depan. Pernyataan tersebut dinilai meredakan sebagian besar kekhawatiran investor terhadap potensi risiko eskalasi konflik yang lebih luas.

Berkurangnya kekhawatiran soal eskalasi turut membantu menstabilkan ekspektasi harga minyak di kalangan pelaku pasar saat ini. Investor kini lebih banyak berfokus pada keseimbangan pasokan ketimbang membayangkan skenario gangguan yang bersifat ekstrem.

Para analis memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran $90 sampai $100 per barel dalam beberapa waktu mendatang. Proyeksi itu diperkirakan berlaku hingga sisa tahun 2026 dan berlanjut masuk 2027 meski Selat Hormuz dibuka kembali.

Dampak Pada Sentimen Risiko Pasar

Kekhawatiran terhadap situasi Iran yang masih berlanjut ikut menekan sentimen risiko di bursa saham Amerika Serikat. Faktor geopolitik itu turut berperan mengakhiri reli rekor yang sebelumnya sempat menopang sejumlah indeks utama Wall Street.

Dilansir Investing.com, kegagalan laba Broadcom turut memperberat tekanan jual di pasar. Sentimen negatif pada sektor chip dan kekhawatiran geopolitik bergerak beriringan menekan harga kontrak berjangka saham AS.

Investor di bursa umumnya melacak pergerakan minyak mentah lewat sejumlah instrumen energi yang terdaftar di pasar saham. United States Oil Fund (USO) menjadi salah satu cara populer untuk memantau pergerakan harga minyak secara langsung.

Nama energi besar seperti Exxon Mobil (XOM) juga kerap dijadikan acuan untuk mengukur eksposur terhadap harga minyak. Chevron (CVX) melengkapi daftar nama yang membantu investor mengukur arah sentimen di sektor energi.

Pergerakan harga minyak dan dinamika konflik Iran kemungkinan akan tetap menjadi fokus utama pelaku pasar global. Keduanya bersama-sama memberikan gambaran penting mengenai arah risiko bagi portofolio saham AS pada periode mendatang.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade