Gotrade News - Presiden Trump mendeklarasikan Selat Hormuz "terbuka permanen" pada Selasa (15/04), tetapi data pelayaran menunjukkan realitas yang sangat berbeda. Menurut data Kpler, hanya enam kapal komersial melintas selat pada 13 April, dibandingkan sekitar 60 lintasan per hari sebelum konflik dimulai.
Goldman Sachs memperkirakan aliran minyak Hormuz saat ini sebesar 2,1 juta barel per hari, hanya 10% dari level pra-konflik. Minyak Brent bertahan di $95,10 per barel sementara WTI diperdagangkan di $91,12, keduanya jauh di atas level sebelum perang meskipun ada optimisme diplomatik.
Key Takeaways:
- Lalu lintas Selat Hormuz hanya sekitar 10% dari normal meskipun ada deklarasi Trump bahwa selat sudah terbuka permanen
- Prediction market memberikan probabilitas hanya 26% bahwa Hormuz kembali normal pada 30 April
- Harga minyak tetap tinggi mendekati $95 Brent karena pemilik kapal menuntut verifikasi pembersihan ranjau dan normalisasi asuransi
Kesenjangan antara pernyataan politik dan realitas operasional menjadi dinamika kunci bagi investor energi saat ini. Trump menyebut keunggulan militer AS dan kesepakatan dengan China untuk menghentikan pengiriman senjata ke Iran sebagai alasan deklarasinya, menurut Benzinga.
Enam kapal dilaporkan berbalik ke pelabuhan Iran dalam 24 jam setelah blokade AS, menurut laporan militer yang dikutip Benzinga. Blokade tersebut telah menghentikan total perdagangan laut Iran, menciptakan kebuntuan yang negosiasi diplomatik saja belum bisa selesaikan.
Progres Diplomatik dan Skeptisisme Pasar
Wakil Presiden JD Vance memimpin negosiasi di Islamabad akhir pekan lalu dan menyatakan optimisme soal progres perundingan. Trump mengindikasikan perundingan bisa dilanjutkan dalam dua hari ke depan, menjaga harapan resolusi tetap hidup.
Namun, prediction market mengungkapkan skeptisisme mendalam soal timeline. Data Polymarket menunjukkan hanya 26% probabilitas Hormuz kembali normal pada 30 April, sementara probabilitas Iran menghentikan pengayaan uranium pada 30 Juni hanya 54%.
Analisis Benzinga menyoroti perbedaan kritis yang sedang diperhitungkan pasar. Gencatan senjata tidak sama dengan selat yang terbuka, dan pemilik kapal membutuhkan normalisasi premi asuransi, verifikasi pembersihan ranjau, serta kepastian hukum sebelum melintasi koridor minyak senilai $20 triliun per tahun.
Saham Energi dan Premi Minyak
Pasar Eropa dibuka beragam merespons sinyal diplomatik, dengan Stoxx 600 turun 0,4% pada pertengahan sesi menurut Investing.com. Reaksi yang tertahan mencerminkan ketidakpastian investor soal apakah perundingan akan menghasilkan dampak konkret bagi rantai pasok energi.
ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips tetap menjadi penerima utama harga minyak tinggi di antara perusahaan energi besar yang tercatat di AS. Perusahaan-perusahaan ini menikmati tailwind pendapatan berkelanjutan sejak konflik mendorong minyak mentah di atas $90 per barel.
IMF memperingatkan pada Selasa bahwa guncangan minyak berkepanjangan dari gangguan Hormuz bisa mendorong ekonomi global menuju resesi. Harga impor AS sudah naik 0,8% pada Maret, dengan kenaikan year-over-year 2,1% mencapai level tertinggi sejak akhir 2024.
Bagi investor, posisi ini bersifat kondisional. Saham energi diuntungkan selama minyak tetap tinggi, tetapi terobosan diplomatik yang nyata kemungkinan akan menekan harga minyak tajam dan mengompresi margin sektor energi.
Di Gotrade, kamu bisa trading saham energi seperti ExxonMobil, Chevron, atau ConocoPhillips mulai dari $1 berkat fractional shares. Situasi Hormuz menciptakan peluang sekaligus risiko, sehingga pengaturan ukuran posisi menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Sources:
- Benzinga, [Trump: Hormuz Permanent Open Versus Data Reality](https://www.benzinga.com/markets/commodities/26/04/51828866/trump-hormuz-permanent-open-versus-data-reality), 2026.
- Investing.com, [European Stocks Open Mostly Higher as Trump Signals More Iran Talks](https://www.investing.com/news/stock-market-news/european-stocks-open-mostly-higher-as-trump-signals-more-iran-talks-ahead-4614381), 2026.
- Watcher Guru, [War Oil Shock Could Push World Into Recession IMF Warns](https://watcher.guru/news/war-oil-shock-could-push-world-into-recession-imf-warns), 2026.












