Gotrade News - Harga emas dunia melemah dan menyentuh level terendah dalam dua pekan seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Emas spot tercatat di kisaran USD 4.431,39 per ounce, turun sekitar 0,5%, dengan kontrak berjangka Desember di USD 4.481,50 (turun 1,1%). Melansir IDX Channel, emas menyentuh level terendah sejak 19 Agustus 2026, memangkas kinerja Agustus yang sempat menguat sekitar 9,99%, bulan terbaiknya sejak Januari. Pelemahan dipicu komentar hawkish dari Ketua The Fed di simposium Jackson Hole yang mengangkat prospek suku bunga tetap tinggi, ditambah lonjakan harga minyak yang menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi.
Key Takeaways
Emas terkoreksi ke level terendah 2 pekan saat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat.
Peluang kenaikan suku bunga September melonjak ke kisaran 64-65% menurut data CME FedWatch.
Wall Street ditutup melemah, dengan sektor energi menjadi satu-satunya penopang di tengah kenaikan harga minyak.
Pemicu Koreksi Harga Emas dan Ekspektasi Suku Bunga
Penurunan tajam emas terjadi pada perdagangan Jumat, saat harga anjlok lebih dari 3%, koreksi harian terbesar sejak 10 Juni. Dilansir Liputan6, peluang kenaikan suku bunga pada September melonjak ke sekitar 64% berdasarkan data CME FedWatch, naik tajam dari sekitar 36% sebelumnya. Kenaikan ekspektasi ini mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS naik dan menguatkan dolar AS mendekati level tertinggi dua pekan, dua faktor yang menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Tekanan bertambah dari sisi komoditas energi. Harga minyak melonjak lebih dari 3% akibat ketegangan AS-Iran, sehingga kekhawatiran inflasi kembali mengemuka. Menurut Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di StoneX yang dikutip Liputan6, pasar menghadapi kombinasi "suku bunga lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh energi dan berkurangnya persediaan minyak."
"Suku bunga lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh energi dan berkurangnya persediaan minyak." - Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist StoneX
Logam mulia lain ikut tertekan pada sesi tersebut: perak turun 0,4% ke US$66,1351, platinum melemah 1,8% ke US$1.787,63, dan paladium anjlok sekitar 4% ke US$1.365,09. Pelemahan yang merata ini menegaskan bahwa penggerak utamanya bersifat makro, yakni pergeseran ekspektasi kebijakan moneter AS, bukan faktor spesifik satu logam.
Indeks Wall Street
Penutupan
Perubahan
Dow Jones
53.185,90
-374,09 (-0,70%)
S&P 500
7.686,14
-25,62 (-0,33%)
Nasdaq
26.370,89
-31,53 (-0,12%)
Reaksi Wall Street dan Sektor Energi yang Bertahan
Sentimen suku bunga yang sama menekan bursa saham AS. Dilansir Kumparan, ketiga indeks utama Wall Street ditutup melemah pada 31 Agustus 2026, dengan CME FedWatch menunjukkan peluang lebih dari 65% The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi sekaligus mengangkat imbal hasil Treasury, kombinasi yang menekan valuasi saham.
Di tengah pelemahan, sektor energi justru menjadi penopang terbaik. Saham Halliburton (HAL) dan Valero Energy (VLO) masing-masing naik 1,9% mengikuti lonjakan harga minyak. Sebaliknya, sektor utilitas menjadi yang terlemah setelah PG&E anjlok 20,1%. Di luar tema utama, GameStop (GME) naik 2,9% menyusul pengumuman pendanaan untuk restrukturisasi utang.
Bagi investor saham AS, dinamika ini menegaskan bahwa arah kebijakan The Fed masih menjadi penggerak utama pasar. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan valuasi saham dan aset safe-haven, sementara rotasi ke sektor energi menunjukkan bahwa tema inflasi dan komoditas kembali menjadi fokus dalam waktu dekat.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.