Harga Barang AS Diprediksi Makin Mahal di 2026

Harga Barang AS Diprediksi Makin Mahal di 2026

Share this article

Jakarta, Gotrade News - Meskipun data tenaga kerja Amerika Serikat terlihat kuat, sentimen konsumen terhadap biaya hidup kemungkinan belum akan membaik dalam waktu dekat.

Steve Hanke, Profesor Ekonomi Terapan di Johns Hopkins University, memperingatkan bahwa harga barang akan mencapai rekor tertinggi pada 2026.

Menurut Hanke dalam wawancaranya dengan David Lin, angka pengangguran yang rendah gagal menangkap keresahan ekonomi yang sebenarnya dirasakan warga AS.

Kondisi ini relevan bagi investor karena persepsi inflasi yang tinggi dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi AS dan stabilitas pasar global.


Key Takeaways

  • Steve Hanke memprediksi harga konsumen AS akan mencapai level tertinggi sepanjang masa pada 2026 karena inflasi yang masih positif.
  • Fenomena "money illusion" membuat konsumen lebih fokus pada kenaikan harga barang daripada kenaikan upah riil.
  • Kekuatan Dolar AS ke depan akan sangat bergantung pada seberapa buruk kinerja ekonomi pesaing seperti China dan Eropa.

Baca Juga: Santa Rally Terhenti: Kenapa Wall Street Memerah Jelang 2026?

Jebakan Money Illusion

Hanke menyoroti bahwa rasa frustrasi publik akan berlanjut meskipun lapangan kerja tersedia dan upah nominal naik.

Ia menjelaskan bahwa selama inflasi masih positif, harga konsumen secara definisi akan terus mencetak rekor baru yang memperberat biaya hidup.

Masalah ini diperparah oleh apa yang disebut Hanke sebagai "money illusion" atau ilusi uang.

Fenomena ini terjadi ketika konsumen lebih fokus pada label harga yang terus naik tanpa menyadari penyesuaian pendapatan yang mereka terima.

Hanke memprediksi Indeks Harga Konsumen (CPI) akan kembali menyentuh rekor pada akhir 2026 kecuali terjadi deflasi total.

Menurutnya, hal ini disebabkan oleh jumlah uang beredar yang mulai berakselerasi kembali di sistem ekonomi AS.

Nasib Dolar di Tengah Pelemahan Global

Selain harga domestik, Hanke juga menyoroti prospek mata uang AS yang dipengaruhi faktor eksternal.

Ia menyebut nasib Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund atau Dolar AS di 2026 akan bergantung pada kinerja pasar luar negeri seperti Jepang dan China.

Hanke menilai Jepang masih menghadapi kondisi moneter yang sangat ketat dengan pertumbuhan produktivitas yang datar.

Sementara itu, China menghadapi tantangan berat dalam mencapai target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominalnya.

Hanke memperkirakan negara dengan pasar saham yang sering tercermin dalam iShares China Large-Cap ETF ini akan mengalami resesi de facto karena gagal memenuhi target pertumbuhan.

Di sisi lain, Jerman dan Inggris juga sudah menunjukkan dinamika menyerupai resesi yang dapat menekan sentimen global.

Dalam skenario ini, Dolar AS mungkin tetap kuat bukan karena ekonomi AS sempurna, melainkan karena ekonomi negara maju lainnya berkinerja lebih buruk.

Baca Juga: Warner Bros Siap Tolak Tawaran Masif Paramount, Ini Alasannya

Referensi:


Disclaimer

PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade